Tanggapi Moody’s, Pasar Obligasi Diproyeksi Lebih Tertekan dari IHSG

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih lemah setelah Moody’s Investors Service menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia dan 19 perusahaan besar dari stabil menjadi negatif. Sentimen tersebut diproyeksikan masih menjadi pemberat pergerakan pasar saham dan obligasi.

Pengamat pasar modal, Reydi Octa, menilai, sentimen outlook atau proyeksi negatif dari Moody’s akan tetap mendominasi psikologis pasar, terutama pada awal perdagangan, Senin (9/2/2026). Investor cenderung mengambil posisi defensif sambil menunggu apakah tekanan mereda atau justru berlanjut.

Outlook dari Moody’s menurut saya masih berpotensi menjadi pemberat IHSG, terutama di awal minggu. Investor akan sangat berhati-hati. Rebound bisa saja terjadi, tetapi terbatas dan sangat bergantung pada rilis data ekonomi yang solid,” ujar Reydi kepada Kompas, Minggu (8/2/2026).

Ia menambahkan, saham-saham perbankan dan badan usaha milik negara (BUMN) berpotensi mengalami tekanan lebih besar. Hal ini karena sektor tersebut sensitif terhadap arus keluar modal asing, yang kerap meningkat ketika risiko negara dinilai naik.

Sejalan dengan Reydi, pengamat pasar modal, Martin Aditya, menilai bahwa sentimen pasar dalam jangka pendek memang cenderung negatif. Namun, ia memperkirakan tekanan jual di pasar saham tidak akan terlalu dalam.

”Rating Indonesia masih dipertahankan di level Baa2, yang diturunkan baru outlook-nya. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, koreksi IHSG akibat penurunan outlook biasanya tidak dalam, sekitar 2 persen,” ujar Martin, yang dihubungi terpisah, Minggu.

Menurut Martin, pasar saham sebenarnya sudah lebih dulu terkoreksi cukup tajam akibat isu transparansi yang disoroti lembaga pengindeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Selama satu pekan terakhir (2-6/2/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi cukup dalam sebesar -4,73 persen ke level 7.935 diikuti oleh outflow atau arus keluar dana asing di pasar reguler sebesar Rp 1,2 triliun.

Martin menilai, dampak tambahan dari keputusan Moody’s diperkirakan relatif terbatas.

Moody’s sebelumnya menurunkan prospek peringkat kredit Pemerintah Indonesia dari stabil menjadi negatif meskipun mempertahankan peringkat di level Baa2. Menyusul keputusan tersebut, pada Jumat (6/2/2026), Moody’s kembali menurunkan prospek peringkat kredit 19 perusahaan di Indonesia.

Mayoritas merupakan BUMN, seperti Telkom, Pertamina, PLN, Bank Mandiri, BRI, BNI, BTN, hingga Indonesia Eximbank. Adapun perusahaan swasta yang terdampak antara lain Indofood, United Tractors, BCA, Astra Sedaya Finance, dan Federal International Finance.

Baca JugaMoody’s Turunkan Prospek Peringkat Kredit 19 Perusahaan Indonesia

Moody’s menilai risiko terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia meningkat akibat menurunnya prediktabilitas dan koherensi kebijakan, serta lemahnya komunikasi pemerintah dalam setahun terakhir. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi kemampuan pemerintah dan entitas terkait untuk memperoleh pendanaan dengan biaya yang kompetitif.

Meski demikian, Martin menegaskan bahwa penurunan prospek tersebut tidak mencerminkan penurunan kinerja fundamental perusahaan. ”Ini lebih karena sovereign risk, efek domino dari risiko negara, terutama ke perusahaan besar yang memiliki utang signifikan dalam dolar AS. Secara fundamental, perusahaan-perusahaan itu masih solid,” ujarnya.

Ia memperkirakan IHSG dalam sepekan ke depan akan bergerak sideways tetapi volatil, dengan kisaran 7.665 hingga 8.340.

Dari sisi sektoral, perbankan dan konsumsi dinilai relatif tangguh karena didominasi emiten berkapitalisasi besar dan likuiditas tinggi. Sebaliknya, sektor komoditas diperkirakan lebih berfluktuasi, seiring koreksi harga emas, meskipun batubara dan nikel mendapat sentimen positif dari kebijakan pemotongan produksi oleh Kementerian ESDM.

IHSG dalam sepekan ke depan diperkirakan bergerak di kisaran 7.665 hingga 8.340.

Obligasi dan rupiah lebih tertekan

Berbeda dengan pasar saham, Martin justru menilai pasar obligasi akan menghadapi tekanan yang lebih nyata. Imbal hasil surat berharga negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat telah meningkat cukup signifikan sejak awal 2026.

”Kekhawatiran utama investor asing saat ini adalah defisit APBN. Rilis realisasi sementara APBN yang menunjukkan defisit 2,92 persen, jauh di atas target dan konsensus, menjadi pemicu terdekat,” ujarnya.

Meski begitu, ia berharap tekanan tersebut dapat mereda jika pemerintah mampu meningkatkan penerimaan pajak melalui implementasi sistem Coretax dan penertiban penunggak pajak.

Martin menilai langkah pembenahan yang dilakukan Kementerian Keuangan sudah berada di jalur yang tepat, dengan komitmen menjaga defisit tidak lebih dari 3 persen dan pertumbuhan ekonomi sekitar 6 persen pada 2026.

Untuk sepekan ke depan, imbal hasil atau yield SBN 10 tahun diperkirakan bergerak di kisaran 6,35-6,55 persen atau naik dari level imbal hasil awal tahun yang hanya sekitar 6,1 persen. Kenaikan ini diprediksi seiring sikap wait and see pelaku pasar terhadap respons kebijakan pemerintah pasca-keputusan Moody’s.

Baca JugaTanggapi Rilis Moody’s, Pemerintah Pastikan Tata Kelola Tetap Terjaga

Sementara itu, ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai outlook negatif mencerminkan meningkatnya probabilitas penurunan peringkat kredit jika faktor pemicu tidak segera dibenahi. Moody’s, menurut dia, secara jelas menyoroti masalah prediktabilitas kebijakan dan kualitas tata kelola.

”Pasar langsung menerjemahkan ini sebagai kenaikan premi risiko,” ujar Syafruddin. Dampaknya terlihat pada tekanan terhadap rupiah, pelemahan obligasi dolar, dan IHSG yang masih tertekan setelah sebelumnya dibayangi sentimen negatif dari peringatan MSCI.

Ia menjelaskan, jalur pertama dampak outlook negatif adalah kenaikan biaya pendanaan. Ketika risiko meningkat, investor menuntut imbal hasil lebih tinggi, yang tecermin pada kenaikan yield obligasi dan biaya penerbitan utang baru. Jika kondisi ini bertahan, ruang fiskal pemerintah berpotensi menyempit akibat meningkatnya beban bunga.

Tekanan juga berpotensi menjalar ke nilai tukar rupiah. Pelemahan rupiah dapat memicu inflasi melalui kenaikan harga barang impor dan biaya produksi. ”Ketika kredibilitas kebijakan diragukan, volatilitas meningkat dan transmisi ke inflasi menjadi lebih cepat,” kata Syafruddin.

Ia menambahkan, sikap risk-off investor asing juga memperkuat arus jual di pasar saham. Menurut dia, pasar merespons risiko melalui pergerakan harga, bukan sekadar perdebatan wacana.

Syafruddin mengingatkan, dampak lanjutan dari kondisi tersebut pada akhirnya dapat dirasakan masyarakat melalui tekanan pada daya beli, kenaikan bunga kredit, serta perlambatan penciptaan lapangan kerja akibat tertahannya investasi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini, Senin 9 Februari 2026
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Kalender Akademik 2026 dan Jadwal Libur Lengkap Januari - Juni
• 2 jam lalusuara.com
thumb
Banjir Bandang Hantam Maroko, Menewaskan Empat Orang Termasuk Balita
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Peringati HPN ke-80, Polres Bogor Bersama PWI Gelar Deadline Healing
• 22 jam lalurealita.co
thumb
Rencana Tentatif Penutupan Sementara Ruas Jalan Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung
• 2 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.