Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat program Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Berani Inovasi, Siap Adaptasi Ekspor (UMKM BISA Ekspor) memfasilitasi 1.217 pelaku usaha dengan transaksi 134,87 juta dolar AS atau setara Rp2,27 triliun sepanjang 2025.
"Capaian ini membuktikan UMKM Indonesia punya kesempatan bersaing untuk diterima di pasar internasional," ujar Budi dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Total transaksi itu terdiri atas purchase order sebesar 57,45 juta dolar AS dan potensi transaksi 77,42 juta dolar AS.
Sepanjang 2025, terlaksana 622 kegiatan penjajakan bisnis atau business matching yang terdiri atas 399 sesi pitching (presentasi UMKM ke perwakilan perdagangan RI di luar negeri) dan 223 pertemuan dengan pembeli mancanegara.
Pitching dan business matching sepanjang 2025 paling banyak melibatkan mitra dari Uni Emirat Arab, disusul Hungaria, Hong Kong, Malaysia, dan Korea Selatan.
Produk makanan dan minuman mendominasi pitching dan business matching dengan persentase sebesar 29,99 persen, diikuti produk perkebunan (14,91 persen), furnitur dan dekorasi rumah (10,94 persen), tekstil dan produk tekstil atau fesyen (10,94 persen), serta produk perikanan (5,63 persen).
Selain business matching reguler yang diadakan rutin tiap bulan, UMKM BISA Ekspor juga menginisiasi business matching tematik untuk menggaungkan fasilitasi UMKM yang inklusif.
Business matching tematik Disabilitas digelar pada 26-29 September 2025, mempertemukan UMKM dengan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Santiago di Cile, ITPC Osaka di Jepang, Atase Perdagangan RI Berlin di Jerman, dan Atase Perdagangan RI Bangkok di Thailand untuk mempromosikan produk kerajinan dan fesyen.
Kemendag juga menyelenggarakan dua sesi business matching memperingati Hari Perempuan Internasional (Women’s Day) 2025. Kedua sesi melibatkan perwakilan perdagangan RI di Hungaria dan Inggris yang menampilkan produk makanan ringan, fesyen, dan batik.
"Business matching tematik mendorong partisipasi UMKM penyandang disabilitas dan perempuan pelaku usaha agar produk unggulannya dapat dikenal dan diterima di pasar internasional. Upaya ini adalah komitmen memastikan seluruh pelaku UMKM memiliki kesempatan yang setara untuk mengakses pasar global," jelas Budi.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi menyampaikan program UMKM BISA Ekspor akan terus diperkuat.
Salah satunya, melibatkan secara aktif kedutaan besar RI dan konsulat jenderal RI di berbagai negara tujuan ekspor.
Kemendag telah menyusun rekomendasi 178 pameran internasional yang dapat dimanfaatkan pembina UMKM sebagai referensi dalam mendorong produk binaannya ke pasar ekspor untuk 2026.
"Para pembina UMKM juga mengharapkan masukan yang lebih intensif dari perwakilan perdagangan RI menyangkut kesesuaian produk UMKM dengan karakteristik pasar negara tujuan," kata Puntodewi.
Baca juga: Kemendag bawa UMKM perempuan bidik ritel Inggris
Baca juga: Kemendag fasilitasi UMKM tembus pasar ritel Jepang
Baca juga: Kemendag: Peningkatan kualitas produk lokal perluas pasar global
"Capaian ini membuktikan UMKM Indonesia punya kesempatan bersaing untuk diterima di pasar internasional," ujar Budi dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Total transaksi itu terdiri atas purchase order sebesar 57,45 juta dolar AS dan potensi transaksi 77,42 juta dolar AS.
Sepanjang 2025, terlaksana 622 kegiatan penjajakan bisnis atau business matching yang terdiri atas 399 sesi pitching (presentasi UMKM ke perwakilan perdagangan RI di luar negeri) dan 223 pertemuan dengan pembeli mancanegara.
Pitching dan business matching sepanjang 2025 paling banyak melibatkan mitra dari Uni Emirat Arab, disusul Hungaria, Hong Kong, Malaysia, dan Korea Selatan.
Produk makanan dan minuman mendominasi pitching dan business matching dengan persentase sebesar 29,99 persen, diikuti produk perkebunan (14,91 persen), furnitur dan dekorasi rumah (10,94 persen), tekstil dan produk tekstil atau fesyen (10,94 persen), serta produk perikanan (5,63 persen).
Selain business matching reguler yang diadakan rutin tiap bulan, UMKM BISA Ekspor juga menginisiasi business matching tematik untuk menggaungkan fasilitasi UMKM yang inklusif.
Business matching tematik Disabilitas digelar pada 26-29 September 2025, mempertemukan UMKM dengan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) Santiago di Cile, ITPC Osaka di Jepang, Atase Perdagangan RI Berlin di Jerman, dan Atase Perdagangan RI Bangkok di Thailand untuk mempromosikan produk kerajinan dan fesyen.
Kemendag juga menyelenggarakan dua sesi business matching memperingati Hari Perempuan Internasional (Women’s Day) 2025. Kedua sesi melibatkan perwakilan perdagangan RI di Hungaria dan Inggris yang menampilkan produk makanan ringan, fesyen, dan batik.
"Business matching tematik mendorong partisipasi UMKM penyandang disabilitas dan perempuan pelaku usaha agar produk unggulannya dapat dikenal dan diterima di pasar internasional. Upaya ini adalah komitmen memastikan seluruh pelaku UMKM memiliki kesempatan yang setara untuk mengakses pasar global," jelas Budi.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Fajarini Puntodewi menyampaikan program UMKM BISA Ekspor akan terus diperkuat.
Salah satunya, melibatkan secara aktif kedutaan besar RI dan konsulat jenderal RI di berbagai negara tujuan ekspor.
Kemendag telah menyusun rekomendasi 178 pameran internasional yang dapat dimanfaatkan pembina UMKM sebagai referensi dalam mendorong produk binaannya ke pasar ekspor untuk 2026.
"Para pembina UMKM juga mengharapkan masukan yang lebih intensif dari perwakilan perdagangan RI menyangkut kesesuaian produk UMKM dengan karakteristik pasar negara tujuan," kata Puntodewi.
Baca juga: Kemendag bawa UMKM perempuan bidik ritel Inggris
Baca juga: Kemendag fasilitasi UMKM tembus pasar ritel Jepang
Baca juga: Kemendag: Peningkatan kualitas produk lokal perluas pasar global


