jpnn.com, SURABAYA - Ketua Perhimpunan Peneliti Indonesia (PPI) Jawa Timur Dr Anang MP menegaskan arah baru penelitian daerah yang lebih aplikatif, industrial, dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Penegasan tersebut mengemuka dalam Rapat Kerja Evaluasi Kinerja 2025 PPI Jawa Timur di CWC Kebun Raya Purwodadi, Senin (9/2/2026).
BACA JUGA: Hasnur Group Siapkan Tim dan Tata Kelola Hadapi Tantangan Bisnis 2026
Evaluasi ini bertujuan bukan untuk mencari kesalahan personal maupun lembaga, melainkan untuk mengukur sejauh mana riset para peneliti Jawa Timur masih relevan, berdampak, dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, khususnya petani dan pelaku usaha di sektor pangan dan pertanian.
Ketua Dewan Pakar PPI Korwil Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. Abdul Hamid, M.P., menegaskan peneliti tidak boleh lagi sekadar menjadi penghasil laporan, publikasi, atau prosiding.
BACA JUGA: BPS Sebut Angka Pengangguran Indonesia Turun Jadi 4,71 Persen
“Peneliti hari ini harus hadir sebagai solusi nyata. Jika riset berhenti di meja diskusi dan rak laporan, maka publik berhak mempertanyakan keberadaan kita,” tegas Prof. Hamid yang kini merupakan Peneliti Utama di Badan Riset dan Inovasi Nasional dan BRIDA Jawa Timur.
Evaluasi 2025: Kuat di Publikasi, Lemah di Hilirisasi
BACA JUGA: Vape Disalahgunakan untuk Narkotika, Pelaku Usaha Dorong Tindakan Tegas Aparat
Dalam evaluasi kinerja tahun 2025, PPI Jawa Timur mencatat capaian yang cukup baik dari sisi produktivitas ilmiah.
Namun, dampak ekonomi dan sosial riset dinilai masih belum optimal.
Banyak penelitian belum berujung pada produk, teknologi terapan, atau peningkatan pendapatan masyarakat.
Beberapa persoalan utama yang mengemuka antara lain minimnya riset berbasis kebutuhan industri, keterbatasan demplot lapangan serta kolaborasi yang masih bersifat administratif tanpa alih teknologi nyata.
Riset Harus Masuk Industri Pertanian
Menjawab kondisi tersebut, PPI Jawa Timur menegaskan mulai 2026, riset harus berani masuk ke industri, terutama industri pertanian dan ketahanan pangan yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
“Penelitian harus naik kelas, dari kajian akademik menjadi solusi industri. Jika peneliti takut masuk ke industri, maka inovasi akan mati di tengah jalan,” ujar Prof. Hamid.
Contoh riset yang didorong antara lain pengembangan sistem irigasi presisi berbasis sensor tanah dan cuaca, teknologi pengering jagung hemat energi untuk UMKM pascapanen serta inovasi alat pertanian yang sesuai dengan kondisi lokal Jawa Timur.
Langkah ini dinilai strategis untuk meningkatkan efisiensi produksi, menghadapi tantangan perubahan iklim, serta memperkuat daya saing produk pertanian daerah.
Arah Strategis 2026: Riset Kolaboratif dan Berdampak
Memasuki tahun 2026, PPI Jawa Timur menetapkan sejumlah arah strategis, di antaranya kewajiban setiap peneliti berkontribusi minimal satu riset kolaboratif berdampak daerah, penguatan riset berbasis entrepreneur serta fokus pada isu prioritas seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), ketahanan pangan, bencana, dan kesenjangan wilayah utara–selatan Jawa Timur.
PPI juga mendorong pembangunan demplot berbasis teknologi digital dan Internet of Things (IoT), serta penyusunan database riset unggulan agar penelitian lebih terarah dan tidak tumpang tindih.
Kritik Publik Adalah Konsekuensi
Dalam forum tersebut ditegaskan bahwa kritik publik merupakan konsekuensi yang wajar jika penelitian tidak menunjukkan dampak nyata.
“Tanpa karya yang dirasakan masyarakat, kritik publik akan datang dengan sendirinya. Ini harus dijawab dengan kerja nyata, bukan dengan pembelaan,” tegas Prof. Hamid.
Ketua Umum Perhimpunan Peneliti Indonesia Dr. Anang menambahkan keberhasilan peneliti ke depan harus diukur dari perubahan nyata di lapangan, bukan dari jumlah laporan.
“Ketika hasil riset digunakan petani dan industri, martabat peneliti akan terangkat dengan sendirinya,” ujarnya.
Penggerak Ekosistem Ilmiah Nasional
Ke depan, PPI Jawa Timur juga akan menginisiasi seminar nasional riset terapan serta memperkuat kolaborasi dengan BRIN, BRIDA, dan mitra internasional yang menghasilkan transfer teknologi nyata, bukan sekadar MoU.(fri/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Stafsus Menaker: Kemajuan Industri Diiringi Kesejahteraan Buruh
Redaktur & Reporter : Friederich Batari
