Pengusaha Tembakau Tagih Janji Purbaya soal Tambahan Layer Tarif Cukai Rokok

viva.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

VIVA – Pengusaha tembakau menagih komitmen Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa terkait rencana penambahan layer tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) yang sebelumnya disebut sebagai solusi bagi rokok skala kecil dan menengah yang selama ini berada dalam status "ilegal".

Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya pada Kamis, 15 Januari 2025. Saat itu, ia menyebut kebijakan penambahan layer tarif cukai akan menjadi jalan tengah dan dijanjikan ditindaklanjuti dalam waktu satu minggu. Namun, hampir satu bulan berlalu, belum ada regulasi turunan maupun pengumuman resmi yang merealisasikan rencana tersebut.

Baca Juga :
Geram soal Penonaktifan Peserta PBI oleh BPJS Kesehatan, Purbaya: Uang Keluar, Imej Jelek!
Purbaya Rotasi dan Lantik 40 Pejabat Pajak, Simak Daftar Namanya

Salah satu pengusaha tembakau Madura, HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, Owner Rokok Bintang Sembilan, menyebut keterlambatan kebijakan tersebut berdampak langsung pada pelaku industri tembakau rakyat.

"Kami menagih janji Pak Purbaya. Waktu itu jelas disampaikan, satu minggu akan ada kebijakan penambahan layer tarif cukai. Sekarang hampir satu bulan, belum ada kejelasan. Ini bukan soal kami saja, ini soal keberpihakan negara pada industri rakyat," kata Gus Lilur dikutip Senin, 9 Februari 2026.

Menurutnya, penambahan layer tarif CHT bukan sekadar kebijakan fiskal, tetapi bagian dari upaya industrialisasi Madura yang dinilai belum berjalan optimal selama puluhan tahun. Ia menyoroti data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan empat kabupaten di Madura—Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep—masih berada dalam kelompok daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi, meski wilayah tersebut menjadi salah satu produsen tembakau terbesar nasional.

"Selama ini negara mengambil manfaat dari cukai rokok, tapi Madura sebagai produsen tembakau justru tertinggal. Kami ini lumbung bahan baku, tapi tidak pernah diberi ruang untuk tumbuh sebagai kawasan industri," ujarnya.

Gus Lilur juga menilai pembangunan Jembatan Suramadu belum mampu mendorong industrialisasi lokal secara signifikan. Ia menyebut arus mobilitas yang meningkat justru lebih banyak mengalirkan orang dan barang keluar Madura.

"Suramadu hanya mempercepat arus orang dan barang keluar Madura, bukan menumbuhkan industri di Madura. Negara tidak paham struktur ekonomi lokal. Industrialisasi tidak bisa dipaksakan dari atas, harus tumbuh dari bawah," ungkapnya

Baca Juga :
Ngadu ke Purbaya, Pengusaha Apotek Ngaku Dimintai Rp 30 Juta buat Urus Sertifikat
Purbaya Bakal Bantu Pertamina soal Pembebasan Cukai Etanol dalam Sepekan
Soal Outlook Negatif dari Moody's, Purbaya: Mereka Akan Melihat Secara Lebih Fair

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Hasil Liga Italia: Inter Milan Pesta Gol ke Gawang Sassuolo
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Kabar Duka, Dubes RI untuk Filipina Agus Widjojo Meninggal Dunia
• 15 jam lalurctiplus.com
thumb
Sempat Ditekan Jay Idzes Cs, Inter Milan Era Chivu Lagi-lagi Buktikan Kualitas sebagai Monster Serie A Usai Menang 5-0 atas Sassuolo
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Jembatan Siak Berprogres 98 Persen, Dukung Konektivitas Wilayah Rengat–Pekanbaru
• 18 jam laludisway.id
thumb
Didik Rachbini Kenang Agus Widjojo, Sang Intelektual Militer yang Bijaksana
• 4 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.