Cegah Konflik Keluarga di Era Post-Truth

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Meja makan yang dulu menjadi ruang hangat untuk berbagi cerita kini sering berubah menjadi arena perdebatan sengit. Ayah percaya pada narasi politik tertentu dari grup WhatsApp-nya, ibu terpolarisasi oleh konten-konten emosional di Facebook, sementara anak-anak menganggap orang tua mereka "ketinggalan zaman" dan mudah tertipu hoaks. Fenomena ini bukan sekadar perbedaan generasi biasa ini adalah dampak nyata dari era post-truth yang diperkuat oleh algoritme media sosial, yang kini menggerogoti fondasi terpenting dalam masyarakat khusunya lingkungan keluarga.

Era post-truth, atau pasca-kebenaran, merujuk pada kondisi di mana emosi dan keyakinan personal lebih berpengaruh daripada fakta objektif dalam membentuk opini publik. Dalam konteks ini, kebenaran bukan lagi ditentukan oleh verifikasi faktual, melainkan oleh seberapa kuat sebuah narasi beresonansi dengan keyakinan dan emosi seseorang. Algoritme media sosial memperburuk situasi ini dengan menciptakan filter bubble di ruang digital di mana pengguna hanya terpapar informasi yang mengkonfirmasi bias mereka.

Algoritme dirancang untuk memaksimalkan engagement, bukan kebenaran. Konten yang kontroversial, emosional, dan provokatif mendapat prioritas karena menghasilkan lebih banyak klik, share, dan komentar. Akibatnya, setiap anggota keluarga terjebak dalam realitas digital yang berbeda-beda, menciptakan jurang pemahaman yang semakin lebar di antara mereka.

Fragmentasi Realitas dalam Satu Atap

Yang paling mengkhawatirkan dari fenomena ini adalah terjadinya fragmentasi realitas dalam satu rumah. Setiap generasi mengonsumsi informasi dari sumber yang berbeda dengan algoritme yang berbeda pula. Generasi tua mungkin lebih aktif di grup WhatsApp dan Facebook, di mana narasi-narasi yang belum terverifikasi beredar dengan cepat dan dipercaya karena datang dari "teman" atau "keluarga". Mereka cenderung kurang familiar dengan mekanisme fact-checking dan lebih mudah terprovokasi oleh konten emosional.

Generasi muda, meski lebih melek teknologi, juga tidak sepenuhnya imun. Mereka terpapar pada konten di TikTok, Instagram, dan Twitter yang sama-sama dikurasi oleh algoritme berdasarkan preferensi mereka. Bedanya, mereka mungkin lebih skeptis terhadap sumber tradisional dan lebih percaya pada influencer atau content creator yang mereka ikuti. Ironisnya, skeptisisme ini tidak selalu disertai dengan kemampuan verifikasi yang memadai.

Ketika masing-masing anggota keluarga hidup dalam "kebenaran" yang berbeda, konflik menjadi tak terelakkan. Diskusi tentang isu politik, sosial, atau bahkan kesehatan berubah menjadi perdebatan yang tidak produktif karena mereka berangkat dari premis dan "fakta" yang berbeda.

Erosi Kepercayaan Intergenerasi

Dampak paling merusak dari era post-truth yang diperkuat algoritme adalah erosi kepercayaan antargenerasi dalam keluarga. Ketika seorang anak mencoba mengoreksi informasi yang diyakini orang tuanya dengan fact-checking dari internet, orang tua mungkin merasa tidak dihormati atau dianggap bodoh. Sebaliknya, ketika orang tua memperingatkan anak tentang bahaya informasi di media sosial, anak merasa dikekang dan tidak dipahami.

Kepercayaan yang seharusnya menjadi pondasi hubungan keluarga mulai retak. Orang tua tidak lagi dianggap sebagai sumber kebijaksanaan, dan anak-anak tidak lagi dipandang sebagai generasi penerus yang perlu dibimbing. Yang tersisa adalah dua kubu yang saling curiga, masing-masing merasa paling benar dengan "fakta" yang mereka pegang.

Lebih jauh lagi, situasi ini menciptakan isolasi emosional dalam keluarga. Anggota keluarga mulai menghindari topik-topik tertentu untuk mencegah konflik, atau justru sengaja membahas untuk "menyerang" keyakinan pihak lain. Ruang untuk dialog terbuka dan pembelajaran bersama semakin menyempit.

Jalan Keluar: Literasi Digital Keluarga

Untuk mengatasi krisis ini, diperlukan pendekatan literasi digital yang berpusat pada keluarga. Pertama, setiap anggota keluarga perlu memahami cara kerja algoritme dan bagaimana mereka membentuk persepsi realitas. Kesadaran ini adalah langkah awal untuk keluar dari filter bubble.

Kedua, keluarga perlu membangun kesepakatan tentang cara berkomunikasi dan berdiskusi tentang informasi digital. Ini termasuk komitmen untuk saling mendengarkan tanpa menghakimi, memverifikasi informasi bersama-sama sebelum menyebarkan, dan menghormati perbedaan perspektif.

Ketiga, perlu ada ritual keluarga yang bebas dari teknologi digital—waktu di mana anggota keluarga dapat berinteraksi secara otentik tanpa distraksi algoritme. Meja makan, waktu ibadah bersama, atau aktivitas outdoor dapat menjadi ruang untuk membangun kembali kepercayaan dan kebersamaan.

Keempat, pendidikan literasi media harus dimulai dari rumah. Orang tua dan anak perlu saling belajar. Orang tua belajar tentang dinamika media sosial dari anak, sementara anak belajar tentang pemikiran kritis dan kebijaksanaan dari orang tua.

Pada akhirnya, konflik keluarga di era algoritme post-truth adalah tantangan serius yang membutuhkan penanganan segera dan sistematis. Algoritme telah menciptakan realitas-realitas paralel yang memecah belah keluarga dari dalam. Namun, dengan kesadaran bersama, literasi digital yang baik, dan komitmen untuk mempertahankan nilai-nilai keluarga, kita dapat melawan efek destruktif ini. Keluarga harus kembali menjadi ruang aman untuk dialog, pembelajaran, dan pertumbuhan bersama bukan melahirkan nuansa medan perang informasi yang dikuasai oleh algoritme teknologi tanpa wajah. Saatnya kita merebut kembali kendali atas narasi keluarga kita dari cengkeraman algoritme yang memecah belah.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Hector Souto Jadi Pelatih Timnas Futsal Indonesia Hingga Piala Dunia 2028
• 14 jam lalugenpi.co
thumb
1.500 Film Indonesia Hilang, Negara Gagal Jaga Warisan Budaya
• 5 jam lalugenpi.co
thumb
Jalan-jalan Berlubang Dikeluhkan Warga, Wali Kota Makassar Instruksi Perbaikan Jalan Segera
• 21 jam laluharianfajar
thumb
Buntut Pelajar Siram Air Keras di Jakarta Pusat, Polisi Selidiki Videonya
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Anggota DPR nilai peran pers tak tergantikan AI
• 6 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.