ANAK kecil itu, yang diberi inisial YBS oleh media massa, seharusnya masih punya jalan hidup yang panjang, punya imajinasi polos, cita-cita tinggi, dan harapan merekah.
Usianya baru 10 tahun dan masih duduk di kelas IV SD, tetapi kemiskinan telah membunuh mimpi-mimpinya, bahkan pada harapannya yang paling murah: buku dan pena.
Hari itu, 29 januari 2026, ia memilih mengakhiri hidupnya di bawah pohon cengkeh, tak jauh dari pondok berdinding bambu milik neneknya.
YBS, adik kecil yang malang, dibunuh oleh kemiskinan ekstrem. MGT (47 tahun), ibunya yang berperan sebagai orangtua tunggal dan harus menghidupi 5 anaknya, hanya bekerja sebagai petani dan buruh serabutan.
Penghasilan sang Ibu tak seberapa, hanya cukup untuk bertahan hidup. Bahkan, untuk membeli buku dan pena seharga Rp 10.000, penghasilannya tak cukup.
Selama ini, demi meringankan beban keluarga, MGT menitipkan anaknya, YBS, pada neneknya yang sudah berusia 80 tahun.
Ironisnya, meskipun tercekik oleh kemiskinan ekstrem, seperti dikutip Kompas.com, 4 Februari 2026, MGT dan keluarganya tak pernah tersentuh bantuan pemerintah.
Baca juga: Kertas Tii Mama Reti: Menggugat Janji Kemerdekaan
Boleh jadi, MGT dan keluarganya tak terpotret data kemiskinan, sehingga tidak mendapat bantuan sosial dari pemerintah.
Namun, YBS dan keluarganya hanyalah sekeping cerita dari orang-orang miskin di negeri ini yang ditumpas mimpi-mimpi dan harapannya oleh kemiskinan.
Dan pahitnya, tak seperti diagung-agungkan oleh Presiden Prabowo Subianto di Forum Ekonomi Dunia (WEF), di Davos, Swiss, bahwa rakyat Indonesia tetap tersenyum dan bahagia meski dijepit kemiskinan.
Ada banyak warga miskin, seperti YBS, yang memilih mengakhiri jalan hidupnya di tengah keputusasaan. Bahkan tak sedikit kasus felisida: orangtua membunuh anaknya, sebelum bunuh diri, karena tekanan psikologis dan kemiskinan.
Jumlahnya tidak sedikit. Data Pusat Informasi Kriminal Nasional Polri menyebutkan bahwa sekitar 62 persen dari total kasus bunuh diri pada periode Januari-Agustus 2024 dilatarbelakangi faktor ekonomi dan kesenjangan.
Pertanyaan yang membuncah di kepala, mengapa ada orang miskin yang tak terpotret oleh data kemiskinan? Kenapa ada banyak kasus bunuh diri karena tekanan kemiskinan ketika angka kemiskinan justru diumumkan sudah menurun drastis?
Kemiskinan tersembunyiLima hari setelah meninggalnya YBS, BPS mengumumkan penurunan angka kemiskinan. Per September 2025, angka kemiskinan menurun drastis hingga tersisa 23,36 juta orang atau 8,25 persen dari total populasi penduduk.
Ada 490.000 orang yang berhasil dikeluarkan dari garis kemiskinan sepanjang Maret-September 2025.
BPS mengkategorikan seseorang miskin jika pengeluarannya kurang dari Rp 641.443 per kapita/bulan atau Rp 21.000 per kapita/hari (GKM September 2025).
Di sinilah letak masalahnya. Garis kemiskinan ala BPS itu gagal memotret dengan komprehensif realitas kemiskinan di Indonesia.
Ada berjuta-juta orang di tubir jurang kemiskinan, dengan kondisi finansial sangat rapuh dan penghasilan yang pasti, tidak terpotret oleh alat ukur BPS. Mereka itu masuk kategori kemiskinan terselubung (hidden poverty).
Baca juga: Jebakan “Epstein” di Panggung Politik
Berdasarkan alat ukur resmi (BPS), mereka tak lagi didefinisikan miskin, tetapi kondisi ekonomi mereka sangat rapuh dan sangat jauh dari berkecukupan. Mengapa hal itu bisa terjadi?
Pertama, garis kemiskinan yang ditetapkan terlalu rendah sehingga gagal memotret realitas kemiskinan.
Garis kemiskinan BPS, yang menggunakan pendekatan cost of basic needs yang didominasi komponen makanan, hanya mengukur kebutuhan fisiologis manusia untuk bertahan hidup (survival).




