Bisnis.com, JAKARTA — Rektor Universitas Paramadina, Didik Junaedi Rachbini mengenang sosok Agus Widjojo sebagai intelektual militer yang menyebutkan bahwa kekuasaan politik harus sepenuhnya berada di tangan sipil yang dipilih secara demokratis.
Didik mengenal Agus saat merancang dan melaksanakan seminar angkatan darat di Bandung pada 1990-an. Kala itu, Didik yang baru menyelesaikan kuliah doktor kerap bertukar pikiran dengan Agus.
"Pertemuan yang berhari-hari dengannya memberi kesan bahwa Agus Widjojo merupakan jenderal intelektual yang fasih pemikiran politik dan militer dalam konteks perubahan zaman," ujar Didik dalam keterangan tertulis, Senin (9/2/2026).
Dikenang Didik, Agus merupakan elite TNI yang menjunjung tinggi profesionalisme TNI sekaligus supremasi sipil. Dengan begitu, Agus pun dikenal sebagai jenderal TNI modern, khususnya era transisi reformasi.
Sebagai penutup era Dwifungsi ABRI, Pemikiran Agus yang modern itu bertujuan agar seluruh elemen masyarakat bisa seimbang dengan trias politica yakni eksekutif, legislatif dan yudikatif.
"Bagi Agus kekuasaan politik harus sepenuhnya berada di tangan sipil yang dipilih secara demokratis. Institusi militer mesti tunduk pada konstitusi dan hukum, bukan penjaga kekuasaan, melainkan alat negara untuk pertahanan," ungkapnya.
Lebih jauh, Didik mengemukakan pemikiran Agus lainnya soal keterlibatan TNI tidak boleh terlibat dalam politik praktis. Sebab, hal tersebut justru melemahkan profesionalisme sebagai prajurit.
Adapun, sebagai mantan Gubernur Lemhannas, Agus juga dinilai sukses menyebarkan pemikirannya soal dinamika sistem modern, geoekonomi hingga geopolitik.
"Di lembaga ini fungsi intelektual dan strategisnya terus berjalan menyebar ke kalangan elit pemimpin pemerintahan," pungkasnya.
Sekadar informasi, Agus Widjojo meninggal dunia pada Minggu (8/2/2026). Dubes RI untuk Filipina itu menghembuskan nafasnya terakhirnya di RSPAD Gatot Subroto.




