TEGAL, KOMPAS.TV - Pakar Manajemen Kebencanaan Geologi dari UPN Veteran Yogyakarta, Eko Teguh Paripurno menjelaskan analisisnya mengenai bencana tanah bergerak di Tegal, Jawa Tengah (Jateng).
Informasi itu disampaikannya dalam program Sapa Indonesia Pagi KompasTV, Senin (9/2/2026).
"Kalau kita buka-buka data PVMBG (Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana Geologi), di sana memang masuk pada zona kerentanan tanah menengah hingga tinggi. Nah, penyebab utamanya sebenarnya adalah karena batuannya yang cenderung lempungan. Dominasinya itu kalau misalnya di istilah geologinya ada formasi rambatan," ujarnya.
Ia mengatakan batuan lunak mempunyai variasi antara basah dan kering yang tinggi.
"Jadi, kalau dia basah, maka dia akan mengembang. Kalau kering, dia akan menyusut. Ini yang menjadikan bahasa yang lazim dipakai itu tanah itu bergerak. Jadi mengembang dan menyusut. Ketika mengembang, maka dia lebih tidak stabil," katanya.
Terlebih, kata dia, sekarang sedang musimnya anomali curah hujan yang kemudian menyebabkan risiko tanah bergerak meningkat.
Baca Juga: Tanah Bergerak di Tegal, BPBD: Masih Ada Potensi Gerakan jika Hujan, Satu Dukuh Belum Mengungsi
Menurutnya, akan menjadi berbahaya ketika rumah dan infrastruktur di daerah dengan kondisi tanah seperti itu tidak beradaptasi dengan jenis tanah.
"Kecenderungannya kita kan semakin bikin rumah yang tembokan ya. Nah, sementara basis tanahnya itu mengembang dan menyusut sehingga ketika ada hujan yang berlebih, mengembangnya berlebih, maka daya adaptasi atau daya tahan rumah itu sudah terlewati. Dia akan retak, rontok," jelasnya.
Menurutnya, bangunan yang bisa beradaptasi terhadap jenis tanah yang mengambang dan menyusut biasanya berupa bangunan kayu.
Maka dari itu, jika masyarakat tidak pindah dari lokasi terdampak tanah bergerak, ia menyarankan rumah penduduk di daerah tersebut harus disesuaikan kondisi tanah yang mengembang dan menyusut.
"Kalau kearifan lokal di tempat yang lain, yang ini ada istilahnya membuat rumah dengan tidak tembokan, dengan kayu. Lantas adaptasinya itu dengan mengubah atau menggeser tiang dari waktu ke waktu. Nah, ini adaptasi yang bisa dilakukan kalau misalnya tidak nyaman untuk pindah," ungkapnya.
Baca Juga: Tanah Bergerak di Tegal Makin Parah, Ponpes Roboh dan Lebih dari 2.465 Warga Mengungsi |BERUT
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Gading-Persada
Sumber : Kompas TV
- tegal
- tanah bergerak
- tanah bergerak tegal
- penyebab tanah bergerak tegal
- bpbd




