Grid.ID - Promotor musik Mecimapro kembali menjadi pusat perhatian setelah serangkaian insiden di konser grup band Korea Selatan DAY6 di Jakarta, yang digelar pada (3/5/2025) lalu. Namanya yang semula dikenal sebagai salah satu promotor terkemuka musik Korea di Indonesia kini kerap disorot, tidak hanya karena prestasi, tetapi juga sejumlah kontroversi yang memicu kritik dan protes dari penggemar K-Pop.
PT Melania Citra Permata, yang lebih dikenal sebagai Mecimapro, didirikan sejak tahun 2015 dan dipimpin oleh Fransiska Dwi Melani sebagai pendiri dan direktur. Perusahaan ini terkenal aktif mendatangkan artis dan aktor Korea ke Indonesia melalui konser musik, fan meeting, hingga festival budaya Korea yang populer di kalangan pecinta hiburan Korea.
Dalam perjalanan lebih dari satu dekade, Mecimapro telah sukses menghadirkan sejumlah artis besar seperti SEVENTEEN, Stray Kids, (G)I-DLE, dan banyak lainnya. Keberadaan promotor ini dianggap menjadi jembatan penting bagi penggemar K-Pop Indonesia untuk bertemu langsung dengan idola mereka.
Namun, di balik deretan prestasi tersebut, kiprah Mecimapro tidak luput dari kritik dan sorotan publik. Sejumlah kontroversi layanan terhadap penonton acara musik telah mencuat sejak beberapa tahun terakhir.
Kritikan terbaru datang dari insiden konser DAY6 “Forever Young World Tour” di Jakarta. Masalah bermula saat promotor ini terpaksa memindahkan lokasi konser dari Jakarta International Stadium (JIS) ke Stadion Madya Gelora Bung Karno (GBK) akibat bentrok jadwal dengan acara lain. Keputusan ini diambil beberapa bulan sebelum konser digelar, namun penonton menganggapnya sebagai langkah yang tidak profesional dan memberi dampak negatif bagi persiapan mereka.
Selain itu, dua hari sebelum jadwal konser, sejumlah pembeli tiket melalui tiket.com menerima notifikasi refund karena Mecimapro belum menyerahkan nomor kursi dan nomor antrean kepada tiket.com. langkah ini memicu kebingungan dan kekhawatiran di kalangan penggemar karena mereka tidak yakin apakah tiket yang telah dibeli tetap berlaku.
Rangkaian masalah teknis tersebut diperparah oleh suasana pada hari konser. Hujan deras mengguyur lokasi, tenda penonton bocor, dan panggung sempat tertunda karena kondisi cuaca. Situasi ini membuat pengalaman menonton menjadi kurang nyaman dan memunculkan protes dari penonton yang tidak puas.
Kekecewaan penonton bahkan memicu gelombang kritik di media sosial dengan berbagai tagar protes terhadap kinerja Mecimapro, seperti tuntutan agar promotor ini tidak lagi dipercaya mengatur konser di Indonesia.
Imbas dari kekacauan ini, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata memanggil Mecimapro untuk dimintai keterangan. Audiensi antara pihak promotor, Kementerian Pariwisata, Kementerian Ekonomi Kreatif, dan Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI) dilakukan untuk membahas masalah teknis pelaksanaan konser serta dampaknya bagi penonton dan industri hiburan.
Tak lama setelah itu, Mecimapro menyampaikan permintaan maaf resmi kepada penggemar DAY6 dan pihak terkait, termasuk agensi grup tersebut, atas segala ketidaknyamanan yang terjadi selama konser berlangsung. Dalam pernyataannya, perusahaan mengakui belum mampu memenuhi standar yang semestinya dan berkomitmen melakukan evaluasi serta perbaikan ke depan.
Selain kontroversi konser DAY6, nama Mecimapro juga sempat terseret dalam kasus hukum lain terkait dugaan penggelapan dana investor konser TWICE pada Desember 2023. Direktur Mecimapro, Fransiska Dwi Melani, hingga akhir Oktober 2025 telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut oleh Polda Metro Jaya.
Kasus hukum ini bermula dari laporan PT Media Inspirasi Bangsa (MIB) yang mengaku dirugikan dalam kerja sama penyelenggaraan konser tersebut. Pengalihan dana yang seharusnya digunakan untuk produksi acara diduga tidak sesuai perjanjian kerja sama, sehingga memicu proses hukum yang berjalan hingga kini.
Dampak dari kasus hukum tersebut juga terasa di internal industri hiburan Indonesia. Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI) bahkan sempat mengambil langkah membekukan keanggotaan Mecimapro sebagai anggota asosiasi, meskipun durasi pembekuan belum ditetapkan secara final.
Para penggemar K-Pop di Indonesia hingga kini masih menunggu proses refund tiket dari konser DAY6 yang belum sepenuhnya diselesaikan, sementara reputasi Mecimapro terus menjadi bahan perdebatan di kalangan pecinta musik dan penikmat hiburan Korea.
Kasus Mecimapro menunjukkan kompleksitas tantangan dalam industri konser berskala besar di Indonesia terutama yang melibatkan artis internasional yang memiliki basis penggemar besar dan ekspektasi tinggi terhadap pengalaman konser. (*)
Artikel Asli




