Mengunjungi National Museum of Egyptian Civilization (NMEC), ingatan saya kembali menelusuri kisah-kisah masa lalu yang dituliskan dalam Al-Quran. Bukan sebagai nostalgia sejarah, melainkan sebagai panggilan kesadaran. Di ruang pamer mumi kerajaan itu, tubuh-tubuh para penguasa Mesir terbaring dalam keheningan panjang. Seolah mengajak setiap pengunjung berhenti sejenak, lalu bertanya: apa sebenarnya yang tersisa dari kekuasaan yang pernah mengeklaim diri paling tinggi?
Ruang itu hening, redup, dan terasa dingin, bukan sekadar oleh suhu, melainkan oleh kesadaran: di balik kaca pamer, Firaun hadir bukan sebagai sosok yang berkuasa, melainkan sebagai tubuh yang diam. Museum tidak sedang memuliakan mereka. Museum sedang mengembalikan mereka menjadi satu fakta paling telanjang: manusia. Nama besar, takhta, bala tentara, dan propaganda “keagungan” yang dulu menggema, kini menyusut menjadi jasad yang dipelajari-sebuah arsip peradaban yang tak bisa lagi membantah.
Di titik ini, pertanyaan penting muncul bagi kita sebagai umat: apa makna “Firaun” ketika tubuhnya telah menjadi artefak, tetapi polanya masih berkeliaran dalam kehidupan modern? Al-Quran tidak menghadirkan Firaun semata sebagai tokoh sejarah, melainkan sebagai pola kekuasaan yaitu rezim yang menuhankan diri, memonopoli kebenaran, memelihara ketakutan, lalu menjadikan manusia lain sekadar alat. Firaun, dalam arti ini, dapat hidup tanpa mahkota. Ia bisa menjelma dalam budaya organisasi, dalam praktik kepemimpinan, bahkan dalam cara seseorang memandang dirinya sendiri.
Keheningan ruang pamer itu justru bekerja sebagai cermin. Sejarah menanggalkan seluruh atribut ilahiah yang dulu diklaim Firaun. Tak ada mahkota, tak ada bala tentara, tak ada pidato kemenangan. Yang ada hanya fakta biologis: manusia pernah hidup, lalu mati. Museum memperlihatkan akhirnya; Al-Quran mengajarkan sebab-musababnya. Maka, menyaksikan mumi Firaun di ruang pamer museum sesungguhnya bukan perjalanan ke masa lalu. Itu perjalanan pulang ke dalam qalbu-apakah ada jejak “rezim Firaun” yang masih kita pelihara, dengan nama yang lebih modern, kemasan yang lebih rapi, tetapi kerusakan moral yang serupa?
Fir'aun Bukan Nama, Melainkan PolaAl-Quran tidak meminta kita terpaku pada satu nama yang tertera di label museum. Al-Quran mengarahkan perhatian pada sesuatu yang lebih menentukan: cara berpikir dan cara kerja kekuasaan. “Firaun” di dalam Al-Quran tampil sebagai pola berulang—sebuah rezim mental dan rezim sosial—ketika kekuasaan berhenti merasa sebagai amanah, lalu berubah menjadi “hak” yang seolah tidak boleh digugat.
Pola itu dimulai dari satu penyakit yang tampak sederhana, tetapi mematikan: klaim kebenaran tunggal. Firaun berani mengucapkan, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]:24). Kalimat ini bukan sekadar kesombongan pribadi. Tetapi deklarasi sistem: penguasa memosisikan diri sebagai sumber kebenaran, ukuran moral, bahkan penentu hidup-mati narasi. Jika kebenaran sudah “dimiliki” penguasa, kritik otomatis berubah menjadi kejahatan.
Sesudah itu, lahirlah pola berikutnya: pembenaran diri yang dilembagakan. Firaun tidak sekadar menolak Musa; ia membangun justifikasi publik agar penolakan itu tampak sah. Ia memerintah, ia mengatur opini, ia memproduksi alasan, seolah-olah yang paling berbahaya bukan kezaliman, melainkan kebenaran yang membongkar kepalsuan. Dalam Al-Quran, Firaun berkata, “Wahai Hāmān, bangunkanlah untukku…” (QS. Al-Qashash [28]:38). Perintah membangun itu bukan hanya proyek fisik. Ia simbol: kekuasaan memakai pertunjukan, pembangunan, dan propaganda untuk mengukuhkan mitos dirinya, sambil menutup ruang akal sehat.
Pola ketiga menyusul dengan cepat: ketakutan dijadikan alat pemerintahan. Firaun memahami bahwa manusia yang takut akan lebih mudah patuh daripada manusia yang tercerahkan. Ketika rasa takut dipelihara, orang baik bisa memilih diam, orang jujur bisa dianggap pembangkang, dan kebohongan bisa diperlakukan sebagai stabilitas. Pada fase ini, rakyat tidak lagi dipaksa percaya. Mereka cukup dipaksa tidak berani berbeda.
Pola keempat adalah puncaknya: manusia direduksi menjadi alat. Ketika kekuasaan kehilangan rasa takut kepada Allah SWT, manusia lain berubah menjadi angka, tenaga, alat legitimasi, atau korban yang dianggap “wajar” demi citra dan kelanggengan. Al-Quran mengingatkan bahwa sejarah selalu punya titik balik: yang dizalimi bisa diangkat, yang menindas bisa dijatuhkan (QS. Al-A‘rāf [7]:103–137).
Inilah sebabnya museum menjadi cermin yang mengganggu. Pola Firaun tidak otomatis mati bersama jasad Firaun. Ia bisa hidup kembali pada siapa pun yang memegang kuasa lalu merasa kebal koreksi; pada institusi apa pun yang menukar kritik dengan loyalitas buta; pada budaya apa pun yang memuja citra, menekan suara benar, dan menganggap pembenaran sebagai prestasi. Firaun tidak selalu tampil dengan mahkota. Kadang ia tampil rapi, fasih, dan penuh slogan. Bedanya hanya satu: dulu Firaun membangun istana; kini Firaun membangun narasi.
Poros Ayat: QS. Yūnus [10]: 92 — “Badan yang Diselamatkan"Di titik inilah Al-Quran mengunci seluruh kisah Firaun dengan satu ayat yang tenang, namun meruntuhkan seluruh mitos kekuasaan:
Ayat ini tidak berbicara tentang kemenangan Firaun. Ayat ini menegaskan batas terakhir kekuasaan. Yang diselamatkan bukan martabatnya, bukan kekuasaannya, bukan narasinya, melainkan badannya. Tubuh fisik, yang dalam logika kekuasaan seharusnya tak berarti apa-apa, justru dijadikan tanda. Di sinilah ironi ilahi bekerja: Firaun yang sepanjang hidupnya menuhankan diri, pada akhirnya dipertahankan hanya sebagai bukti runtuhnya rezim yang menolak kebenaran.
Ayat ini juga menegaskan tujuan penyelamatan itu: agar menjadi pelajaran bagi orang-orang setelahnya. Artinya, sasaran utamanya bukan Firaun. Sasaran utamanya adalah kita. Umat setelahnya. Manusia yang hidup di zaman berbeda, dengan teknologi berbeda, tetapi dengan potensi kesombongan yang sama. Firaun diselamatkan badannya bukan demi dirinya, melainkan demi peringatan lintas generasi.
Pada titik ini, ruang pamer museum dan ayat Al-Quran saling bertemu tanpa perlu dipaksakan. Museum memperlihatkan apa yang tersisa. Al-Quran menjelaskan mengapa ia disisakan. Tubuh Fir’aun yang terbaring itu menjadi semacam “dokumen” tentang satu kebenaran besar: kekuasaan yang menolak kebenaran tidak selalu dihancurkan seketika, tetapi pasti ditelanjangi maknanya. Ia dibiarkan tersisa, agar manusia belajar tanpa bisa berdalih.
Dari Badan ke BudayaQS. Yūnus [10]:92 berhenti menjadi peringatan yang hidup apabila hanya dibaca sebagai kisah tentang jasad Firaun. Ayat itu justru menjadi tajam ketika dipahami sebagai peringatan tentang warisan pola. Badan Firaun diselamatkan agar tampak; budayanya dibiarkan agar diuji, apakah manusia setelahnya belajar, atau justru meniru dengan wajah baru.
Bahaya terbesar bukan pada tubuh yang terbaring di ruang pamer, melainkan pada cara berpikir Firaun yang dapat menular. Pola itu bekerja halus: merasa paling benar, menutup telinga dari kritik, mengubah kekuasaan menjadi pembenaran, dan memelihara ketakutan sebagai alat kendali. Ketika pola ini diwariskan, Firaun tidak lagi membutuhkan sungai Nil atau istana megah. Ia hidup dalam rapat-rapat yang menolak data buruk, dalam kebijakan yang alergi koreksi, dan dalam budaya yang memuja loyalitas di atas kebenaran.
Di sinilah ayat tersebut meminta koreksi qalbu. Setiap orang yang memegang amanah. kecil atau besar perlu bertanya: apakah saya masih mau dikritik? Apakah saya memutuskan dengan jujur, atau sedang mencari dalih yang terdengar cerdas? Apakah saya menggunakan posisi untuk melayani, atau untuk menenangkan ego? Firaun besar runtuh karena kesombongan yang terang; Firaun kecil bertahan karena kesombongan yang rapi.
Ayat itu juga menuntut koreksi institusi. Budaya yang sehat membangun mekanisme agar kebenaran bisa berbicara tanpa takut. Budaya Firaun melakukan kebalikannya: menata struktur agar yang benar terdengar mengganggu. Indikatornya mudah dikenali—kritik dipersonalisasi, data diseleksi, kesalahan ditutupi jargon, dan keberhasilan diukur dari panggung, bukan dampak. Ketika ini terjadi, institusi sedang mengawetkan “badan” kebijakan, tetapi membunuh “ruh” amanahnya.
Museum mengajarkan satu hal sederhana: waktu akan membuka semuanya. Al-Quran menambahkan pelajaran yang lebih dalam: Allah SWT dapat menjadikan sisa tubuh itu sebagai tanda, agar manusia setelahnya tidak sibuk membangun “keabadian palsu”, melainkan membangun kejujuran yang hidup. Maka umat masa kini tidak ditantang untuk menebak siapa Firaun masa lalu, melainkan memastikan pola Firaun tidak mendapat rumah—baik di dalam qalbu, maupun di dalam sistem.
Dari Museum ke Qalbu: Koreksi Diri dan Koreksi Budaya agar “Firaun” Tidak Beranak-pinakSesudah membaca Firaun sebagai pola, pelajaran itu tidak boleh berhenti sebagai renungan yang indah. Ia harus turun menjadi disiplin. Sebab Firaun tidak runtuh karena kurang teori. Firaun runtuh karena tidak mau dikoreksi. Maka ukuran paling awal dari keselamatan bukan seberapa tinggi jabatan atau seberapa luas pengaruh, melainkan seberapa siap seseorang menerima koreksi tanpa merasa direndahkan.
Koreksi diri dimulai dari wilayah yang paling sunyi: cara kita memperlakukan kebenaran. Banyak orang tidak jatuh pada kezaliman karena niat jahat, melainkan karena kebiasaan membenarkan diri. Pada mulanya kecil: menolak masukan, menunda mengakui salah, menyusun alasan agar tetap tampak benar. Lama-lama ia menjadi kultur batin: merasa paling paham, mudah curiga pada kritik, dan menikmati kepatuhan orang lain. Inilah “Firaun kecil” yang tumbuh di dalam dada, bukan dengan mahkota, tetapi dengan ego yang minta disembah.
Lalu koreksi bergerak ke level yang lebih luas: koreksi institusi. Rezim Firaun selalu membutuhkan lingkungan yang mendukung: para pengikut yang takut, tim yang hanya mengangguk, dan sistem yang menutup pintu bagi suara yang jujur. Jika suatu organisasi membuat orang baik memilih diam agar aman, maka organisasi itu sedang menyiapkan kandang bagi Firaun. Dalam keadaan seperti itu, kesalahan tidak lagi dianggap masalah yang perlu diperbaiki, melainkan aib yang harus ditutupi. Kebenaran akhirnya kalah bukan oleh kebohongan yang hebat, tetapi oleh ketakutan yang dipelihara.
Karena itu, langkah praktisnya harus nyata dan terukur. Pertama, membangun budaya data dan dampak: keputusan diuji oleh kenyataan, bukan oleh selera atasan. Kedua, membuka kanal kritik yang aman: kritik diperlakukan sebagai alarm, bukan sebagai pengkhianatan. Ketiga, mendisiplinkan teladan pemimpin: pemimpin berani berkata, “Saya keliru,” tanpa kehilangan wibawa. Keempat, mengurangi panggung, memperbesar kerja sunyi: seremonial tidak boleh menggantikan substansi. Kelima, melindungi yang lemah: ukuran adilnya kekuasaan tampak dari cara ia memperlakukan pihak yang paling mudah dikorbankan.
Pada titik ini, museum berhenti menjadi destinasi wisata. Ia menjadi ruang muhasabah. Mumi Firaun mengajarkan bahwa tubuh bisa diawetkan, tetapi makna kekuasaan akan dibongkar oleh waktu. Al-Quran mengajarkan lebih jauh: Allah SWT dapat menjadikan sisa tubuh itu sebagai tanda agar manusia setelahnya tidak terjebak mengejar “keabadian palsu”, melainkan menegakkan kejujuran yang hidup.
PenutupMumi Firaun di ruang pamer museum sesungguhnya bukan sekadar peninggalan sejarah. Ia adalah peringatan yang dipahat oleh waktu: kekuasaan yang menolak kebenaran pada akhirnya akan kehilangan seluruh atributnya, lalu tinggal sebagai bukti. Al-Quran mengunci pelajaran itu melalui QS. Yūnus [10]:92 , badan diselamatkan bukan untuk dimuliakan, melainkan agar menjadi tanda bagi generasi setelahnya.
Firaun tidak berbahaya karena ia pernah hidup. Firaun berbahaya karena ia bisa diwariskan sebagai budaya: budaya yang merasa paling benar, alergi koreksi, memelihara ketakutan, dan mengganti amanah dengan pembenaran. Di situlah ujian kita sebagai umat masa kini. Zaman boleh berubah, teknologi boleh melesat, tetapi penyakit kekuasaan yang tidak mau tunduk kepada kebenaran akan selalu menemukan bentuknya sendiri.
Obatnya tidak rumit, tetapi menuntut keberanian. Qalbu harus dilatih untuk tunduk kepada kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu datang sebagai kritik. Institusi harus berani memihak pada amanah, bahkan ketika amanah itu menuntut koreksi yang tidak nyaman. Inilah pilihan yang menentukan apakah kita pulang dari museum hanya membawa foto, atau pulang membawa perubahan: meninggalkan pola Firaun—sekecil apa pun—lalu menegakkan budaya kejujuran, adil, dan tanggung jawab di hadapan Allah SWT.
Pada akhirnya, museum itu mengajarkan satu kalimat sunyi: tubuh bisa menjadi artefak, kekuasaan bisa menjadi arsip, tetapi nilai menentukan apakah seseorang dikenang sebagai amanah, atau sebagai peringatan. Firaun sudah menjadi pelajaran. Giliran kita memastikan pelajaran itu tidak sia-sia.



/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2022%2F04%2F27%2Fc4f25226-29c1-47f4-a499-3fa223493a90_jpg.jpg)

