Pada perdagangan terbaru, emas sempat melanjutkan penguatan hingga mendekati area USD5.091, level tertinggi dalam tiga hari terakhir, sebelum terkoreksi ke kisaran USD4.901. Pergerakan ini menandai fase konsolidasi alami setelah reli agresif, di tengah aksi ambil untung dan penguatan moderat greenback.
Baca juga: Emas Bertahan di Jalur Penguatan Meski Dihantam Volatilitas Global
Menurut analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, secara teknikal struktur pergerakan emas belum menunjukkan perubahan arah yang signifikan.
Tren jangka pendek hingga menengah masih berada dalam koridor bullish, tercermin dari pola candlestick yang terbentuk serta posisi harga yang tetap bertahan di atas indikator Moving Average utama. Kondisi ini mengindikasikan bahwa tekanan beli belum sepenuhnya kehilangan momentum, meski pasar tengah mencari keseimbangan baru.
“Selama area support utama mampu dipertahankan, emas masih memiliki ruang untuk kembali menguat,” ujar Andy. Sisi Teknikal Dari sisi teknikal, terdapat dua skenario yang perlu diperhatikan pelaku pasar. Jika minat beli kembali mendominasi dan harga mampu bertahan di atas zona support, maka peluang pengujian ulang resistance di area US$5.086 masih terbuka. Sebaliknya, kegagalan mempertahankan level tersebut berpotensi membawa harga turun menuju area support berikutnya di sekitar US$4.841.
Sementara itu, dari sisi fundamental, emas kembali mendapatkan dukungan pada sesi Asia setelah meningkatnya permintaan aset lindung nilai. Ketegangan geopolitik kembali mencuat menyusul insiden penembakan drone Iran oleh militer AS di kawasan Laut Arab. Meski belum memicu eskalasi terbuka dan kedua negara masih merencanakan jalur diplomasi, pasar cenderung merespons cepat setiap potensi risiko konflik.
Namun, ruang penguatan emas masih dibatasi oleh faktor eksternal lain, terutama penguatan Dolar AS. Indeks Dolar AS (DXY) tercatat naik ke level 97,67, mencerminkan meningkatnya minat terhadap aset berbasis dolar. Di saat yang sama, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve juga mengalami penyesuaian.
Probabilitas penurunan suku bunga pada pertemuan Juni kini berada di kisaran 46%, seiring munculnya sinyal kebijakan yang lebih berhati-hati dari bank sentral AS. Data ekonomi yang beragam, mulai dari laporan ketenagakerjaan ADP yang melemah hingga PMI Jasa AS yang tetap solid, menciptakan ketidakpastian arah kebijakan, sekaligus memperbesar volatilitas di pasar emas.
Dengan kombinasi faktor teknikal yang masih konstruktif dan fundamental yang sarat dinamika, pergerakan harga emas diperkirakan tetap fluktuatif dalam jangka pendek. Bagi pelaku pasar, fase ini bukan hanya soal arah harga, tetapi juga tentang disiplin strategi dan pengelolaan risiko di tengah pasar yang sensitif terhadap setiap sentimen baru.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5182674/original/076398000_1744100039-Media_5.jpg)


