Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Banten
Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar menegaskan peran krusial pers sebagai penjernih informasi di tengah derasnya arus konten digital yang kian membanjiri ruang publik.
Hal tersebut disampaikan Muhaimin dalam sambutannya pada Puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2026 yang digelar di Kota Serang, Provinsi Banten, Senin, 9 Februari 2026.
Muhaimin mengingatkan bahwa banjir informasi, terutama yang tidak berkualitas, berpotensi menurunkan daya nalar masyarakat.
"Banjir informasi, terutama konten-konten yang tidak berkualitas, dapat menurunkan daya nalar masyarakat. Bahkan sekarang dikenal istilah baru 'brain rot' atau dalam istilah Jawa Timur disebut otak bosok," kata Muhaimin, Senin, 9 Februari 2026.
Menurutnya, di tengah gempuran algoritma dan kecerdasan buatan (AI), pers justru harus tampil sebagai solusi, bukan bagian dari masalah. Media massa dituntut hadir sebagai penyaring dan penjernih informasi, bukan sekadar memperbanyak kebisingan di ruang digital.
"Dalam situasi seperti ini, pers yang bijak justru menjadi solusi. Pers harus hadir sebagai penjernih informasi, bukan penambah kebisingan informasi," tegasnya.
Kemudian Muhaimin menilai, derasnya konten sensasional, hoaks, dan disinformasi di media sosial dapat melemahkan kualitas berpikir publik jika tidak diimbangi oleh jurnalisme yang bertanggung jawab. Karena itu, pers dituntut menjaga integritas, akurasi, serta keberpihakan pada kebenaran.
Lebih lanjut, ia juga mengingatkan bahwa informasi berkualitas memiliki dampak langsung terhadap ketahanan bangsa. Publik yang memperoleh informasi yang benar dan mendidik akan lebih cerdas dalam menyikapi berbagai persoalan sosial, politik, dan ekonomi.
"Informasi yang berkualitas akan melahirkan publik yang cerdas. Publik yang cerdas akan memperkuat ekonomi yang berdaulat. Dan ekonomi yang berdaulat menjadi fondasi bangsa yang kuat," ujarnya.
Muhaimin menambahkan, pemerintah berkomitmen untuk terus mendukung keberlanjutan pers nasional agar mampu menjalankan fungsi strategisnya di era digital. Termasuk memastikan ekosistem media tetap sehat di tengah disrupsi teknologi dan persaingan platform global.
"Pers tidak boleh kalah oleh algoritma. Teknologi harus menjadi alat bantu, bukan pengganti nurani," ucapnya.
Editor: Redaksi TVRINews




