Jakarta, ERANASIONAL.COM – Piala Asia Futsal 2026 resmi berakhir dengan catatan bersejarah bagi Timnas Futsal Indonesia. Untuk pertama kalinya sejak keikutsertaan di ajang ini, Indonesia berhasil melangkah hingga partai puncak dan keluar sebagai runner up setelah melalui laga dramatis melawan Iran. Pertandingan final tersebut berlangsung sengit, berakhir dengan skor imbang 5-5 sebelum akhirnya Indonesia harus mengakui keunggulan Iran melalui adu penalti. Pencapaian ini disambut luas sebagai tonggak penting dalam perkembangan futsal nasional dan menunjukkan peningkatan signifikan dalam kualitas permainan Timnas.
Namun di balik euforia prestasi tersebut, muncul catatan lain yang menjadi sorotan. Konfederasi Sepak Bola Asia atau AFC merilis keputusan resmi terkait sanksi dan denda selama penyelenggaraan Piala Asia Futsal 2026. Dalam daftar tersebut, Indonesia sebagai tuan rumah tercatat sebagai salah satu negara yang menerima hukuman finansial akibat sejumlah insiden yang dinilai melanggar regulasi keamanan dan ketertiban pertandingan.
Berdasarkan rilis AFC, PSSI sebagai federasi yang bertanggung jawab atas penyelenggaraan turnamen di Indonesia dijatuhi total denda sebesar USD 14.000 atau setara sekitar Rp 236 juta. Denda ini merupakan akumulasi dari beberapa pelanggaran yang terjadi di lebih dari satu pertandingan dan tidak terbatas pada laga yang melibatkan Timnas Futsal Indonesia saja, melainkan juga pertandingan antarnegara lain yang digelar di venue Indonesia.
Salah satu insiden terjadi saat pertandingan antara Timnas Futsal Indonesia melawan Korea Selatan yang berlangsung di Indonesia Arena. Dalam laga tersebut, AFC mencatat adanya pelanggaran berupa masuknya individu ke area dengan akses terbatas tanpa akreditasi resmi. Pelanggaran ini dinilai serius karena area tersebut seharusnya hanya dapat diakses oleh pihak yang memiliki izin dan pengamanan khusus. Atas kejadian tersebut, PSSI dikenai denda sebesar USD 3.000.
Pada pertandingan yang sama, AFC juga mencatat insiden lain berupa seorang suporter yang berhasil masuk ke dalam lapangan pertandingan. Tindakan ini dinilai sebagai pelanggaran ketertiban dan berpotensi membahayakan pemain serta ofisial pertandingan. AFC kemudian menjatuhkan denda tambahan sebesar USD 3.000 kepada PSSI atas kejadian tersebut.
Tidak berhenti di situ, AFC juga menilai bahwa PSSI gagal memastikan standar keamanan stadion secara optimal pada laga Indonesia melawan Korea Selatan. Penilaian ini berkaitan dengan lemahnya pengawasan akses penonton dan pengamanan di area sekitar lapangan. Akibatnya, PSSI kembali dikenai denda sebesar USD 5.000 untuk pelanggaran terkait kegagalan dalam menjaga keamanan stadion.
Insiden lain terjadi pada pertandingan antara Iran dan Afghanistan yang digelar di Jakarta International Velodrome. Meski tidak melibatkan Timnas Futsal Indonesia, AFC tetap menilai PSSI sebagai pihak yang bertanggung jawab karena Indonesia berstatus sebagai tuan rumah turnamen. Dalam laga tersebut, tercatat lima penonton masuk ke area lapangan setelah pertandingan berlangsung, yang dinilai sebagai kegagalan dalam menjaga ketertiban pasca-pertandingan. Atas kejadian ini, PSSI dikenai denda sebesar USD 3.000.
Jika diakumulasikan, total denda yang harus dibayarkan PSSI mencapai USD 14.000. AFC dalam regulasinya menegaskan bahwa tuan rumah memiliki tanggung jawab penuh terhadap keamanan, keselamatan, dan ketertiban selama turnamen berlangsung, baik sebelum, saat, maupun setelah pertandingan. Setiap pelanggaran terhadap standar tersebut dapat berujung pada sanksi finansial maupun administratif.
Meski demikian, sanksi ini tidak menghapus pencapaian besar Timnas Futsal Indonesia di atas lapangan. Banyak pengamat menilai bahwa keberhasilan mencapai final Piala Asia Futsal 2026 merupakan bukti nyata perkembangan pembinaan futsal nasional dalam beberapa tahun terakhir. Indonesia kini dipandang sebagai salah satu kekuatan baru futsal Asia yang mampu bersaing dengan negara-negara mapan seperti Iran, Jepang, dan Thailand.
Di sisi lain, denda dari AFC menjadi pengingat penting bagi PSSI dan seluruh pemangku kepentingan sepak bola dan futsal nasional bahwa penyelenggaraan turnamen internasional tidak hanya dinilai dari kualitas pertandingan, tetapi juga dari aspek non-teknis seperti keamanan, manajemen penonton, dan tata kelola stadion. Ke depan, evaluasi menyeluruh dinilai perlu dilakukan agar Indonesia dapat kembali dipercaya menjadi tuan rumah ajang internasional tanpa catatan negatif serupa.
Dengan semakin seringnya Indonesia menjadi tuan rumah turnamen olahraga internasional, standar keamanan dan profesionalisme penyelenggaraan menjadi tuntutan yang tidak bisa ditawar. Prestasi Timnas Futsal Indonesia di Piala Asia Futsal 2026 menjadi modal berharga untuk masa depan, namun perbaikan di sisi organisasi dan pengelolaan acara juga harus berjalan seiring agar pencapaian tersebut tidak tercoreng oleh masalah di luar lapangan.



