Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memberikan sejumlah usulan pemberian insentif dan stimulus yang dinilai lebih optimal untuk mendorong dunia usaha dan menarik investor ke Tanah Air.
Hal ini seiring dengan rencana pemerintah yang akan merombak skema insentif fiskal seperti tax holiday, tax allowance hingga super tax deduction. Langkah ini dilakukan dalam rangka pembenahan investasi dan memerinci sektor penerima fasilitas fiskal agar insentif tepat sasaran.
Menurut Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani, agar dampak insentif dan stimulus benar-benar optimal, dunia usaha memandang ada beberapa prinsip penting yang perlu dijadikan pegangan.
"Pertama, insentif perlu diarahkan untuk menyasar struktur beban industri secara lebih mendasar," kata Shinta kepada Bisnis, Senin (9/2/2026).
Dia menerangkan, tantangan utama dunia usaha saat ini yaitu tingginya biaya dalam proses bisnis, seperti suku bunga pembiayaan, harga energi, hingga biaya logistik.
"Tanpa perbaikan struktural ini, insentif fiskal berpotensi kurang optimal dampaknya," tuturnya.
Baca Juga
- Prabowo Mau Rombak Insentif Fiskal, Kadin Wanti-Wanti Hal Ini
- Prabowo Mau Rombak Insentif Fiskal, Begini Respons Pengusaha
- Bidang Usaha Penerima Insentif Fiskal Mau Dirombak, Purbaya Janji Alokasinya Tepat Sasaran
Kedua, Shinta menyebut, insentif perlu difokuskan pada sektor-sektor strategis yang saat ini menanggung tekanan paling berat, terutama industri padat karya dan UMKM.
Sebab, sepanjang 2025, sektor-sektor ini mengalami pelemahan, padahal keduanya merupakan sumber penyerapan tenaga kerja terbesar. Dia menilai insentif yang tepat sasaran pada sektor padat karya hingga UMKM akan memberikan multiplier effect yang signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja dan pemulihan ekonomi.
Ketiga, pihaknya menyoroti efektivitas implementasi yang menjadi kunci. Insentif disebut hanya akan berdampak apabila mudah diakses, konsisten, tepat sasaran, serta disertai mekanisme evaluasi yang terukur.
"Karena itu, dunia usaha mendorong pengawasan dan penilaian berkala agar setiap fasilitas fiskal benar-benar memberikan nilai tambah bagi perekonomian," terangnya.
Tak hanya insentif fiskal, Apindo juga menekankan bahwa keberhasilan menarik investasi dan menciptakan lapangan kerja sangat bergantung pada perbaikan iklim berusaha secara menyeluruh.
Dalam hal ini, Shinta menyebutkan bahwa penyederhanaan regulasi, proses perizinan yang efisien, serta kepastian hukum yang konsisten merupakan fondasi utama iklim usaha.
"Bagi dunia usaha, insentif fiskal adalah sinyal strategis bahwa Indonesia serius menjadi rumah bagi investasi jangka panjang," jelasnya.
Menurut Shinta, dalam era kompetisi global yang semakin ketat, insentif selektif yang dirancang dengan tepat dan didukung kepastian berusaha adalah kunci untuk menarik investasi yang berkualitas dan berkelanjutan.
"Tentunya kami secara intens akan terus memberikan masukan kepada pemerintah mengenai elemen-elemen insentif yang dapat diperkuat untuk menjaga daya saing nasional," pungkasnya.





