GenPI.co - China dan Afrika Selatan menandatangani perjanjian kerangka kerja untuk kesepakatan perdagangan baru.
Menteri Perdagangan dan Industri Afrika Selatan Parks Tau mengatakan kesepakatan ini akan memungkinkan beberapa produk Afrika Selatan seperti buah-buahan menembus pasar China tanpa dikenai bea masuk.
Sebagai imbalannya, China akan mendapatkan peluang investasi yang lebih besar di Afrika Selatan, terutama di sektor otomotif.
Parks Tau mengatakan kesepakatan ini akan menguntungkan sektor pertambangan, pertanian, energi terbarukan, dan teknologi di Afrika Selatan.
"Afrika Selatan berharap bisa bekerja sama dengan China secara ramah, pragmatis, dan fleksibel," ujarnya, dilansir AP News, Minggu (8/2).
China sudah menjadi mitra dagang terbesar Afrika Selatan, baik untuk impor maupun ekspor.
Pengaruh ekonomi China di seluruh Afrika terus meningkat, khususnya dalam ekstraksi mineral penting yang menjadi komponen kunci untuk produk teknologi tinggi.
Ekspor terbesar Afrika Selatan ke China meliputi emas, bijih besi, dan logam platinum.
Sementara itu, mobil-mobil China terus memperluas pangsa pasarnya di Afrika Selatan, diperkirakan tumbuh dari 2,8 persen pada 2020 menjadi 11-15 persen pada 2025.
Produsen mobil asal China, BYD, bahkan menyalip Tesla milik Elon Musk pada 2025 sebagai produsen kendaraan listrik terbesar di dunia.
Kesepakatan China-Afrika Selatan ini mengikuti jejak sejumlah negara yang mencari alternatif selain kemitraan dengan Amerika Serikat.
Sebelumnya, AS menerapkan tarif sebesar 30 persen untuk beberapa produk Afrika Selatan, salah satu yang tertinggi di dunia, sebagai bagian dari kebijakan perdagangan timbal balik Presiden Donald Trump.
Afrika Selatan mengatakan saat ini masih bernegosiasi dengan AS untuk mencapai kesepakatan yang lebih menguntungkan. (*)
Heboh..! Coba simak video ini:





