FAJAR, JAKARTA — Klasemen sering kali menipu. Ia menampilkan angka-angka yang kaku, tetapi tidak selalu menangkap denyut permainan yang sesungguhnya. Di Super League musim ini, perbincangan tentang tim terbaik tak lagi semata soal siapa yang berada di puncak. Ia bergeser pada pertanyaan yang lebih subtil: siapa yang paling sulit dikalahkan?
Dalam konteks itu, dua nama mencuat—Persebaya Surabaya dan Persib Bandung.
Bukan Persija Jakarta yang baru saja tumbang di kandang oleh Arema FC. Bukan pula Borneo FC yang sesekali tampil meyakinkan tetapi masih menyisakan celah inkonsistensi. Persebaya dan Persib justru menampilkan kualitas yang lebih senyap namun konsisten: ketangguhan.
Statistik sederhana memperlihatkan fondasinya. Hingga pekan ke-20, Persebaya dan Persib sama-sama baru menelan tiga kekalahan. Bandingkan dengan Persija yang sudah lima kali tumbang, atau Borneo FC yang mencatat empat kekalahan. Dalam kompetisi panjang, selisih satu atau dua kekalahan bisa menjadi pembeda antara kandidat juara dan sekadar penantang.
Di Surabaya, grafik itu tak lahir dari kebetulan. Sejak Bernardo Tavares diberi kepercayaan penuh, Green Force perlahan merangsek naik. Tak ada lonjakan dramatis, melainkan proses bertahap yang terlihat semakin matang. Persebaya kini duduk di peringkat kelima dengan 35 poin—hanya terpaut dua angka dari empat besar.
Yang menarik, kekuatan Persebaya bukan semata pada satu-dua individu. Justru sebaliknya. Ketika Bruno Moreira absen, tim tetap berjalan. Saat Milos Raickovic tak bisa tampil, struktur permainan tak runtuh. Bahkan ketika Toni Firmansyah dan Pedro Matos tak dalam kondisi ideal, Persebaya tetap mampu menang 3-1 di kandang Bali United.
Di situlah letak pembeda.
Tavares menunjukkan bahwa ia tak menggantungkan nasib tim pada satu bintang. Ia membangun sistem. Ia memanfaatkan kedalaman skuad. Ia menyiapkan variasi taktik sesuai lawan yang dihadapi. Fleksibilitas itu membuat Persebaya bisa bermain spartan ketika dibutuhkan, atau sabar dalam mengontrol tempo.
Laga di Gianyar menjadi contoh konkret. Tanpa komposisi ideal, Persebaya tetap disiplin dalam blok pertahanan, efektif dalam transisi, dan tajam dalam penyelesaian. Francisco Rivera menjadi poros kreativitas, Alfan Suaib muncul sebagai supersub, sementara lini belakang tampil solid tanpa drama berlebihan.
Di Bandung, narasi serupa terbangun dengan cara berbeda. Persib bukan tim yang selalu mendominasi secara mencolok, tetapi mereka tahu bagaimana menjaga ritme kompetisi. Tiga kekalahan dalam 20 laga menunjukkan kestabilan yang jarang dimiliki tim lain. Mereka mungkin tak selalu spektakuler, tetapi sulit ditaklukkan.
Dalam kompetisi panjang, kualitas seperti itu lebih berharga dibanding kemenangan besar yang tak konsisten.
Kekalahan Persija dari Arema di GBK, misalnya, memperlihatkan betapa rapuhnya dominasi jika tidak dibangun di atas konsistensi. Satu momen lengah, satu transisi cepat, dan rekor kandang pun runtuh. Borneo FC pun demikian—tajam dalam beberapa laga, tetapi belum sepenuhnya stabil menghadapi tekanan.
Sementara Persebaya dan Persib, sejauh ini, menunjukkan kedewasaan permainan.
Di Surabaya, dukungan Bonek dan Bonita menjadi energi tambahan. Media sosial dipenuhi optimisme. “Apapun hasilnya musim ini kudu tetep full support Tavares,” tulis seorang suporter. Yang lain berseloroh, “Biarkan Tavares memasak.” Ada pula yang mulai menghitung kemungkinan kembalinya Bruno Moreira dan Milos Raickovic untuk laga berikutnya melawan Bhayangkara FC.
Optimisme itu bukan tanpa dasar. Tavares dikenal sebagai pelatih yang paham detail kompetisi Liga 1. Ia tahu kapan harus pragmatis, kapan harus agresif. Ia berani memberi ruang bagi pemain muda—Dimas Wicaksono, Sadida Putra, hingga Alfan Suaib—tanpa mengorbankan keseimbangan tim.
Empat faktor membuat Persebaya menonjol musim ini: kedalaman skuad, fleksibilitas taktik, keberanian memainkan pemain muda, dan pengalaman pelatih dalam membaca situasi pertandingan. Kombinasi itu menciptakan fondasi yang tidak mudah goyah.
Persib memiliki karakter berbeda, tetapi esensinya sama: kestabilan.
Maka ketika pertanyaan tentang “tim terbaik” muncul, jawabannya tak lagi sesederhana siapa yang berada di posisi pertama. Ia menyentuh dimensi yang lebih dalam—tentang konsistensi, ketahanan mental, dan kemampuan menjaga ritme sepanjang musim.
Super League masih menyisakan banyak pekan. Selisih poin bisa berubah dalam dua atau tiga pertandingan. Namun hingga fase ini, Persebaya dan Persib memperlihatkan kualitas yang membuat mereka layak disebut sebagai yang terbaik—bukan karena gemerlap sesaat, melainkan karena ketangguhan yang berulang.
Dan dalam kompetisi panjang, ketangguhan itulah yang sering kali menjadi penentu akhir cerita.

