FAJAR SEMARANG Di Semarang, harapan selalu punya cara untuk bertahan. Bahkan ketika papan klasemen tak sepenuhnya ramah, bahkan ketika ancaman degradasi terasa nyata, keyakinan itu tetap menyala—di tribun, di ruang ganti, dan di lini masa para suporternya.
Putaran ketiga Championship 2025/2026 menjadi simpang jalan bagi PSIS Semarang. Ini bukan lagi sekadar fase kompetisi. Ini adalah fase bertahan hidup.
Ketua Panser Biru, Kepareng—atau Wareng—menuliskan kalimat yang lebih mirip doa ketimbang sekadar status media sosial. “Skuad untuk putaran ketiga sudah lengkap, saatnya pertempuran. Pemain bertarung di lapangan, suporter di tribun…” tulisnya. Ada nada kesadaran di sana: bahwa musim ini tak mudah, bahwa setiap pertandingan akan menjadi ujian kesabaran.
Di Liga 2, jarak antara bertahan dan terperosok sering kali hanya terpaut satu kemenangan. PSIS memahami itu.
Kekalahan 0-3 dari Kendal Tornado FC menjadi titik balik yang pahit. Jafri Sastra harus mengakhiri masa tugasnya. Pergantian pelatih di tengah kompetisi bukan keputusan ringan. Ia selalu mengandung risiko—baik dari sisi adaptasi taktik maupun stabilitas ruang ganti. Tetapi manajemen tampaknya memilih jalan tegas: perubahan harus dilakukan sebelum semuanya terlambat.
Alfredo Vera datang sebagai Direktur Teknik. Sosok asal Argentina itu bukan nama asing dalam lanskap sepak bola Indonesia. Ia dikenal dengan pendekatan taktik yang disiplin dan penekanan pada organisasi permainan. Meski belum diumumkan siapa yang akan memegang kendali penuh sebagai pelatih kepala, kehadiran Vera memberi sinyal bahwa PSIS ingin membangun ulang fondasi, bukan sekadar tambal sulam.
Langkah lain diambil lewat pergerakan di bursa pemain.
Ibrahim Sanjaya didatangkan dari Persis Solo untuk memperkuat sektor bek sayap. Karakter bermainnya yang agresif dan rajin naik membantu serangan diharapkan memberi dimensi baru di sisi lapangan. Thaufan Hidayat dari Deltras menambah kecepatan di lini sayap—sesuatu yang sempat hilang dalam beberapa laga terakhir PSIS. Sementara Fridolin Kristof Yoku, gelandang bertahan asal Persipura, diharapkan menjadi jangkar yang menenangkan di tengah.
Jika dirangkai, rekrutmen ini memperlihatkan satu pola: PSIS ingin lebih solid. Lebih rapat. Lebih disiplin.
Mode bertahan mungkin terdengar defensif. Tetapi dalam konteks kompetisi, bertahan adalah strategi rasional. Ketika posisi klasemen belum aman, mengumpulkan poin demi poin menjadi prioritas utama. Bermain pragmatis bukan berarti menyerah pada ambisi, melainkan menunda risiko demi stabilitas.
Namun di balik realitas itu, selalu ada ruang kecil bernama keajaiban.
Dalam sepak bola, momentum bisa datang tiba-tiba. Satu kemenangan bisa mengubah psikologi tim. Dua kemenangan beruntun bisa menggeser peta persaingan. Jika putaran ketiga dijalani dengan konsistensi, bukan mustahil PSIS tak hanya menjauh dari zona degradasi, tetapi juga merangsek naik ke papan tengah.
Optimisme Wareng dan Panser Biru bukan sekadar romantisme suporter. Ia adalah energi kolektif yang kerap menjadi pembeda di liga yang keras seperti ini. Di Semarang, dukungan tak pernah setengah hati. Panser Biru dan Snex memahami bahwa musim ini bukan tentang gengsi, melainkan tentang eksistensi.
“Pemain bertarung di lapangan, suporter di tribun.” Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung pembagian peran yang jelas. Sepak bola bukan hanya soal taktik di papan strategi, melainkan juga tentang atmosfer yang mendorong pemain berlari satu langkah lebih jauh.
Putaran ketiga akan menjadi ujian mental. Setiap kesalahan bisa mahal. Setiap peluang harus dimaksimalkan. PSIS dituntut tampil lebih disiplin dalam bertahan, lebih efektif dalam transisi, dan lebih tenang dalam penyelesaian akhir.
Apakah targetnya sekadar selamat dari degradasi? Untuk saat ini, ya—itu prioritas realistis.
Tetapi di ruang-ruang obrolan suporter, selalu ada harapan lebih. Jika ritme kemenangan ditemukan, jika skuad baru cepat menyatu, jika pendekatan taktik Vera memberi dampak instan, bukan mustahil PSIS menatap papan atas dengan cara berbeda.
Sepak bola Indonesia sering menghadirkan cerita tak terduga. Tim yang semula terancam bisa menjelma menjadi penantang. Tetapi semua itu bermula dari satu hal: keberanian menghadapi momen penentuan.
Bagi PSIS Semarang, putaran ketiga bukan sekadar kelanjutan musim. Ia adalah pertarungan identitas. Bertahan di Liga 2 dengan kepala tegak—atau menunggu momentum yang bisa mengubah arah musim.
Di Semarang, doa sudah dipanjatkan. Kini, tinggal bagaimana usaha menjawabnya.


