MALANG, KOMPAS — Seorang wisatawan asal Kecamatan Blimbing, Kota Malang, terseret ombak Pantai Sine di Desa Kalibatur, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Sabtu (7/2/2026). Korban bernama M Attaya Ulun (20) itu akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal, Senin (9/2/2026).
Kepala Kantor SAR Kelas A Surabaya Nanang Sigit mengatakan, korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di perairan Pantai Sine. Penemuan korban berawal dari informasi terkait adanya jenazah di sekitar karang perairan pantai itu.
Menindaklanjuti laporan itu, tim SAR gabungan segera mengirimkan personel ke lokasi untuk memastikan informasi sekaligus mengevakuasi korban. ”Setelah dipastikan benar, tim langsung melaksanakan evakuasi. Proses evakuasi berjalan lancar,” ujar Nanang.
Sebelumnya, tim SAR gabungan telah berupaya mencari korban melalui jalur laut dan darat. Pencarian dilakukan sejak tim SAR menerima laporan terkait kecelakaan laut tersebut. Personel dari Pos SAR Trenggalek pun dikerahkan guna membantu upaya pencarian bersama potensi SAR di wilayah setempat.
Selain Pos SAR Trenggalek, sejumlah pihak juga terlibat dalam pencarian, misalnya tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah Tulungagung, Pos TNI Angkatan Laut Popoh, Satuan Kepolisian Perairan dan Udara (Satpolairud) Popoh, Polsek Kalidawir, Koramil Kalidawir, Banser Tanggap Bencana (Bagana), warga, dan nelayan.
Pencarian dilakukan dengan mengerahkan dua unit atau regu. Unit pertama melakukan penyisiran di permukaan perairan menggunakan perahu karet dengan cakupan area seluas 1,43 mil laut. Adapun unit kedua melakukan pencarian di bawah air dengan penyelaman di sekitar lokasi kejadian.
Dalam pencarian bawah air, tim penyelam menghadapi sejumlah kendala, terutama terbatasnya jarak pandang di dalam air. Kondisi visibilitas yang rendah menjadi tantangan utama bagi penyelam saat melakukan pencarian.
Sementara itu, Koordinator Pos SAR Trenggalek, Bayu Prasetyo, mengatakan, korban ditemukan pada Senin pukul 05.45 WIB. Lokasi penemuan berjarak sekitar 100 meter dari lokasi korban tenggelam. Pada pukul 06.30, jenazah korban berhasil dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Dokter Umum (RSUD) Dr Iskak, Tulungagung, untuk mendapat penanganan selanjutnya.
Bayu memaparkan, musibah ini berawal saat korban bersama tiga rekannya sesama warga Malang berwisata ke Pantai Sine. Ketiganya adalah AW Ubaidilah (19), Fikri (20), dan A Riskilah (20). Begitu tiba di pantai pada Sabtu sekitar pukul 10.00, mereka bermain air di tepi muara pantai Sine.
Tidak jauh dari mereka, ada dua orang wisatawan lain asal Kabupaten Ponorogo, Jatim, yakni Resta (25) dan Andri (49). Kedua wisatawan itu tengah berenang di pantai, tetapi tiba-tiba ombak besar datang sehingga mereka terseret dan nyaris tenggelam.
Mengetahui peristiwa tersebut, korban bersama tiga rekannya berupaya menolong. Namun, saat memberikan pertolongan, korban yang diduga kelelahan tidak kuat menepi sehingga akhirnya tenggelam. Adapun tiga rekannya dan dua wisatawan asal Ponorogo berhasil menepi.
Kecelakaan laut di pesisir selatan Jawa memang kerap terjadi. Tak hanya di Tulungagung, tetapi juga di pantai-pantai lain, baik di Jatim, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat. Tak seperti Laut Jawa yang cenderung tenang, ombak dan gelombang di pantai selatan relatif besar, terutama di waktu-waktu tertentu.
Pakar pariwisata Universitas Brawijaya, Malang, A Faidlal Rahman, mengatakan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh wisatawan saat berwisata di pantai agar selalu aman dan terhindar dari hal tidak diinginkan.
Pertama, perhatikan peringatan dan rambu keselamatan. “Setiap wisatawan harus selalu membaca papan peringatan di area pantai. Jika tertulis ‘zona berbahaya’ atau ‘dilarang berenang’, jangan abaikan. Ombak pantai selatan terkenal kuat dan arus baliknya sangat berisiko,” ucap Faidlal.
Kedua, jangan berenang sembarangan. Hindari berenang terlalu jauh dari bibir pantai, apalagi jika tidak ada pengawasan petugas. Hal ini karena ombak besar bisa datang tiba-tiba dan menarik wisatawan ke tengah laut.
Ketiga, gunakan perlengkapan keselamatan. Jika ingin melakukan aktivitas di laut, gunakan pelampung atau alat keselamatan lainnya. Hal ini penting terutama bagi anak-anak atau yang tidak mahir berenang.
“Keempat, patuhi arahan petugas. Jika petugas menyarankan untuk tidak berenang atau menjauh dari area tertentu, ikuti tanpa kompromi. Keselamatan selalu lebih penting daripada kesenangan sesaat,” ujar Faidlal.
Menurut Faidlal, berwisata secara berkelompok juga lebih disarankan. Dia mengingatkan, wisatawan sebaiknya tidak pergi ke pantai seorang diri. Dengan datang berkelompok, bantuan akan lebih cepat jika terjadi keadaan darurat. Di sisi lain, wisatawan juga perlu memahami karakter pantai yang dikunjunginya.
Faidlal menambahkan, pengelola pantai juga perlu menyediakan peralatan dan prasarana yang dapat mendukung keamanan dan kenyamanan wisatawan. Papan peringatan dan zona larangan beraktivitas di wilayah berbahaya harus ada.
Faidlal juga menilai, masih ada wisatawan yang masih abai saat berwisata di pantai. Mereka tidak mau mematuhi berbagai aturan yang dinilai ribet. “Kecuali petugas ekstra keras mengingatkan, baru wisatawan mematuhinya,” ucapnya.
Jika petugas menyarankan untuk tidak berenang atau menjauh dari area tertentu, ikuti tanpa kompromi. Keselamatan selalu lebih penting daripada kesenangan sesaat





