Bisnis.com, JAKARTA — PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mencabut status pemantauan khusus atas saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk. (RLCO).
Berdasarkan pengumuman Bursa No. Peng-CK-00023/BEI.PLP/02-2026, emiten sarang burung walet ini dinyatakan keluar dari Daftar Efek Bersifat Ekuitas Dalam Pemantauan Khusus (FCA). Keputusan tersebut sekaligus mengembalikan posisi pencatatan RLCO ke Papan Pengembangan.
Kepala Divisi Peraturan dan Layanan Perusahaan Tercatat BEI, Teuku Fahmi Ariandar, mengatakan bahwa perubahan status RLCO yang melantai sejak 8 Desember 2025 ini, mulai berlaku efektif pada Selasa (10/2/2026).
“Bursa mengumumkan pencabutan efek bersifat ekuitas dari pemantauan khusus bagi RLCO. Papan pencatatan berubah dari pemantauan khusus kembali ke papan pengembangan,” tulis pengumuman resmi BEI, Senin (9/2/2026).
Sebelumnya, RLCO masuk dalam radar pemantauan khusus karena memenuhi kriteria nomor 10. Kriteria tersebut merujuk pada kondisi emiten yang dikenakan penghentian sementara (suspensi) perdagangan efek selama lebih dari satu hari bursa yang disebabkan oleh aktivitas perdagangan tertentu.
BEI diketahui sempat menetapkan suspensi saham RLCO sejak 21 Januari 2026 lantaran adanya peningkatan harga kumulatif yang signifikan.
Baca Juga
- Bocoran Samuel Sekuritas soal Calon Emiten IPO 2026 Usai RLCO
- Kisi-kisi Harga Tinggi Saham RLCO, Emiten Sarang Walet yang Hampir Sepekan Disuspensi
- Geliat Investor Asing di Saham RLCO saat Harga Kian Menjulang
Dengan keluarnya status ini, RLCO dinilai telah memenuhi persyaratan untuk kembali diperdagangkan dengan mekanisme reguler di Papan Pengembangan, setelah sebelumnya berada dalam pengawasan intensif otoritas bursa.
Saat ini, harga saham RLCO bertengger di level Rp6.075 per saham. Banderol tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 244,19% dalam 3 bulan terakhir, tetapi melemah 14,13% dalam sepekan perdagangan terakhir.
Dalam pemberitaan Bisnis sebelumnya, Samuel Sekuritas sempat menyematkan rekomendasi optimistis terhadap saham RLCO dengan target harga saham yang diproyeksikan dapat meningkat ratusan persen.
Kenzie Keane dan Jonathan Guyadi, analis Samuel Sekuritas Indonesia, menyampaikan bahwa proyeksi tersebut didukung oleh peluang masuknya saham RLCO ke dalam MSCI Indeks.
“Potensi kenaikan harga sebesar 820% berasal dari potensi masuknya saham Big Cap ke dalam indeks MSCI Indonesia,” demikian tulis Kenzie dan Jonathan dalam laporan Samuel Sekuritas Indonesia, Senin (26/1/2026).
Berdasarkan perhitungan Samuel Sekuritas, dengan asumsi peningkatan kapitalisasi pasar yang disesuaikan atau adjusted market cap menjadi Rp5,5 triliun atau Rp 8.800 per saham, RLCO berpotensi memenuhi syarat untuk dimasukkan ke dalam MSCI Indonesia Small Cap Index.
Meski demikian, Samuel Sekuritas menetapkan target harga yang jauh lebih tinggi lantaran dipandang memiliki kans untuk masuk ke indeks yang lebih tinggi yakni MSCI Indonesia Global Standard Index alias kategori big caps.
“Kami menetapkan target harga kami di Rp80.000 per saham dengan potensi kenaikan hingga 820%, sejalan dengan prediksi kami tentang RLCO setelah masuk ke Indeks MSCI Large Cap dengan kapitalisasi pasar yang disesuaikan sebesar Rp50,1 triliun. Rekomendasi speculative-buy.”
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.



