Penulis: Fityan
TVRINews – Jakarta
Gunakan teknologi canggih demi standar premium Arab Saudi.
Perusahaan Umum (Perum) Bulog mengumumkan langkah strategis untuk menembus pasar Arab Saudi dengan memproduksi beras premium khusus bagi jemaah haji Indonesia.
Dalam upaya memenuhi standar ketat internasional, Bulog resmi menggandeng fasilitas penggilingan milik Wilmar yang dikenal memiliki teknologi tinggi.
Keputusan ini merupakan respons cepat terhadap instruksi pemerintah untuk menyediakan komoditas pangan berkualitas tinggi yang berasal dari hasil tani lokal yang masih segar.
Teknologi Canggih untuk Kualitas Premium
Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa pemilihan fasilitas Wilmar didasarkan pada kebutuhan akan akurasi pengolahan.
Beras yang diminta oleh pihak Arab Saudi memiliki spesifikasi teknis yang sangat spesifik, terutama terkait tingkat kerusakan butir beras (broken rice).
"Arahan dari Menteri Pertanian kepada kami untuk menyiapkan beras yang masih fresh untuk diekspor ke Arab Saudi, dan sesuai saran Pak Menko Pangan (Zulhas), kita gunakan alat penggilingan yang ada di Wilmar. Kenapa di Wilmar? Karena Wilmar punya alat yang canggih. Dengan komputerisasi dan hasilnya bagus sekali," ujar Rizal saat ditemui di kantor Kemenko Pangan, Senin 9 Februari 2026.
Langkah kolaborasi ini juga telah mengantongi lampu hijau dari pihak berwenang, mengingat status fasilitas tersebut.
"Izinnya dari Bareskrim kemarin. Kami sudah dapet izinnya untuk pinjam dan pakai penggilingan Wilmar," tambahnya.
Memenuhi Standar Global
Tantangan utama dalam ekspor ini adalah memenuhi ketentuan buyer di Arab Saudi yang didominasi oleh pengelola dapur jemaah haji.
Standar yang ditetapkan adalah kadar patah maksimal 5%, jauh di bawah standar minimum beras premium domestik yang biasanya berada di angka 15%.
Melalui integrasi gabah kering panen (GKP) yang baru dipetik dengan sistem komputerisasi Wilmar, Bulog mengklaim telah berhasil melampaui ekspektasi tersebut.
"Kami sudah bisa mengolah gabah menjadi beras premium dengan pecahan 5% dan kadar air di bawah 14%, sesuai dengan permintaan dari buyernya yang ada di Arab Saudi, karena para buyer-buyer itu adalah para pengelola dapur-dapur jemaah haji Indonesia," jelas Rizal.
Selain kualitas fisik, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menekankan aspek kesegaran produk. Berbeda dengan stok cadangan pangan yang biasanya disimpan dalam waktu lama, beras ekspor ini diproses langsung dari gabah yang baru saja dipanen.
Editor: Redaktur TVRINews



