REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Sejumlah pasien cuci darah yang terdaftar dalam program BPJS Kesehatan penerima bantuan iuran (PBI) di Kota Bandung masih kesulitan melakukan reaktivasi kepesertaan. Akibatnya, yang bersangkutan terpaksa menggunakan BPJS kesehatan untuk mandiri.
"Kebetulan tadi sudah cek ke salah satu pasien dari RSKG Habibie apa sudah aktif, (ternyata) belum masih aktif (gunakan) non-PBI," ucap koordinator komunitas pasien cuci darah Kota Bandung Rini YS saat dikonfirmasi, Senin (9/2/2026).
- Peran Rusia dan Deretan Rudal-Rudal Balistik Canggih Iran Termasuk Khorramshahr-4
- Menhut Tekankan Reformasi Tata Kelola Hutan untuk Cegah Bencana dan Dukung Ekonomi
- Utang Proyek Whoosh Rp 116 Triliun, Dirut PT KAI: Sudah Beres
Ia menuturkan pasien yang bersangkutan terpaksa mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS kesehatan mandiri karena sudah terlewat untuk cuci darah. Pihaknya tengah mendorong agar pasien cuci darah PBI untuk segera melakukan reaktivasi.
"Kami KPCDI masih memproses untuk reaktivasi PBInya," kata dia.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Ia memperoleh informasi jika reaktivasi bakal dibantu oleh pusat sehingga di mobile JKN dapat terlihat langsung status kepesertaan. Sedangkan saat dicek pasien yang bersangkutan masih menggunakan non-PBI. "Yang lain alhamdulillah, awal pas rame 24 tapi ke sini konfirmasi ulang yang satu masih belum aktif," kata dia.
Rini mengaku merupakan salah satu pasien cuci darah di RSHS Bandung yang menggunakan BPJS kesehatan mandiri. Ke depan, ia berharap Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah bersama-sama membuat survei untuk mendata masyarakat yang betul memerlukan BPJS kesehatan PBI.
Ia mengecam peristiwa penonaktifan kartu peserta BPJS BPI yang berujung penolakan oleh rumah sakit kepada pasien cuci daerah terjadi. Sebab, bagi pasien cuci darah jadwal yang sudah ditetapkan tidak boleh terlewat karena bertaruh dengan nyawa.
"Mestinya gitu jangan ditolak, bahaya pasien cuci darah, jangankan terlewat HD. Ini penolakan sebetulnya gak boleh ditolak karena pasien cuci darah satu dia rutin sepekan dua kali kalau terlewat jadwalnya bakal racun tambah numpuk," kata dia.
Ia menyebabkan tubuh pasien cuci darah yang telat cuci darah dapat bengkak dan sesak. Bahkan bisa berdampak kepada paru-paru dan jantung terendam. "Fatalnya bisa meninggal," kata dia.


