Obrolan tentang Indonesia dan Malaysia yang menjadi dua negara serumpun tapi beda nasib memang sudah banyak diperbincangkan orang. Tapi bagiku, dalam romansa pun hal ini jadi topik pembicaraan.
Dimulai dari obrolan makan malam di Puchong, Selangor ketika aku menjemput kekasih usai ia pulang kerja, kami banyak membahas soal kendaraan. Seketika tercetus pertanyaan darinya soal mobil nasional.
“Ah, di sini kan sudah banyak ya ada Perodua, Proton, kok di ‘Indo’ belum ada ya? banyakan merek Jepang,” tanyanya dengan polos
Ya, dalam perjalanan romansaku dengan seorang diaspora sekaligus teman lamaku yang sudah beberapa tahun hidup di negeri jiran, obrolan kami selama ini memang tak sekadar membahas hal-hal romantis, masa depan, keluarga dan keseharian. Topik seberat sejarah dan politik pengaruh juga mewarnai hubungan kami.
Ku kira pertanyaannya usai di situ, Alya panggilanku kepadanya dalam kondisi apa pun memang wanita cerdas, pandai bertanya dan ku kenal sangat ambisius selama tujuh tahun ku mengenalnya. Ia justru memperdalam pertanyaan menjadi jurang singkat yakni Indonesia yang tertinggal jauh dari Malaysia dalam banyak hal.
Sebut saja industri, ketenagakerjaan, pendidikan, sistem transportasi, kurs mata uang bahkan stabilitas politik. Satu lagi pernyataannya yang menghantamku ketika menyeruput minuman usai makan membawaku semakin yakin bahwa memang negara asalku dibentuk tanpa desain.
“Ya, kita ketinggalan jauh kan. Memang pada dasarnya dulu Indonesia kebelet merdeka sih, keburu-buru kan? Jadi enggak di desain,” ujar Alya.
Pernyataan itu memang selaras dengan keyakinanku selama ini bahwa Indonesia merupakan negara tanpa desain matang. Namun, aku tak percaya pernyataan itu dikeluarkan dari kekasih sendiri.
Menurut keyakinan saya, Indonesia memang tidak memiliki desain matang dalam bernegara. Sebagian orang menyebut ‘kan kita punya Pancasila’ atau sebagian lainnya ‘kan kita sudah punya UUD 1945 yang dirumuskan bersama’, rasanya saya ingin tampar mereka bahwa ‘apakah Pancasila dan UUD 1945 diturunkan menjadi hal teknis yang tujuannya memajukan bangsa?’, selama ini menurut saya itu belum berlangsung.
Alya pun sepakat dengan hal itu dalam konteks dia sebagai lawan bicaraku mengenai topik tersebut di Puchong saat itu. Dari situ, aku memperdalamnya lagi bahwa aku merasa sepertinya ada yang salah dari momen proklamasi yang terjadi di 17 Agustus 1945 saat itu.
Bayangkan, kita saja merdeka dengan cara ‘nyolong’. Anggaplah aku salah menilai karena mungkin situasi saat itu memang mengharuskan kita untuk menjadi bangsa maling. Lebih lanjut, bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, bisa-bisanya hal itu tiba-tiba disepakati dan ditetapkan hanya H+1 seusai merdeka.
Padahal, jika bicara Indonesia sebagai bekas jajahan Belanda, strukturnya sangat heterogen. Banyak kerajaan-kerajaan kecil yang bukan hanya tersebar di Jawa namun juga Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Sunda Kecil dan banyak daerah lainnya. Apa mereka di hari itu langsung sepakat ‘ya kami akan bergabung’, saya rasa tidak.
Hal ini karena sampai hari ini tak ada dokumen atau transisi resmi dengan bukti konkret bahwa para raja-raja menyerahkan wilayahnya dan menyatakan bergabung ke Republik Indonesia tanpa paksaan kecuali kerajaan-kerajaan di Jawa.
Dari situ, konsep Republik Indonesia menurut saya saja sudah salah. Saya mungkin tak mau membahas panjang lebar soal ini, namun mari lihat negeri jiran yang dari struktur sistem bernegaranya saja sudah jelas.
Saya memang tak hafal seluruh kerajaan di Malaysia, namun Alya menjelaskan terdapat 9 kerajaan di sana. Tidak seperti Indonesia yang tidak bisa membedakan mana ‘negara’ dan mana ‘pemerintah’, negeri jiran lebih jelas soal batasan itu.
Di sana, 9 kerajaan akan berunding dalam periode waktu tertentu untuk memilih siapa yang menjadi kepala negara. Sementara kepala pemerintahan yakni Perdana Menteri akan dipilih dengan pemilu.
Batasan antara negara dan pemerintah inilah yang saya kagumi. Saya melihat perlu ada kekhususan pada jabatan kepala negara agar posisi itu bisa menjadi ‘pusaka’. Setidaknya jika ada yang benci terhadap sistem pemerintahan, mereka tak langsung benci kepada negara seperti di Indonesia, haha.
Cukup bahasan soal politik, saya nilai Indonesia kalah jauh. Banyak faktor yang saya tak berani sebut, namun jelas, Malaysia merdeka dengan persiapan, Indonesia merdeka dengan terburu-buru karena mengejar kesempatan.
Malaysia Kota Rapih dan Indonesia yang SemrawutBerlanjut dari politik, ah tapi tak bisa lepas juga dari politik. Karena dengan sistem politik yang jelas dan stabil lah perencanaan bisa dirumuskan dan dilaksanakan dengan baik.
Kami berdua lanjut bicara soal gaji minimum, kemudahan bekerja dan pendidikan. Ah, tapi aku tidak akan bahas itu karena miris. Coba aku bahas soal tata letak kota dan sistem rumah saja dahulu.
Walau beda suku, aku Jawa dan Alya Minang, kami sama-sama besar di Jakarta. Alya di Kampung Melayu dan saya di Condet. Beberapa kali kami jalan berdua di Jakarta, Alya memang kerap protes soal macet. Jawaban saya secara singkat dan malas tetap sama ‘ah ya kan Jakarta selain yang didesain Belanda mah dibangun dulu baru didesain’.
Lanjut di Kuala Lumpur dan beberapa kota di Malaysia seperti Melaka, George Town, Seremban, Johor dan beberapa yang saya dan Alya tau, kami selalu menemui kota yang serasa didesain.
“Emang semua kota di sini didesain dulu ya? apa karena ini dijajah Inggris?” tanyaku ke Alya.
Tapi jawabannya tak semudah itu, jika bicara siapa dijajah siapa, Belanda mendesain ‘Oud Batavia’ dengan sangat baik. Sialnya saja ada ledakan penduduk di Jakarta, alhasil wilayah yang tadinya bukan kota dan daerah hijau dipaksa jadi pemukiman.
Jika berbicara pemukiman, di Kuala Lumpur pusat atau KLCC, kini bahkan hanya tersisa satu kampung yakni Kampong Baru yang menolak punah. Alih-alih kumuh, justru saat aku ke sana, wilayah itu berasa jadi tempat unik yang tertata.
Berbeda dengan Jakarta, ah saya tak mau sebut mana saja karena terlalu banyak wilayah dengan ketidakjelasan tata letak pemukiman. Aku juga sempat bercerita ke Alya bahwa di sepanjang jalan ke Puchong dari Kuala Lumpur, aku selalu menemukan hunian vertikal.
Alya bilang, kebanyakan hunian di sana memang seperti itu. Dalam hatiku, ah sialnya Jakarta tak seperti ini. Ketika ku perdalam, sistem pemukiman di Kuala Lumpur memang disiapkan sejak awal Malaysia merdeka. Ya, awal merdeka.
Bukan seperti Soekarno yang justru mementingkan pembangunan Monas, Gelora Bung Karno, Patung Dirgantara, Bundaran HI dan sebagainya. Ya itu tidak salah, tapi aturan permukiman atau ‘grand design’ mengenai apakah Jakarta harus mengusung konsep landed atau vertical housing oriented malah terlupakan. Hasilnya sekarang sistem pemukiman di Jakarta sangat busuk.
Kata kuncinya adalah desain konsep, dengan begitu pemukiman bisa rapi, terkonsep dan terjangkau. Ketika saya riset, Malaysia memang memiliki program perumahan terjangkau sejak 1957 dan memiliki konsep keberlanjutan yang rapih terkait pemukiman, bayangkan di era itu Soekarno sedang sibuk apa?. Saya tidak mau bahas banyak, BP Tapera saja baru dibentuk 2020, sangat terlambat.
Ah, ketinggalan, soal tata letak kota, saya iri dengan tingkat kemacetan. Terlepas dari jumlah penduduk Jakarta yang lebih meledak ketimbang Kuala Lumpur, saya melihat rotasi harian masyarakat di sana bukan tertuju pada satu arah.
Di Jakarta, setiap harinya ketika saya mengarah ke Jakarta Pusat atau sekitaran Jakarta Selatan, pasti kemacetan parah akan saya dapati. Hal ini karena pekerja dari berbagai arah seperti Bekasi, Tangerang, Bogor, Depok rata-rata menuju ke titik yang sama.
Hal ini terbalik di Kuala Lumpur, contoh kecilnya rotasi masyarakat Kuala Lumpur ke Puchong atau sebaliknya. Alya menjelaskan panjang lebar soal itu, tapi saya hanya memberi gambaran singkat.
Di sana, masyarakat yang bekerja tak terpusat pada satu titik. Pekerja yang tinggal di Kuala Lumpur belum tentu bekerja di sana dan pekerja yang tinggal di Puchong belum tentu bekerja di Kuala Lumpur. Justru, banyak pekerja yang tinggal di Kuala Lumpur tapi bekerja di Puchong atau sebaliknya. Hal ini membuat rotasi masyarakat tak terpusat pada satu titik, keramaian transportasi umum dan kemacetan tak meledak dalam satu waktu.
Indonesia Boleh Kalah, Tapi Tak soal Film dan MusikSudahlah sesi pesimismenya, dari obrolan itu Alya memang sedih soal Indonesia. Saya pun sama. Ada satu hal yang sangat disayangkan olehnya.
“Sayang ya kita (Indonesia) justru ketinggalan, padahal di sini orang-orang suka musiknya, filmnya, bahkan banyak yang belajar soal itu,” kata Alya.
Aku terkejut, soal musik memang aku sudah tau, tapi soal film? Aku baru tau ini, sekarang. Dari mental inferior, tiba-tiba aku bangga sedikit, haha.
Alya cerita bahwa banyak temannya yang kini mempelajari perfilman dari Indonesia. Ya, aku memang bukan cinephile tapi aku sedikit mengerti dunia perfilman. Menurut Alya, perfilman di negeri jiran memang tak semaju di Indonesia.
Hal itu mendorong banyak industri kreatif di sana kini tengah mengejar ketertinggalan itu. Begitupun terkait musik. Bicara musik, mungkin kini banyak yang kenal dengan Noh Salleh atau Masdo, mereka sejatinya juga erat kaitannya dengan pengaruh band asal Indonesia, Sore.
Hari itu terasa panjang, obrolan kami usai pukul sepuluh malam, aku bergegas kembali ke Kuala Lumpur untuk istirahat. Alya juga kembali ke apartemennya di Puchong untuk istirahat, sesampainya di gate Stasiun LRT IOI Puchong Jaya, aku baru ingat dua pucuk bunga di tasku masih ada, aku pun berlari dari stasiun ke lobby apartemennya sejauh 2 km, untungnya Alya masih di bawah.
“Makasi ya hari ini, tadi ini bunga iseng beli di Pasar Seni, hehe,” ujarku yang terlena dalam asmara menutup hari.





