PM Jepang Sanae Takaichi meraih kemenangan telak dalam pemilu parlemen yang digelar pada Minggu (8/2). Partai Demokrat Liberal (LDP) yang dipimpin Takaichi bersama koalisi barunya, Japan Innovation Party (JIP) menguasai total 352 kursi di DPR Jepang.
Kemenangan telak Takaichi dan koalisinya ini mendapat respons positif dari pasar Jepang. Dikutip dari Bloomberg, Selasa (10/2), indeks saham Jepang melonjak ke rekor tertinggi pada Senin (9/2).
Mata uang yen dan obligasi pemerintah terpantau lebih tenang daripada yang dikhawatirkan banyak pihak setelah berminggu-minggu mengalami volatilitas yang dipicu kekhawatiran tentang keberlanjutan fiskal.
Respons dari investor menunjukkan bahwa mereka bersedia memberikan kesempatan kepada Takaichi dan LDP. Mereka bertaruh bahwa kursi mayoritas supernya akan memungkinkan kejelasan kebijakan dan mengurangi risiko skenario fiskal terburuk.
"Kemenangan besar LDP dalam pemilu akan memberikan dorongan bagi pasar saham," kata Frederic Neumann, kepala ekonom Asia di HSBC Holdings Plc.
Neumann kemudian menggarisbawahi mandat Takaichi yang diperkuat untuk mengejar reformasi struktural yang dapat meningkatkan produktivitas dan keuntungan perusahaan.
"Yang terpenting, mayoritas pemerintah yang besar juga harus memastikan bahwa pengeluaran fiskal tetap lebih terkendali, sehingga mengurangi risiko gejolak pasar obligasi," ujarnya.
Pandangan tersebut juga mendapat dukungan dari kalangan investor yang melihat hasil pemilu sebagai upaya mengurangi kebisingan politik daripada memicu pengeluaran besar-besaran secara langsung. Imbal hasil obligasi Jepang jangka panjang dengan cepat turun, meski awalnya sempat melonjak. Ini meredakan kekhawatiran akan aksi jual besar-besaran yang memicu penurunan tajam pasar obligasi awal tahun ini.
Yen juga menguat hingga 0,6 persen menjadi 156,22 terhadap dolar AS, menjauh dari zona 160 per dolar yang sebelumnya mendorong otoritas Jepang melakukan intervensi di pasar. Kedua mata uang itu diperdagangkan sekitar 156,50.
Jaminan dari para pembuat kebijakan turut membuat sentimen jadi stabil. Menkeu Jepang Satsuki Katayama menekankan bahwa pemotongan pajak konsumsi yang diusulkan akan dibatasi hingga dua tahun hanya berlaku untuk makanan, dan tidak akan didanai melalui penerbitan utang tambahan.
Sementara itu, Takaichi menekankan akan menjalankan kebijakan fiskal yang bertanggung jawab dan proaktif.
"Kemenangan telak LDP tidak memberi Takaichi kebebasan untuk menghabiskan uang begitu saja. LDP konservatif secara fiskal dan Takaichi sangat memperhatikan investor obligasi," kata Sree Kochugovindan, ekonom riset senior di Aberdeen Investments.
Tak hanya itu, kepala riset di Phillip Securities Japan Ltd., Kazuhiro Sasaki, menyatakan fakta bahwa partai oposisi tidak memperoleh kemajuan berarti di pemilu berarti pemotongan pajak konsumsi permanen praktis tidak mungkin dilakukan sekarang.
"Dan itu menjadi kabar baik bagi pasar obligasi dan mendukung yen," kata Kazuhiro.
Para investor memperhatikan hal ini. Pasca pemilu, para ahli strategi di JPMorgan Chase & Co. menaikkan target akhir tahun mereka untuk Indeks Saham Nikkei 225 menjadi 61.000 dengan alasan ekspektasi stabilitas politik yang lebih besar. Ukuran itu menambah sebanyak 5,7 persen menjadi 57.337 di Tokyo.
Para analis memperkirakan sektor-sektor seperti pertahanan dan semikonduktor yang kemungkinan akan diuntungkan dari rencana pengeluaran Takaichi akan mendapat dorongan lebih lanjut.
"Dari sudut pandang pasar saham, kemenangan telak LPD sangat diinginkan karena menghilangkan sebagian besar ketidakpastian politik yang telah menghantui partai penguasa sejak pembunuhan [mantan PM Jepang] Shinzo Abe," kata ahli strategis di Asymmetric Advisor, Amir Anvarzadeh. Abe merupakan mentor Takaichi.
Di sisi lain, traders sangat menyadari bahwa ruang gerak Jepang dalam kebijakan fiskal dan moneter telah menyempit, dan bahwa pasar obligasi dan mata uang akan merespons dengan cepat jika rencana pengeluaran mulai terlihat tidak didanai atau tekanan inflasi meningkat.
Ke depan, pasar akan meninjau seberapa cepat momentum pemilu diterjemahkan menjadi tindakan kebijakan. Sesi parlemen luar biasa diperkirakan akan digelar secepatnya Februari untuk memulai pembahasan anggaran fiskal 2026.
Perhatian juga akan terfokus pada hubungan AS-Jepang. Takaichi dijadwalkan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih pada 19 Maret. Keduanya diprediksi akan mendiskusikan banyak hal, di antaranya pengeluaran pertahanan hingga komitmen investasi di bawah paket stimulus Jepang senilai USD 550 miliar.
Untuk saat ini, setidaknya pasar menemukan ketenangan.
“Keputusan Takaichi untuk mengadakan pemilihan umum sela lebih awal jelas telah membuahkan hasil,” kata ahli strategi pasa global untuk Asia Pasifik di Invesco Ltd., David Chao.
“Kombinasi stabilitas politik, keberlanjutan kebijakan, dan opsi reformasi kemungkinan akan dipandang positif oleh pasar, memperkuat prospek konstruktif yang terus saya miliki untuk aset berisiko Jepang,” tuturnya.





