Indonesia Berpeluang Kuasai Pasar Hilirisasi Logam Tanah Jarang hingga Rp124,76 Triliun

bisnis.com
20 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Badan Industri Mineral (BIM) mengungkapkan Indonesia berpotensi memperoleh nilai pasar dari hilirisasi logam tanah jarang (LTJ) sebesar US$7,42 miliar atau setara Rp124,76 triliun (asumsi kurs Rp16.815 per US$) pada 2030.

Hal itu disampaikan Kepala BIM, Brian Yuliarto, dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (9/2/2026). Brian menyebut, nilai pasar hilirisasi LTJ secara global mencapai US$95 miliar, dan Indonesia berpotensi menguasai 1%–5% dari nilai pasar global tersebut. Dengan kata lain, potensi nilai pasar LTJ Indonesia mencapai sekitar US$4 miliar.

“Kami mencoba menganalisis pasar atau potensi yang dapat Indonesia mainkan di kisaran 1%–5% industri dunia,” ujar Brian.

Namun, dia menambahkan, potensi nilai pasar untuk Indonesia bisa lebih besar. Sebab, LTJ terkait dengan mineral ikutan lain seperti besi (Fe), titanium (Ti), aluminium (Al), hingga silika (Si).

Pemanfaatan mineral ikutan tersebut melalui hilirisasi diperkirakan bisa menghasilkan nilai pasar tambahan US$3,42 miliar. Dengan demikian, total potensi nilai pasar hilirisasi LTJ yang dapat diraup Indonesia mencapai US$7,42 miliar.

“LTJ berikat dengan mineral lainnya, dan mineral tersebut juga bisa dimanfaatkan melalui hilirisasi. Sehingga total potensi yang bisa dimanfaatkan Indonesia mencapai US$7,42 miliar,” jelas Brian.

Baca Juga

  • Lobi Trump, RI Buka Akses Mineral Kritis untuk AS, Nikel hingga Logam Tanah Jarang
  • Tok! BUMN Kelola Tambang Mineral Radioaktif dan Logam Tanah Jarang
  • AS Targetkan Deal Logam Tanah Jarang dengan China Rampung Akhir Bulan Ini

BIM sendiri baru dibentuk oleh Presiden Prabowo Subianto pada 2025, khusus untuk mengembangkan potensi LTJ di Tanah Air.

Dalam kesempatan terpisah, Brian menyebut tiga lokasi dengan potensi kandungan LTJ, yakni Bangka Belitung, Mamuju, dan wilayah Sulawesi. Dia menekankan, LTJ saat ini menjadi mineral yang menjanjikan dan memiliki potensi besar untuk meningkatkan pendapatan negara.

LTJ merupakan sekelompok 17 unsur kimia dengan sifat unik yang sangat penting untuk berbagai teknologi modern, termasuk perangkat elektronik, kendaraan listrik, dan teknologi pertahanan.

Brian menambahkan, saat ini berbagai universitas tengah meneliti potensi LTJ di Indonesia sekaligus mempelajari proses pemurniannya. Proses tersebut membutuhkan teknologi tinggi, sehingga LTJ kini menjadi primadona di berbagai negara.

Mineral ini sangat dibutuhkan di pasar global. Bahkan, China menjadikan LTJ sebagai salah satu alat negosiasi tarif perdagangan dengan Amerika Serikat (AS).

Saat ini, pengelolaan LTJ di Indonesia dilakukan oleh PT Timah Tbk (TINS), namun prosesnya masih stagnan selama satu dekade.

Terbaru, TINS mengungkapkan potensi monasit di Kepulauan Bangka Belitung mencapai 25.700 ton, sehingga perusahaan terus berupaya mempercepat pengembangan Pilot Plant LTJ di Tanjung Ular, Kabupaten Bangka Barat. Monasit merupakan salah satu logam tanah jarang ikutan yang berasal dari kegiatan penambangan bijih timah.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
KPK Endus Transaksi Rasuah Pakai Mata Uang Kripto
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Petunjuk dari Arah Angin serta Jejak Kaki dan Kotoran Onta Bantu Julian Johan di Reli Dakar 2026
• 10 jam lalurepublika.co.id
thumb
Vendor Chromebook Pernah Rapat Bareng Nadiem-Luhut Bahas TKDN
• 21 jam lalukompas.com
thumb
Dilantik Jadi Deputi Gubernur BI, Misbakhun Harap Thomas Berikan Tone Positif
• 23 jam lalutvrinews.com
thumb
Ombudsman NTT Larang Sanksi untuk Siswa yang Tak Bayar Sumbangan
• 30 menit lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.