PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) merespons penurunan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s dari stabil menjadi negatif. Pengumuman ini dinilai berpotensi memengaruhi industri perbankan domestik.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu mengatakan pihaknya akan bertemu lembaga pemeringkat internasional itu untuk menjelaskan profil kredit jangka panjang perseroan agar peringkat bank dapat ditinjau ulang. Menurutnya, perubahan outlook dapat berdampak pada akses pinjaman luar negeri dan penerbitan instrumen investasi seperti obligasi internasional oleh perbankan.
“Kalau asing tuh biasanya karena kami punya pinjaman atau instrumen yang dikeluarkan di luar negeri, yang kami jual di luar negeri atau kami beli di luar negeri. Nah ini memerlukan rating,” Nixon dalam konferensi persnya di Menara BTN, Jakarta, Senin (9/2).
Di sisi lain, Nixon juga menilai penurunan peringkat kredit negara dapat melemahkan daya tawar obligasi korporasi. Ia menjelaskan peringkat kredit perusahaan umumnya tidak bisa melampaui peringkat negara sehingga apabila peringkat Indonesia turun, rating korporasi bakal ikut turun.
“Nah terus dampaknya apa? Ya kalau kami nerbitin surat utang, maka tawar-menawarnya menjadi lebih mahal,” ucapnya.
Sebelumnya Moody’s Ratings menurunkan outlook lima bank jumbo di Indonesia dari stabil menjadi negatif dalam pengumumannya hari ini, Jumat (6/2), salah satunya BTN. Hal ini menyusul revisi outlook peringkat utang Pemerintah Indonesia yang sebelumnya disampaikan kemarin. Meski demikian, Moody’s tetap mempertahankan peringkat kredit masing-masing bank.
Moody’s juga sempat mempertahankan peringkat penerbit Pemerintah Indonesia di level Baa2. Namun lembaga itu menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif. Moody’s menilai dalam setahun terakhir terdapat penurunan prediktabilitas dan koherensi dalam proses perumusan kebijakan, serta komunikasi kebijakan pemerintah yang dinilai kurang efektif.
Jika berlanjut, kondisi tersebut berpotensi menggerus kredibilitas kebijakan yang selama ini menopang stabilitas ekonomi, fiskal, dan sektor keuangan Indonesia.
Untuk BTN, Moody’s menilai bank ini masih menghadapi tantangan kualitas aset, terutama dari tingginya kredit restrukturisasi dan pencadangan yang dinilai belum memadai. Meski demikian, peringkat BTN memperoleh tambahan tiga tingkat berkat peran strategisnya dalam program perumahan nasional dan kepemilikan mayoritas pemerintah.
Moody’s menyebut peluang kenaikan peringkat bagi kelima bank dalam waktu dekat relatif kecil selama outlook sovereign Indonesia masih negatif. Outlook bank-bank tersebut baru akan kembali stabil apabila peringkat sovereign Indonesia tetap bertahan di level Baa2 dengan outlook stabil.
Corporate Secretary BTN Ramon Armando mengatakan meski outlook BTN ikut turun, BTN masih mempertahankan peringkat kredit pada level investment grade dengan fundamental tetap solid, baik dari sisi permodalan, likuiditas, maupun kualitas aset.
Ramon juga menegaskan BTN akan terus memastikan penyaluran kredit dilakukan secara selektif, ditopang oleh pengelolaan risiko yang prudent serta menjaga kepercayaan pasar dan investor di tengah dinamika ekonomi yang ada.
Lebih lanjut BTN berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas kredit dengan menerapkan manajemen risiko yang ketat serta peningkatan di sisi proses bisnis yang lebih cermat, terukur, dan disiplin. BTN mengapresiasi langkah pemerintah dan regulator dalam mendukung kepada industri perbankan nasional melalui stimulus fiskal dan moneter.
“Hal itu untuk membantu perbankan dalam mengoptimalisasi fungsi intermediasinya dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dan sehat ke depannya,” ucap Ramon dalam keterangan resminya.



