Harga Bitcoin (BTC) kembali terkoreksi pada perdagangan di Senin (9/2). Aset kripto terbesar itu anjlok setelah sempat mencoba bangkit dari tekanan tajam dalam beberapa hari terakhir yang membuatnya terjun hingga US$60.000.
Dikutip dari Coinmarketcap, harga bitcoin turun hingga sekitar US$68.000. Meski tekanan masih terasa, koreksi tersebut justru memicu minat beli dari investor institusi.
Baca Juga: Bukan Saingan, Ini Kelebihan Investasi Bersamaan ke Emas dan Bitcoin (BTC)
Chief Executive Officer (CEO) Bitwise, Hunter Horsley mengatakan perusahaannya mencatat arus dana masuk yang signifikan saat harga bitcoin melemah. Menurutnya, penurunan harga membuka peluang bagi institusi yang sebelumnya menilai valuasi bitcoin terlalu mahal.
Horsley menilai pemegang lama bitcoin mulai menunjukkan keraguan terhadap bitcoin menyusul volatilitas tinggi aset kripto tersebut, sementara investor baru dari kalangan institusi melihat koreksi ini sebagai kesempatan masuk ke pasar pada level harga yang sebelumnya sulit dijangkau.
Sinyal minat institusional juga terlihat dari pergerakan produk investasi. Exchange-traded fund (ETF) bitcoin spot mencatat arus masuk bersih sebesar US$371 Juta. Hal itu sekaligus mengakhiri tren arus keluar yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut.
Namun, sentimen investor ritel masih rapuh. Minat pencarian daring terhadap istilah seperti “kapitulasi kripto” melonjak selama aksi jual dan tetap berada dalam level tinggi, mencerminkan kekhawatiran pasar. Kondisi tersebut dinilai menciptakan ruang bagi investor bernilai (value investors) untuk mulai masuk secara selektif.
Di tengah tekanan pasar kripto, arus modal justru mengalir ke aset lindung nilai tradisional. Harga emas dan perak melanjutkan pemulihan setelah aksi jual pada akhir bulan lalu, dengan harga emas kembali menembus level US$5.000.
Baca Juga: Di Balik Koreksi Tajam Harga Bitcoin (BTC): Bukan Hal Baru
Pergerakan kontras antara kripto dan aset safe haven menunjukkan investor masih berhati-hati, sembari menimbang peluang jangka panjang di tengah volatilitas pasar global.





