JAKARTA, KOMPAS.TV - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan dalam sepekan ke depan pengaruh dinamika atmosfer dari skala global hingga lokal masih dominan terhadap cuaca di Indonesia.
BMKG menyatakan menguatnya Monsun Asia yang ditandai oleh dominasi aliran angin timur laut dari daratan Asia menuju kawasan maritim tropis Indonesia membuat potensi hujan masih meluas.
"Pada skala global, El Niño–Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan fase La Niña lemah, dengan SOI tercatat +11.6 dan indeks Niño 3.4 sebesar −0.75. Indikator tersebut mengarah pada peningkatan aktivitas konvektif, terutama di kawasan timur Indonesia," demikian keterangan BMKG dalam siaran persnya, Senin (9/2/2026).
Selain itu, sirkulasi siklonik diprediksi terbentuk di Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat Lampung, dan Laut Coral.
Baca Juga: Prediksi Cuaca DKI Jakarta Besok Selasa 10 Februari 2026, BMKG: Waspada Hujan dan Angin Kencang
Sistem ini menginduksi terbentuknya daerah konvergensi di wilayah Samudra Hindia barat Aceh, Samudra Hindia barat Sumatra Utara, dan Samudra Hindia barat Lampung.
Daerah konvergensi lain juga diperkirakan terbentuk di Pesisir selatan Jawa Barat hingga Pesisir selatan Jawa Timur, Pesisir selatan Kalimantan Selatan hingga Selat Makassar bagian selatan, Sulawesi Tengah hingga Sulawesi Tenggara, dan Papua Selatan hingga Papua Nugini.
"Kondisi tersebut mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar Siklon Tropis/sirkulasi siklonik, dan di sepanjang daerah konvergensi atau konfluensi tersebut," demikian keterangan BMKG.
Adapun Monsun Asia, menurut BMKG, diprakirakan masih akan memberikan pengaruh kuat terhadap kondisi cuaca di Indonesia, paling tidak hingga dasarian kedua Februari.
Dalam beberapa hari ke depan, terpantau adanya pergerakan seruakan dingin (cold surge) seiring dengan penguatan Monsun Asia.
Penulis : Dian Nita Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- bmkg
- cuaca ekstrem
- hujan
- penyebab cuaca ekstrem 2026
- musim hujan sampai kapan





