Dalam percakapan sehari-hari, bekerja sebagai pengemudi ojek daring atau online (ojol) sering dianggap sebagai pekerjaan yang fleksibel. Waktu bekerja dapat diatur sendiri, tidak ada ikatan jam kantor, dan selalu ada order jika mau berusaha. Ada nuansa kebebasan waktu kerja yang bisa diatur sendiri oleh setiap pengemudi.
Nyatanya, muncul wajah lain dari fleksibilitas tersebut. Bukan kebebasan, melainkan keterpaksaan yang dipanjangkan oleh keadaan. Dalam survei daring Litbang Kompas kepada 428 pengemudi ojol pada 19 Januari-2 Februari 2026, terekam sisi tersebut. Kini, pilihan menjadi pengemudi ojek daring bukan perkara kebebasan, melainkan satu-satunya cara untuk bertahan hidup.
Data survei menunjukkan, tak kurang dari 48,5 persen responden pengemudi ojol memandang pekerjaannya sebagai pekerjaan sementara untuk bertahan hidup.
Di satu sisi, fleksibiltas tecermin dari anggapan bahwa profesi ini adalah pekerjaan sementara. Namun, kesementaraan ini bukan muncul atas kemewahan kebebasan memilih, melainkan demi bertahan hidup.
Angka di atas jauh melampaui jawaban responden yang menyebutnya sebagai pekerjaan utama yang realistis (26,6 persen). Sementara itu, sangat sedikit saja (5,4 persen) yang memandangnyga sebagai pekerjaan yang dapat dibanggakan. Sampai di sini dapat dicermati kata kunci yang muncul bukanlah karier, bukan pula masa depan, melainkan bertahan.
Kesementaraan pekerjaan ini pun tecermin dalam data berikutnya yang menunjukkan mayoritas responden (89 persen) sejatinya membayangkan suatu saat akan bisa mendapat penghasilan utama di luar menjadi pengemudi ojol. Hanya sangat kecil saja (8,9 persen) yang tidak membayangkan pekerjaan lain di luar menjadi pengemudi ojol.
Dengan tambahan data ini, persepsi bahwa pekerjaan menjadi pengemudi ojol adalah pekerjaan utama yang realistis pun dapat dibaca mengandung nada pasrah. Realistis di sini bukan karena ideal, melainkan yang paling sesuai kondisi. Sederhananya, pekerjaan ini bukan yang diinginkan, melainkan yang bisa dijalani.
Dengan kata lain, menjadi pengemudi ojol adalah pekerjaan yang dijalani sehari-hari bukan karena direncanakan, melainkan karena belum ada alternatif lain yang lebih masuk akal. Padahal, dalam waktu yang berjalan, jumlah pengemudi ojek daring terus bertambah bahkan secara masif sejak kurun waktu 2020-an.
Konsekuensinya, persaingan mendapatkan order semakin ketat sehingga semakin kecil peluang pendapatan yang diperoleh setiap pengemudi. Hal ini membuat alternatif pekerjaan lain menjadi harapan yang makin kuat dibayangkan. Namun, pertanyaannya, jika pekerjaan ini dipandang sementara, sampai kapan sementara itu?
Terkait dengan upaya memperoleh pekerjaan lain, data survei menunjukkan 30,9 persen responden pernah membayangkannya tetapi masih sulit untuk diwujudkan. Sementara, 27,8 persen responden lainnya sudah membayangkan tetapi belum tahu bagaimana caranya.
Hanya 30,3 persen responden yang sudah membayangkan dan sedang mempersiapkannya. Dari sini dapat dibaca bahwa meskipun ingin mendapatkan pendapatan dari pekerjaan lain, sebagian besar pengemudi ojol kesulitan memperolehnya. Situasi ini tidak dapat dilepaskan dari kenyataan terbatasnya pekerjaan lain yang mungkin dapat dilakukan.
Persepsi ini makin dikuatkan dengan jawaban atas pertanyaan berapa lama lagi para responden akan bekerja sebagai pengemudi ojol. Hanya 14 persen saja responden yang memiliki target pasti bekerja dalam kurun waktu satu sampai lima tahun ke depan. Sebagian besar responden (63,7 persen) memilih menjawab akan tetap bekerja sebagai pengemudi ojol selama masih mampu secara fisik.
Jawaban ini makin mengaburkan bayangan mendapatkan pekerjaan lain. Dengan asumsi paling positif bahwa semua yang punya target bekerja sebagai pengemudi ojol dalam lima tahun ke depan adalah mereka yang sudah mempersiapkan pekerjaan lain saja, terbukti hanya sebagian kecil saja yang berpotensi akan memiliki pekerjaan lain dalam waktu dekat.
Jika dilihat angka potensinya, setidaknya hanya satu dari sepuluh pengemudi ojol yang mungkin akan mendapatkan pekerjaan lain dalam waktu dekat. Kembali dengan tren pendapatan per pengemudi yang makin kecil dari waktu ke waktu, para pengemudi ojol akan bergulat dengan kondisi ekonomi yang terus rentan.
Ditambah lagi, pekerjaan sebagai pengemudi ojol tidak bisa dibaca sebagai pekerjaan berbasis karier, tetapi pekerjaan berbasis fisik. Ukuran bertahannya bukan soal jenjang, melainkan stamina fisik. Batas akhirnya bukan usia pensiun, melainkan kelelahan tubuh.
Sampai di sini dapat dibaca dari data survei bahwa keinginan untuk keluar dari pekerjaan sebagai pengemudi ojol itu nyata dan masif. Namun, di tengah harapan ini terdapat jurang besar, yakni ketidakpastian jalur keluar. Para pengemudi ingin keluar, tetapi tidak tahu melalui pintu dan jalur mana.
Di sini pula makna ”pekerjaan sementara” menjadi problematik. Sementara pada umumnya mengandaikan transisi dari awal, tengah, dan akhir. Namun, kenyataannya, kesementaraan ini berujung pada keadaan yang terus memanjang. Hari demi hari dijalani dengan harapan akan ada kesempatan lain, tetapi tanpa kepastian kapan dan bagaimana.
Dalam kajian sosial, kondisi demikian disebut dengan posisi prekariat, yakni kelompok pekerja yang hidup dalam ketidakpastian. Di dalamnya tidak ada jaminan stabilitas dan hanya bergantung pada tenaga sendiri dari hari ke hari.
Dalam konteks pengemudi ojol, kerentanan makin kuat karena kondisi prekariat bersandar pada tubuh. Sejauh badan kuat, pekerjaan berlanjut. Namun, saat badan melemah, risiko ekonomi kuat membayangi.
Dalam struktur kerja klasik, pekerjaan selalu mengandung horizon struktural. Buruh industri memiliki upah tetap dan usia pensiun. Pegawai kontrak memiliki masa kontrak kerja.
Pekerja profesional memiliki jenjang karier. Bahkan, pekerjaan informal tradisional, seperti pedagang, masih memiliki aset sosial serta kontrol atas ritme kerja. Pengemudi ojol hampir tidak memiliki semuanya.
Dengan begitu, menjadi tidak mengherankan jika sebagian pengemudi ojol memilih untuk tidak memikirkan masa depan atau lebih memilih menjawab ”tidak tahu”. Jawaban ini bukan sikap apatis semata, melainkan berpikir terlalu jauh justru akan menambah beban mental.
Di tengah kerentanan ini, setidaknya ada dua sisi upaya yang bisa dilakukan demi mewujudkan harapan kesejahteraan hidup para pengemudi ojol. Di satu sisi, penyedia platform harus terus menemukan skema terbaik untuk menjaga pendapatan pengemudi sesuai dengan kebutuhan hidup.
Di sisi lain, negara perlu menyediakan alternatif perlindungan sosial terhadap kelompok prekariat yang rentan ini. Jika pekerjaan sebagai pengemudi ojol telah menjadi sandaran hidup semakin banyak orang, keberlanjutannya tidak bisa hanya diserahkan pada daya tahan tubuh semata. (LITBANG KOMPAS)
Serial Artikel
Survei Litbang ”Kompas”: Realitas dan Harapan Pengemudi Ojek Daring demi Bertahan Hidup
Tidak banyak yang dituntut para pengemudi ojek daring atas pekerjaan mereka. Cukup dengan mengurangi besaran potongan, beban mereka sedikit diringankan.





