Trauma Korban Pencabulan di Kebayoran Baru dan Jalan Panjang Mencari Keadilan

kompas.com
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Perjalanan panjang penanganan kasus pencabulan terhadap remaja perempuan berinisial NAP (15) di Petogogan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, masih menyisakan luka mendalam bagi korban dan keluarganya.

Peristiwa yang terjadi pada 2022 itu hingga kini belum benar-benar menemukan titik akhir, sementara kondisi korban disebut belum pulih.

Kuasa hukum korban, Kristian Thomas, menyebut pelaku merupakan orang dekat keluarga.

Baca juga: Remaja di Jaksel Trauma Dicabuli Paman, Orangtua Terkendala Biaya Psikiater

“Ini memang kasus anak yang dilakukan oleh pelaku itu orang dekat. Orang dekat dari ibu korban,” kata Kristian saat ditemui di Mapolres Jakarta Selatan, Senin (9/2/2026).

Kasus tersebut baru dilaporkan ke Polres Jakarta Selatan pada 2025.

Pelaku sempat ditahan sejak Juli 2025, namun penahanannya kemudian ditangguhkan pada Oktober di tahun yang sama.

“Dia ditangguhkan itu sejak Oktober 2025. Cuma dari bulan Juli ke Oktober sudah lepas. Dan kami ini sedang menelusuri kenapa bisa lepas,” tutur Kristian.

Trauma yang belum pulih

Hampir empat tahun setelah kejadian, kondisi psikologis korban disebut masih rapuh.

Kristian mengatakan korban masih menunjukkan tanda trauma ketika berada di situasi ramai.

“Korban masih trauma. Terakhir diwawancara memang bisa bicara, cuma kalau sudah mulai agak ramai-ramai sempat kaku juga badannya. Traumatiknya masih ada,” ujarnya.

Baca juga: Remaja di Petogogan Dicabuli Pamannya, Keluarga Korban Lapor Komnas PA DKI

Upaya pemulihan sempat dilakukan dengan membawa korban ke psikiater. Namun terapi tidak berlanjut karena keterbatasan biaya keluarga.

“Karena memang konselingnya terputus, ternyata konseling itu berbayar dan ibu ini tidak sanggup,” kata Kristian.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) DKI Jakarta, Cornelia Agatha, menyebut dampak trauma juga membuat korban tidak dapat melanjutkan sekolah dan kerap mengalami kejang.

“Korban tidak baik-baik saja. Dia trauma, depresi dan sering sakit, kejangnya kumat terus tidak sekolah,” ujar dia.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Cornelia menambahkan, korban baru berani menceritakan kekerasan seksual yang dialaminya sekitar dua tahun setelah kejadian.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
RDP GMTD Berakhir Tanpa Kejelasan, Komite Adat Desak Hak Angket Keabsahan Dokumen
• 1 jam laluterkini.id
thumb
Net Sell Asing Capai Rp11,02 Triliun hingga Februari 2026
• 21 jam laluidxchannel.com
thumb
Presiden Prabowo Tekankan Profesionalisme dan Persatuan TNI-Polri dalam Rapim Tahunan
• 4 jam lalupantau.com
thumb
Microsoft Sarankan RAM 32GB untuk Gaming Windows 11 di 2026!
• 3 jam lalumedcom.id
thumb
Anggota DPR Minta KIP-K Diperluas: Cegah Calon Mahasiswa Bunuh Diri
• 15 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.