TANGERANG, KOMPAS.com - Taman Teluknaga di Desa Tanjung Burung, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang, tampak terbengkalai seperti ruang publik yang ditinggal masa.
Dari waktu ke waktu, rumput liar dan semak terus tumbuh tak terkendali, menutup sebagian area taman yang dahulu menjadi tempat berkumpul warga.
Selain itu, ikon taman berupa patung perahu naga bahkan seolah “ngumpet” di balik rumput liar itu.
Dari kejauhan, wujud naga tersebut nyaris tak terlihat karena tertutup rumput liar yang menjalar, sementara lapisan catnya mengelupas dan warnanya memudar.
KOMPAS.com/INTAN AFRIDA RAFNI Kondisi jembatan di Taman Teluknaga pada Senin (9/2/2026). Bagian pagar terlihat berkarat dan warna mulai memudar.
Sejumlah fasilitas penunjang pun tampak menyerah pada kondisi yang tak terurus itu. Kamar mandi umum yang sebelumnya digunakan pengunjung kini terbengkalai.
Tak ada aliran air, tak ada penerangan, serta mengeluarkan aroma tidak sedap.
Area food court di dalam taman juga tampak kosong dengan kondisi papan pijakan berlubang yang sesekali “menyembunyikan” kucing liar di baliknya.
Pantauan Kompas.com menunjukkan, pagar jembatan di area taman mulai berkarat dan catnya memudar, seolah menjadi saksi dari aktivitas warga yang kian menjauh dari lokasi tersebut.
Tidak terlihat adanya warga yang bersantai di taman itu. Hanya sekelompok ibu-ibu yang rutin melakukan senam sore hari, memanfaatkan sedikit ruang terbuka yang masih bisa digunakan.
Di tengah kondisi taman yang kian terabaikan, satu warung kopi milik Biran (53) masih bertahan.
Ia menyebut, sejak pandemi Covid-19, Taman Teluknaga perlahan kehilangan pengunjungnya hingga akhirnya nyaris ditinggalkan.
Menurut Biran, setelah pandemi, pengelolaan taman perlahan berhenti hingga tidak ada lagi pihak yang mengurusnya.
"Dulu ramai, pedagang banyak, pengunjung juga banyak. Ada mainan anak-anak seperti ayunan, perosotan, taman bermain. Penerangannya juga bagus," ujar Biran saat ditemui Kompas.com di lokasi, Senin (9/2/2026).
Baca juga: Tak Diurus Pemerintah, Taman Teluknaga Dirawat Pemilik Warung Kopi Pakai Ongkos Pribadi
Selain itu, kondisi gelap yang diakibatkan tidak adanya lampu pada malam hari membuat warga enggan berkunjung karena khawatir terhadap keselamatan.
“Sekarang gelap, orang takut. Ada ular, jalan juga rusak. Jadi enggak mendukung buat taman,” kata Biran.
Meski demikian, Biran berharap Taman Teluknaga dapat kembali hidup dan mendapat perhatian dari pemerintah daerah.
“Penginnya taman ini hidup lagi, masyarakat bisa main, pedagang juga jalan. Tapi memang butuh perhatian pemerintah,” ucap dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang