Surabaya, Jawa Timur — Ekonomi Jawa Timur menunjukkan tren pertumbuhan yang solid sepanjang 2025, dengan sejumlah indikator utama mencatat capaian positif. Data resmi yang disampaikan dalam Media Briefing kolaboratif empat institusi negara — Bank Indonesia (BI), OJK, Kementerian Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) — menggambarkan kondisi ekonomi dan stabilitas keuangan regional yang kuat sekaligus optimistis untuk tahun 2026.
Acara yang digelar di Surabaya pada 9 Februari 2026 itu bertemakan “Sinergi dan Kolaborasi Melanjutkan Transformasi dan Menjaga Stabilitas Ekonomi Jawa Timur untuk Mewujudkan Indonesia Tangguh dan Mandiri”. Penyelenggaraan briefing bertepatan dengan peringatan Hari Pers Nasional 2026, yang konsisten dengan semangat “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat.”
Pertumbuhan Ekonomi Jatim Melampaui Target Nasional
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, menyampaikan bahwa ekonomi regional tumbuh sebesar 5,33 persen (yoy) pada 2025 — lebih tinggi dibandingkan dengan 4,94 persen (yoy) pada tahun sebelumnya. Ia menegaskan capaian ini mempertegas posisi Jawa Timur sebagai salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi di Pulau Jawa dan secara nasional.
“Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang kuat, investasi yang meningkat, serta kinerja ekspor yang tetap tinggi. Dari sisi penawaran, percepatan kinerja terjadi pada sektor industri pengolahan, pertanian, serta akomodasi dan makanan minuman,” ujar Ibrahim.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kuatnya permintaan domestik dan momentum pemulihan ekonomi pascapandemi turut memperkuat perekonomian Jawa Timur.
Inflasi terkendali menjadi salah satu elemen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. Data TPID menunjukkan bahwa pada Januari 2026, inflasi Jawa Timur tercatat 3,29 persen (yoy) — masuk dalam rentang target inflasi nasional 2,5–4 persen.
“Inflasi yang terkendali ini mencerminkan sinergi kebijakan yang efektif melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). Ini menunjukkan koordinasi yang kuat antara BI, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan,” tambah Ibrahim.
Bank Indonesia juga memprakirakan ekonomi Jawa Timur akan tetap tumbuh pada 2026 di kisaran 4,9–5,72 persen (yoy), didukung oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, perbaikan investasi, dan permintaan eksternal yang stabil.
Perbankan dan Sistem Keuangan Tetap Stabil
Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK, Horas V. M. Tarhoran, mengungkapkan bahwa data sektor jasa keuangan menunjukkan sistem keuangan nasional tetap sehat sampai dengan Desember 2025, yang secara tidak langsung juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian Jawa Timur.
Beberapa indikator utama yang disampaikan antara lain:
- Penyaluran kredit: Rp625,66 triliun, tumbuh 1,90 persen (yoy)
- Dana Pihak Ketiga (DPK): Rp817,59 triliun, tumbuh 3,50 persen (yoy)
- Rasio Kredit Bermasalah (NPL): 3,37 persen
- Capital Adequacy Ratio (CAR): 31,38 persen
- Liquidity Coverage Ratio (AUDPK): 26,74 persen
- Net Stable Funding Ratio (AUNCD): 119,31 persen
“Kinerja perbankan yang sehat menunjukkan bahwa sistem perbankan memiliki ketahanan yang baik terhadap risiko likuiditas dan risiko kredit. Ini juga tercermin dari kepercayaan masyarakat terhadap struktur perbankan nasional,” ujar Horas.
Menurut Horas, pencapaian ini juga sejalan dengan kinerja positif dari sektor pasar modal, asuransi, dana pensiun, modal ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan lembaga jasa keuangan lainnya.
Belanja APBN di Jatim Meningkat dan Menjadi Shock Absorber
Kepala Kantor Perwakilan Kementerian Keuangan Jawa Timur, Saiful Islam, memaparkan bahwa realisasi belanja APBN di Jawa Timur sampai dengan Desember 2025 tumbuh dengan dukungan utama dari Transfer ke Daerah (TKD) sebesar 0,74 persen. Belanja ini difokuskan pada program strategis yang dianggap memiliki efek shock absorber terhadap tekanan ekonomi, antara lain:
- Pelayanan kesehatan gratis
- Program makan bergizi untuk masyarakat
- Program Sekolah Rakyat
- Pemberdayaan koperasi desa dan kelurahan
- Peningkatan konektivitas wilayah
“Belanja yang tepat sasaran ini dibarengi dengan realisasi pendapatan pajak, kepabeanan, dan cukai, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berada di atas target,” katanya.
LPS Pastikan Kepercayaan Publik Lewat Penjaminan Simpanan
Kepala LPS Jawa Timur, Bambang S. Hidayat, menegaskan komitmen lembaganya dalam menjaga stabilitas sistem keuangan melalui program penjaminan simpanan yang kredibel.
LPS menjamin penuh:
- 665 juta rekening simpanan di Bank Umum
- 15,7 juta rekening di BPR/BPRS
Jumlah ini mencakup 99,97 persen dari total rekening nasabah, memberikan jaminan keamanan bagi masyarakat atas simpanan mereka.
“Penjaminan ini memperkuat kepercayaan publik terhadap sistem perbankan nasional dan merupakan elemen penting dalam menjaga ketahanan ekonomi,” ujar Bambang.
Prospek Ekonomi Jawa Timur 2026: Tetap Kokoh di Tengah Tantangan
Menutup sesi, Ibrahim kembali menegaskan optimisme terhadap prospek ekonomi Jawa Timur pada tahun 2026.
“Dengan memperhatikan tantangan dan peluang yang ada, prospek ekonomi Jawa Timur diprakirakan tetap terjaga. Inflasi diproyeksikan tetap dalam rentang sasaran nasional,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa sinergi antar-lembaga seperti BI, OJK, Kementerian Keuangan, dan LPS menjadi kunci dalam menjaga stabilitas, menavigasi tantangan ekonomi, dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan demi terwujudnya Indonesia yang tangguh dan mandiri.





