Perpusnas Akan Gunakan AI untuk Pelestarian Bahasa Daerah

suarasurabaya.net
7 jam lalu
Cover Berita

E. Aminudin Aziz Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) mengungkap sejumlah stategi literasi di era perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Yaitu memanfaatkan AI untuk melestarikan bahasa daerah.

Katanya ada lebih dari 700 bahasa daerah di Indonesia, namun beberapa bahasa terancam punah. Sejak 2021, Perpusnas mengembangkan pemanfaatan teknologi untuk mendokumentasikan bahasa daerah.

“Bahasa daerah tidak boleh tiba-tiba hilang. Data kebahasaan harus dikumpulkan, direkam, dan didukung teknologi agar bisa diwariskan lintas generasi,” ujar Aminudin seperti dilansir Antara, Selasa (10/2/2026).

Aminudin mengatakan perkembangan AI bisa membentuk pemimpin nasional yang kritis, kreatif, dan adaptif. Di mana teknologi tidak bisa dihindari, tapi bisa memperkuat fondasi literasi masyarakat.

“Kita tidak bisa menolak perkembangan teknologi, tetapi kita juga tidak boleh kalah cepat dengan kecerdasan buatan. Literasi harus menjadi fondasi agar teknologi dimanfaatkan secara kritis dan bertanggung jawab,” katanya.

Selain memanfaatkan teknologi untuk melestarikan bahasa, Aminudin menegaskan langkahnya meningkatkan literasi tidak sepenuhnya bergantung pada AI. Perpusnas juga menyediakan buku cetak di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

“Di banyak daerah, jangan bicara dulu soal aplikasi atau AI. Buku masih menjadi alat literasi paling efektif. Ketika buku hadir, anak-anak justru menunjukkan antusiasme yang luar biasa,” ujarnya.

UNESCO memasukkan Indonesia ke peringkat dua terbawah soal literasi dunia. Di mana minat bacanya sangat rendah, hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.

Sedangkan riset World’s Most Literate Nations Ranked dari Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016, menyatakan Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).

Kata Aminudin, rendahnya literasi tidak hanya disebabkan minimnya minat baca. Melainkan adanya keterbatasan bahan bacaan yang sesuai minat pembaca.

Saat ini Perpusnas menyediakan 9,7 juta eksemplar koleksi, mencakup buku, majalah, peta, monograf, audiovisual, buku digital, serta koleksi deposit nasional sebagai rekaman pengetahuan bangsa. (ant/lea/ham)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Zico Yakin Ancelotti Bawa Brasil Juara Piala Dunia 2026
• 22 jam lalutvrinews.com
thumb
Ringkasan Mesin Vs Jurnalisme Manusia, Ini Kata Wamenkomdigi
• 7 jam laluviva.co.id
thumb
Jejak Kabur Bos Blueray Cargo: KPK Telusuri Dugaan John Field Hilangkan Barang Bukti Saat Melarikan Diri di Kasus Impor Barang KW
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Tanah Bergerak di Tegal Disebut Bakal Berulang, Pakar Geologi UGM: Tak Layak Huni, Cari Lokasi Baru!
• 6 jam lalusuara.com
thumb
BMKG Prakirakan Hujan Merata di Jakarta pada Selasa
• 17 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.