"Daun Surga" Kalimantan Jadi Favorit Warga AS, Ternyata Ini Efeknya

cnbcindonesia.com
5 jam lalu
Cover Berita
Foto: Tanaman Kratom. (AP Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kratom, yang kerap dijuluki "daun surga", menjelma menjadi komoditas bernilai tinggi di pasar global, meski statusnya masih menuai perdebatan di dalam negeri. Tanaman asli Kalimantan ini banyak diminati di Amerika Serikat dan Eropa sebagai bahan herbal alternatif, mendorong lonjakan permintaan ekspor dan menjadikannya salah satu sumber penghidupan penting bagi petani di daerah penghasil.

Namun di balik peluang ekonomi tersebut, kratom berada di persimpangan regulasi. Kekhawatiran soal keamanan konsumsi dan potensi penyalahgunaan membuat pemerintah dan otoritas kesehatan terus mengkaji pengaturannya, sementara pelaku usaha dan daerah penghasil menekankan kontribusinya terhadap ekonomi lokal dan devisa. Tarik-menarik antara kepentingan kesehatan publik dan peluang ekonomi inilah yang membuat kratom menjadi "daun surga" yang sekaligus kontroversial di Indonesia.

Baca: BPOM Temukan Kopi Lokal yang Picu Gagal Ginjal, Ini Mereknya

Indonesia ekspor 4.000 ton "daun surga"


Indonesia adalah produsen kratom terbesar di dunia. Pada 2023, Indonesia mengekspor 4.694 ton tanaman yang dijuluki "daun surga" tersebut dengan nilai ekspor sekitar US$ 9,15 juta.

Adapun negara yang paling banyak memborong daun surga asal Indonesia adalah Amerika Serikat, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS). Kratom digemari masyarakat di Negeri Paman Sam karena tanaman ini mampu meningkatkan energi, vitalitas, hingga mood.

Baca: Ikan Favorit Warga RI yang Ternyata Menyerap Racun dalam Air

Apa itu kratom dan apa manfaatnya?

Kratom adalah pohon dari keluarga kopi yang berasal dari Asia Tenggara. Dikenal juga sebagai Mitragyna speciosa, tanaman ini tumbuh subur di Pulau Kalimantan, yang diperkirakan memasok sekitar 70% dari produksi daun kratom di dunia.

Ribuan petani kecil di Kalimantan mengandalkan kratom sebagai sumber pendapatan utama mereka. Mereka biasanya memanen daun yang sudah tua, menjemurnya, dan menjualnya kepada pengepul lokal yang kemudian mengirimkannya dalam skala besar untuk didistribusikan ke seluruh dunia.

Daun kratom lalu diolah menjadi berbagai bentuk, mulai dari teh atau dimasukkan ke dalam kapsul untuk dijual sebagai suplemen. Daun kratom juga dapat dihisap seperti tembakau.

Baca: 11 Camilan Sehat Terbukti Redam Keinginan Makan Manis Menurut Ahli

Khasiat Kratom

Mengutip WebMD, penggunaan kratom yang paling umum adalah untuk meredakan nyeri, depresi, dan kecanduan opioid.

Kratom dipercaya efektif untuk meredakan nyeri kronis, karena bekerja dengan cara menempel pada reseptor opioid. Salah satu senyawa yang ditemukan dalam kratom, 7-hydroxymitragynine, 13 kali lebih kuat daripada morfin.

Kratom juga telah digunakan selama ratusan tahun di Asia Tenggara sebagai pengobatan rumahan alami. Secara tradisional, kratom telah digunakan untuk mengobati:

- Kelelahan
- Nyeri
- Diare
- Kram otot

Baca: Tak Disangka, 7 Barang Dapur Ini Sumber Mikroplastik



Status legalitas kratom

Kratom memiliki tantangan terkait legalitasnya di pasar internasional. Di AS, permintaan kratom terus meningkat meski status legalitasnya masih belum mendapat pengesahan penuh dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA).

Meskipun demikian, masyarakat AS membeli begitu banyak kratom dan produk berbahan dasar kratom, baik secara online atau di minimarket pom bensin, toko serba ada, toko rokok, dan bar, sehingga menjadi industri senilai US$ 1 miliar.

Sementara di Jepang dan Jerman mengizinkannya dalam penggunaan terbatas. India, dengan kebijakan yang lebih longgar, menjadi salah satu pasar ekspor terbesar. Legalitas yang bervariasi ini menuntut perhatian Indonesia dalam menjaga kualitas produk agar dapat memenuhi standar global yang terus berkembang.

Adapun di Indonesia, hingga saat ini belum ada aturan khusus yang mengatur peredaran kratom di pasar domestik.

"Jadi belum ada peraturan yang terkait dengan perdagangan di dalam negeri. Ini kan kebanyakan untuk ekspor semua," ujar Menteri Perdagangan Budi Santoso.

Hal ini berarti, meskipun kratom sudah mendapat izin ekspor berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 20 dan 21 Tahun 2024, tidak serta-merta produk ini bisa dijual bebas di dalam negeri.

Perlu diketahui, kratom sebelumnya sempat masuk dalam daftar narkotika golongan 1, yang berarti peredarannya sangat dibatasi. Namun, setelah melalui berbagai kajian dan pertimbangan pemerintah, statusnya kini berubah.

"Ya sekarang sudah nggak ada masalah. Waktu itu kan sudah disepakati. Akhirnya dikeluarkan Permendag dan sudah diperbolehkan untuk ekspor," jelasnya.


(hsy/hsy)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Souto: Meski Ditaklukan Iran, Kita Didukung Seluruh Dunia

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Istana Jelaskan Urgensi Aturan Pelibatan TNI dalam Tangani Terorisme
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Usai Dijegal Arema FC: Persija Harus Punya Tekad Kuat Mengubah Nasib Melawan Persib Jadi Juara Super League
• 5 jam lalubola.com
thumb
Penasihat KFI Jose Tirado Sebut Pemain Timnas Futsal Indonesia Banyak Diincar Klub Eropa: Mereka Kontak Saya
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Heboh Penonaktifan PBI, Purbaya Siap Suntik Rp20 Triliun untuk BPJS Kesehatan
• 22 jam lalubisnis.com
thumb
Golkar Dukung Arah Presiden, Perbaikan Tata Kelola Pajak Harus Menutup Celah Kebocoran
• 20 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.