Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki peran strategis dalam mendorong pergerakan rantai perekonomian nasional, dari sisi produsen hingga penerima manfaat.
Dalam acara penyerahan hasil implementasi nota kesepahaman antara Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Gizi Nasional (BGN), Rachmat menyebut MBG sebagai model big push yang berfungsi sebagai faktor pendorong (push factor) sekaligus penarik (pull factor) dalam sistem ekonomi.
“Program MBG merupakan model big push yang strategis karena berperan sebagai push factor dan pull factor dalam rantai besar perekonomian nasional, dari produsen hingga penerima manfaat,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa, 9 Februari 2026.
Rachmat mengaitkan konsep tersebut dengan big push theory dari ekonom Paul N. Rosenstein-Rodan yang menekankan pentingnya dorongan besar untuk menciptakan perubahan struktural. Dalam konteks Indonesia, MBG dinilai sebagai instrumen yang mampu memicu perubahan tersebut.
Ia menekankan pentingnya pencatatan data program secara komprehensif. Menurutnya, apabila variabel anggaran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), belanja dapur, serta keterkaitan belanja dengan penerima manfaat dapat direkam BPS, Indonesia akan memiliki basis data kuat untuk menunjukkan terjadinya perubahan sosial yang signifikan.
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 juga menegaskan urgensi integrasi data guna mendukung pemantauan dan evaluasi pelaksanaan MBG secara menyeluruh.
Dalam hal ini, BGN diharapkan membangun sistem informasi digital yang mampu mencatat transaksi, merekam keluaran program, serta mengukur dampaknya. Sementara BPS berperan dalam pengumpulan dan verifikasi data di tingkat masyarakat untuk memastikan akurasi dan keterpaduan data nasional.
Ke depan, Rachmat mendorong penyusunan kerangka analisis berbasis theory of change (ToC) agar pelaksanaan MBG dapat diukur dari aspek input, proses, output, hingga outcome.
Ia juga menyoroti pentingnya penguatan mekanisme berbagi pakai data, pemanfaatan data BPS untuk pemantauan dan evaluasi, pelaksanaan survei rutin hingga tingkat subnasional, serta integrasi data Survei Konsumsi Masyarakat Indonesia (SKMI) dan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI).
“Kita sedang membuat sejarah perubahan sosial dari cita-cita Bung Karno. Seratus tahun kemudian, kita menciptakan Indonesia Emas, dan program MBG menjadi bagian penting menuju pencapaian Indonesia Emas 2045,” kata Rachmat.
Editor: Redaksi TVRINews





