Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan Cina dan Hong Kong memegang peran penting sebagai mitra strategis Indonesia dalam perdagangan dan investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
“Hong Kong selalu menjadi bagian strategis bagi ekonomi Indonesia. Nilai perdagangan bilateral mencapai sekitar US$6,5 miliar, dan dalam 10 tahun terakhir investasinya mendekati US$10 miliar,” kata Airlangga dalam acara China Conference: Southeast Asia (CCSEA) 2026, Selasa (10/2).
Ia menjelaskan, implementasi Perjanjian Perdagangan Bebas Hong Kong–ASEAN sejak 2020 turut membuka akses bisnis yang lebih luas antara kedua wilayah. Indonesia dan Hong Kong juga telah memiliki perjanjian penghindaran pajak berganda yang dinilai memperkuat iklim investasi.
Menurutnya, Hong Kong memiliki peran penting sebagai pintu masuk global bagi perusahaan Indonesia, termasuk dalam aktivitas pasar modal dan pembiayaan internasional.
“Hampir tidak ada penawaran umum perdana (IPO) dari Indonesia di global yang tidak dimulai dari Hong Kong. Karena itu, Hong Kong senantiasa menjadi salah satu kunci akses Indonesia ke pasar keuangan global,” terangnya.
Sementara itu, hubungan ekonomi Indonesia dengan Tiongkok juga terus diperkuat melalui berbagai kerja sama strategis. Pada Mei 2025, kedua negara menandatangani nota kesepahaman untuk memperdalam kemitraan industri dan pembangunan ekonomi.
Kerja sama tersebut mencakup penguatan rantai pasok industri, pengembangan kawasan industri kembar di Batam, Yuanhong, dan Semarang, hingga penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui kesepakatan antara Bank Indonesia dan People’s Bank of Cina.
Selain itu, kolaborasi kebijakan pembangunan ekonomi juga dilakukan bersama Dewan Ekonomi Nasional Tiongkok guna mendorong investasi dan hilirisasi industri di dalam negeri.
Airlangga menilai, kemitraan dengan Tiongkok dan Hong Kong menjadi modal penting bagi Indonesia untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan global.
“Walaupun menghadapi berbagai tekanan eksternal, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan optimistis,” ujarnya.
Ke depan, dia mengatakan kerja sama regional juga akan diperkuat melalui agenda APEC 2026 di Tiongkok untuk keterbukaan perdagangan, inovasi, dan kolaborasi teknologi.
“Agenda APEC 2026 di Tiongkok akan berfokus pada keterbukaan, inovasi, dan kerja sama guna membangun komunitas Asia-Pasifik yang sejahtera. Upaya inovasi dan teknologi maju akan menjadi pusat perhatian, memastikan manfaat teknologi dirasakan merata oleh seluruh anggota,” katanya.




