EtIndonesia. Menurut laporan The Jerusalem Post edisi mingguan, dua sumber yang memahami langsung dinamika di balik layar mengungkapkan bahwa pemerintahan Donald Trump telah menyampaikan pesan resmi kepada Iran. Washington berharap delegasi Iran yang dipimpin Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dapat membawa substansi pembahasan yang nyata pada pertemuan lanjutan, sekaligus menunjukkan kesiapan untuk berkompromi, khususnya terkait isu nuklir dan persoalan strategis lain.
Sikap Tegas Teheran: Pengayaan Uranium Tak Bisa Dihentikan
Pada hari yang sama, Araghchi menegaskan secara terbuka bahwa Iran tidak akan pernah menerima tuntutan penghentian total aktivitas pengayaan uranium. Dia menekankan bahwa fokus pembahasan seharusnya berada pada skenario kelanjutan dan pengaturan pengayaan, bukan pada pelarangan menyeluruh.
Araghchi juga memastikan bahwa isu rudal balistik serta jaringan proksi regional Iran tidak termasuk dalam agenda perundingan saat ini. Dia menyatakan Teheran tidak gentar terhadap pengerahan kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan, seraya mengakui rendahnya tingkat kepercayaan Iran terhadap keseriusan Washington dalam menjalani putaran perundingan terbaru.
Lebih jauh, Araghchi memperingatkan bahwa setiap serangan militer AS ke wilayah Iran akan dibalas, dengan menjadikan seluruh pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah sebagai target serangan balasan.
Video Ancaman dan Uji Coba Rudal Iran
Seiring pernyataan tersebut, media Iran secara serentak merilis video bernada ancaman. Dalam salah satu tayangan, Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi diperlihatkan berada dalam bidikan senjata, dengan bendera Amerika Serikat tepat di pusat teropong, sebagai simbol ancaman langsung.
Pada Minggu, 8 Februari 2026, Garda Revolusi Iran melaksanakan uji coba rudal di Provinsi Semnan, sekaligus menerbitkan NOTAM (Notice to Air Missions) untuk memperingatkan pesawat sipil dan militer agar menghindari wilayah tersebut.
Tak hanya itu, IRGC juga merilis video berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menggambarkan skenario kapal induk Amerika Serikat, USS Abraham Lincoln, ditenggelamkan dalam serangan berskala besar—sebuah pesan psikologis yang ditujukan langsung ke Washington.
Respons AS: Kunjungan ke USS Abraham Lincoln
Di tengah eskalasi ini, kepala perunding AS Steve Witkoff bersama Jared Kushner mengunggah pernyataan di media sosial bahwa mereka telah mengunjungi kapal induk USS Abraham Lincoln yang saat ini beroperasi di Laut Arab.
Witkoff menulis bahwa USS Lincoln dan gugus tempurnya bertugas menjaga stabilitas keamanan regional sekaligus memperkuat pesan Presiden Trump bahwa perdamaian hanya dapat diraih melalui kekuatan nyata.
Aktivitas Militer dan Intelijen yang Memicu Spekulasi
Pada periode yang sama, beredar informasi daring yang menyebutkan data Flightradar24 mendeteksi pesawat intai maritim P-8 Poseidon milik militer AS memasuki wilayah udara Iran. Hingga laporan ini disusun, Angkatan Udara Iran tidak melakukan intersepsi, dan sistem pertahanan udara Iran juga belum menunjukkan respons terbuka.
Masih pada 8 Februari 2026, yang bertepatan dengan Hari Angkatan Udara Iran, Ali Khamenei secara mendadak membatalkan pidato resmi dan tidak menghadiri upacara peringatan, memicu spekulasi luas di dalam dan luar negeri mengenai kondisi internal Iran.
Sementara itu, laporan terpisah menyebutkan bahwa pesawat angkut strategis AS C-17A Globemaster III dan MC-130 Super Hercules—yang lazim digunakan untuk mendukung operasi pasukan khusus—telah mendarat di lokasi rahasia di Turkmenistan, negara yang berjarak sekitar 300 kilometer dari Teheran. Selain itu, pesawat militer AS yang berbasis di Jerman dilaporkan bergerak menuju Azerbaijan dan Armenia, dua negara yang berbatasan langsung dengan Iran.
Israel Naikkan Kesiagaan, Netanyahu ke Washington
Pada Minggu, 8 Februari 2026, Israel menggelar rapat kabinet keamanan tingkat tinggi. Para menteri diberi pengarahan bahwa posisi resmi Israel adalah: setiap perundingan dengan Iran harus mencakup pencegahan kepemilikan senjata nuklir, pembatasan pengembangan rudal balistik, serta penghentian dukungan terhadap jaringan ekstremisme regional.
Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar menegaskan bahwa rezim paling ekstrem di dunia yang berupaya memiliki senjata nuklir paling berbahaya merupakan ancaman langsung bagi perdamaian kawasan dan global.
Dokumen resmi yang dibagikan menjelang rapat kabinet menyoroti rekam jejak Iran yang dinilai tidak dapat dipercaya, serta menegaskan bahwa setiap ancaman terhadap kedaulatan Israel atau keselamatan warganya akan dibalas dengan kekuatan militer penuh.
Di sisi lain, Benjamin Netanyahu dijadwalkan bertolak ke Gedung Putih pada Selasa, 10 Februari 2026, untuk bertemu Presiden Trump. Isu rudal balistik Iran dan arsitektur keamanan regional diperkirakan menjadi agenda utama.
Sinyal dari Media dan Pengamat Militer AS
Media Channel 14 melaporkan dugaan bahwa Iran secara diam-diam memindahkan peluncur rudal ke wilayah timur guna mempersulit penghancurannya jika perang terbuka pecah.
Sementara itu, analis strategi senior Fox News sekaligus mantan jenderal bintang empat Angkatan Darat AS, Jack Keane, menyatakan bahwa Amerika Serikat seharusnya mempertimbangkan opsi militer saat rezim, ekonomi, dan kekuatan militer Iran berada pada titik terlemahnya.
Keane menilai bahwa meskipun Presiden Trump masih membuka pintu perundingan, Teheran terus menyesatkan dunia internasional terkait ambisi nuklirnya. Menurutnya, Trump menghadapi peluang historis untuk menciptakan kondisi runtuhnya rezim Iran—yang dapat menjadi warisan politik besar sekaligus mengubah peta keamanan Timur Tengah. Dia juga berpendapat bahwa kesepakatan apa pun dengan rezim saat ini tidak akan benar-benar menguntungkan rakyat Iran, karena hanya memperpanjang usia pemerintahan Khamenei.
Penindasan Internal dan Gelombang Protes Diaspora
Di dalam negeri Iran, Fars News Agency melaporkan bahwa pada 8 Februari 2026, pasukan keamanan menangkap sedikitnya empat tokoh reformis senior yang dituduh merencanakan penggulingan rezim Islam.
Pada hari yang sama, Narges Mohammadi, peraih Nobel Perdamaian, dijatuhi hukuman enam tahun penjara atas tuduhan bersekongkol membahayakan keamanan nasional, ditambah 1,5 tahun atas tuduhan propaganda anti-pemerintah. Mohammadi diketahui melakukan mogok makan sejak 2 Februari, dan tiga hari sebelumnya dilarikan ke rumah sakit akibat kondisi kesehatannya memburuk.
Di luar negeri, warga Iran di Amerika Serikat menggelar aksi demonstrasi di Times Square, New York, menyatakan dukungan terbuka terhadap revolusi nasional Iran. Aksi serupa juga berlangsung di Montreal, Kanada, meski suhu ekstrem mencapai minus 22 derajat Celsius.
Seorang demonstran menyatakan: “Jika saudara-saudara kami mampu bertahan di bawah penindasan paling brutal dari rezim Khamenei dan Garda Revolusi Iran, maka dingin seperti ini bukanlah apa-apa.”
Kesimpulan:
Rangkaian pernyataan keras, uji coba militer, pergerakan pasukan, serta tekanan politik internal dan eksternal menunjukkan bahwa krisis AS–Iran kini berada di titik paling rapuh dalam beberapa tahun terakhir. Perundingan yang rapuh berjalan berdampingan dengan eskalasi militer nyata, membuat kawasan Timur Tengah kembali berada di ambang ketidakpastian besar.





