EtIndonesia. A dan B adalah teman sekelas. Saat masih kuliah, hubungan mereka sangat akrab. Setelah lulus, keduanya menempuh jalan hidup masing-masing—mendirikan usaha dan berkeluarga.
Usaha A berkembang pesat. Pada masa kejayaannya, perusahaannya memiliki ratusan karyawan. Setiap hari A begitu sibuk hingga perlahan ia kehilangan kontak dengan teman-teman lama. Sesekali B ingin menelepon sekadar menanyakan kabar, tetapi yang mengangkat selalu sekretaris, sehingga lama-kelamaan B pun berhenti mencoba.
Kabar tentang A hanya B dengar dari mulut ke mulut.
Ketika kondisi ekonomi memburuk, perusahaan B yang berskala kecil tetap bertahan karena dijalankan dengan hati-hati dan stabil. Usahanya tidak terlalu terdampak.
Keadaan A justru sebaliknya. Setelah mencapai puncak kesuksesan, A terbiasa mengejar gengsi dan prestise. Perusahaannya tampak gemilang di luar, namun sesungguhnya bertumpu pada pinjaman bank. Beberapa kali arus kas macet, para pemasok enggan memberi kelonggaran, gaji karyawan pun berbulan-bulan tertunda. Akhirnya, perusahaan itu runtuh, dan A terjerat utang hingga puluhan miliar.
Suatu hari, saat B hendak menemui klien, dia berpapasan dengan A di jalan. Wajah A tampak letih. B sudah mendengar kabar tentang nasib temannya itu, dan tanpa ragu dia mengajak A makan siang.
B mengemudikan mobil ke kawasan dekat kampus lama mereka, berhenti di sebuah warung kecil di gang sempit yang tampak biasa saja. Dia memesan dua mangkuk mie soun tiram, tahu kecap, dan sayuran rebus.
A terkejut. Dia tak menyangka B mengajaknya makan di tempat sesederhana itu. Dalam hatinya muncul rasa tak nyaman—apakah karena melihatnya jatuh, B jadi malas menjamunya? Atau takut dia akan meminjam uang, sehingga sengaja berpura-pura pas-pasan?
Saat pesanan dihidangkan, B berkata: “Kamu masih ingat? Sepuluh tahun lalu, waktu kita kuliah di sini, kamu paling suka mie soun tiram di tempat ini. Katamu ususnya bersih dan tiramnya segar. Dulu kita tak punya uang, hanya mampu makan mie soun. Bahkan lauk kecil pun terasa mewah. Aku pikir kamu pasti sudah lama tidak makan mie soun tiram. Aku sendiri masih sering ke sini, sekalian mengenang masa muda…”
A tak sepenuhnya mengerti maksud B. Namun kenangan itu memang nyata—dia dulu sangat menyukai mie soun tiram di warung ini. Entah sejak kapan eia tak pernah kembali. Tak disangka, warung kecil itu masih berdiri, dan rasanya tetap lezat—bahkan tak kalah dengan hidangan mahal seperti sup sirip hiu.
Melihat A menikmati makanannya, B pun berkata: “Perusahaanku kecil, jelas tak sebanding dengan apa yang pernah kamu bangun. Tapi sekarang situasinya memang sulit. Kalau kamu tidak keberatan, datanglah bekerja bersamaku dulu. Nanti, kalau ada kesempatan, kamu bisa memulai usaha lagi. Atau kalau mau, kita berdua bekerja sama terus—apa pun boleh.”
A tak pernah menyangka B akan mengulurkan tangan secepat dan setulus itu. Matanya berkaca-kaca. Hampir sepuluh tahun tak berhubungan, namun persahabatan B tak berubah sedikit pun—seperti rasa mie soun tiram itu.
Untuk menyembunyikan gejolak perasaannya, A sengaja mengangkat mangkuk dan menyesap kuahnya dalam-dalam.
Saat meletakkan mangkuk, dia berkata: “Terima kasih sudah membawaku makan mie soun tiram. Aku kira banyak hal sudah berubah. Ternyata masih ada rasa yang tetap bertahan lama.”
Terkadang kita merasa orang lain telah berubah, padahal sesungguhnya kitalah yang berubah.
Dan terkadang kita merasa segalanya telah berubah, padahal yang berubah hanyalah diri kita sendiri.
Hikmah Cerita
Persahabatan sering kali merenggang seiring bertambahnya usia—masing-masing sibuk dengan pekerjaan dan keluarga, hingga tanpa sadar berjalan menjauh. Suatu hari, kenangan masa lalu tiba-tiba muncul, dan ada dorongan untuk kembali menghubungi. Namun keraguan pun datang: takut tak lagi dikenang, takut di ujung telepon sudah tak ada tempat untuk kita.
Takdir pertemuan sering kali lahir dari satu niat kecil… dan juga sering lenyap karena satu keraguan. (jhn/yn)





