EtIndonesia. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Amerika Serikat dan sejumlah sekutunya secara serentak memperkuat sistem pertahanan udara serta pengerahan militer di berbagai titik strategis kawasan. Langkah ini terjadi di tengah eskalasi retorika dan ancaman terbuka antara Israel dan Iran, yang memicu kekhawatiran meluasnya konflik regional.
AS Rampungkan Penempatan Sistem Pertahanan di 20 Pangkalan
Berdasarkan laporan gabungan media internasional, pada pekan pertama Februari 2026, Amerika Serikat telah menyelesaikan penempatan sistem pertahanan rudal di sekitar 20 pangkalan militernya yang tersebar di Timur Tengah. Sistem utama yang dikerahkan mencakup Patriot dan THAAD (Terminal High Altitude Area Defense), yang dirancang untuk mencegat rudal balistik serta ancaman udara di ketinggian menengah hingga tinggi.
Pengerahan ini dipandang sebagai langkah defensif strategis untuk menghadapi meningkatnya risiko serangan rudal balistik dan drone, seiring memburuknya hubungan antara Washington dan Teheran dalam beberapa bulan terakhir.
Inggris Ikut Tingkatkan Kekuatan Udara
Di saat yang sama, Inggris turut meningkatkan kehadiran militernya di kawasan. Pada awal Februari 2026, London mengirimkan sejumlah jet tempur F-35, disertai dua pesawat pengisi bahan bakar di udara, guna memperpanjang daya jelajah dan daya tahan operasi udara pasukan Barat di Timur Tengah. Langkah ini menegaskan bahwa sekutu Amerika juga bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi militer.
Israel Tetapkan “Garis Merah” terhadap Rudal Iran
Dari pihak Israel, peringatan disampaikan dengan nada yang semakin tegas. Pejabat pertahanan Israel dilaporkan telah memberi tahu Washington bahwa apabila program rudal balistik Iran melampaui apa yang disebut Yerusalem sebagai “garis merah keamanan nasional”, maka Israel tidak menutup kemungkinan melakukan serangan sepihak terhadap fasilitas terkait Iran—bahkan tanpa menunggu koordinasi penuh dengan Amerika Serikat.
Sinyal ini memperlihatkan meningkatnya kekhawatiran Israel terhadap kemampuan serangan jarak jauh Iran, yang dinilai semakin mendekati level ancaman eksistensial.
Isu Rekonstruksi Markas Mossad
Di ranah informasi publik, beredar laporan di dunia maya bahwa pemerintah Israel diduga telah mengalokasikan sekitar 300 juta dolar AS untuk membangun kembali markas besar Mossad yang disebut-sebut rusak akibat serangan rudal Iran dalam konflik singkat selama 12 hari pada tahun 2025. Dana tersebut juga dilaporkan digunakan untuk pemasangan sistem pertahanan udara tambahan di lokasi strategis itu. Hingga kini, informasi tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh otoritas Israel.
Netanyahu Bawa Intelijen Iran ke Washington
Menurut laporan Channel 12 Israel pada Senin, 10 Februari 2026, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dijadwalkan membagikan intelijen terbaru terkait Iran kepada Presiden Donald Trump dalam kunjungannya ke Washington.
Sumber yang mengetahui agenda tersebut menyebutkan bahwa materi intelijen mencakup:
- perkembangan program nuklir Iran,
- kemajuan program rudal balistik,
- dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok ekstremis regional,
- serta tindakan represif rezim Iran terhadap demonstrasi domestik.
Ancaman Terbuka dari Parlemen Iran
Dari Teheran, eskalasi verbal juga meningkat. Seorang anggota parlemen Iran, Nabavian, dalam pernyataan terbuka pada awal Februari 2026, memperingatkan bahwa jika Presiden Trump atau pihak Amerika Serikat melakukan “satu langkah keliru”, maka 3.000 hingga 4.000 tentara AS berpotensi menjadi korban.
Dia mengklaim Iran telah menyiapkan strategi multi-lapis, meliputi:
- peluncuran rudal balistik dan drone ke pangkalan AS di Timur Tengah dalam waktu singkat,
- aktivasi jaringan proksi regional untuk mengalihkan fokus militer,
- serta operasi siber guna mengganggu logistik dan sistem komando lawan.
Ancaman Selat Hormuz dan Dampak Global
Media internasional juga menyoroti peringatan lama Iran terkait kemungkinan pemblokiran Selat Hormuz. Gangguan di jalur vital ini—yang dilalui sekitar sepertiga pasokan minyak dunia—diperkirakan dapat mendorong harga minyak global melonjak hingga di atas 200 dolar AS per barel, memicu guncangan besar pada pasar energi dan ekonomi global.
Dugaan Bantuan Finansial Rusia ke Iran
Sementara itu, sejumlah media Eropa mengutip sumber yang menyebutkan bahwa Rusia diduga telah mentransfer dana bernilai miliaran dolar AS ke Iran dalam beberapa waktu terakhir untuk membantu meredakan krisis likuiditas dolar. Langkah ini disebut bertujuan melemahkan dampak sanksi finansial Amerika Serikat serta menstabilkan kondisi ekonomi domestik Iran.
Negara Teluk Izinkan Operasi THAAD
Dalam perkembangan regional lainnya, Arab Saudi dan Qatar dilaporkan secara resmi mengizinkan Amerika Serikat mengoperasikan sistem THAAD dari wilayah mereka. Keputusan yang diumumkan pada awal Februari 2026 ini dipandang sebagai sinyal kuat meningkatnya koordinasi keamanan antara negara-negara Teluk dan Washington dalam menghadapi ancaman rudal balistik.
Analisis Militer: Operasi Gabungan AS–Israel
Mantan jenderal Amerika Serikat, Jack Keane, dalam analisisnya menyatakan bahwa pengerahan militer saat ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, memaksimalkan pertahanan terhadap potensi serangan drone dan rudal Iran. Kedua, memastikan kesiapan ofensif untuk melumpuhkan infrastruktur utama yang menopang rezim Iran—mulai dari kepemimpinan sipil dan militer, Garda Revolusi Islam, hingga lembaga-lembaga penindasan lainnya.
Keane menegaskan bahwa sistem pertahanan udara Iran harus dinetralisir agar Amerika Serikat dan Israel memiliki kebebasan penuh beroperasi di wilayah udara Iran. Ia menyebut skenario ini sebagai operasi gabungan AS–Israel, dengan waktu pelaksanaan bergantung pada kesiapan sumber daya tambahan. Menurutnya, kondisi saat ini merupakan peluang historis yang telah dicari selama puluhan tahun untuk membentuk ulang tatanan keamanan dan mencapai stabilitas jangka panjang di Timur Tengah.





