Modernitas Perang di Depan Mata, Kepahlawanan di Surabaya Jadi Inspirasi Perwira Siswa TNI AU

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

SURABAYA, KOMPAS - Sumbangsih pahlawan nasional dan Pertempuran Surabaya menginspirasi 100 Perwira Siswa Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara yang melaksanakan Kuliah Kerja Kejuangan di Kota Surabaya, Jawa Timur.

Wakil Komandan Seskoau Marsekal Pertama Irwan Pramuda saat membuka Sarasehan Pasis Seskoau Angkatan ke-64 Tahun Pelajaran 2026 di Surabaya, Selasa (10/2/2026), mengatakan, moral, loyalitas terhadap Tanah Air, pengabdian tulus, adalah nilai-nilai yang tak lekang oleh waktu dan patut menjadi watak atau karakter prajurit.

Selain itu, prajurit hendaknya juga berkarakter disiplin, memiliki kesiapan dan kesiagaan, kreatif, serta inovatif.

”Kepahlawanan dan kejuangan adalah fondasi yang selalu relevan bagi prajurit dalam menghadapi tuntutan perang modern,” kata Irwan.

Sarasehan ini adalah kelanjutan dari Kuliah Kerja Kejuangan atau KK Juang untuk menguatkan pemahaman terhadap tema kegiatan. KK Juang ini bertema ”Semangat Kejuangan Para Pahlawan Menjadi Inspirasi bagi TNI AU dalam Menghadapi Tuntutan dan Kompleksitas Era Perang Modern”.

Pasis Seskoau Angkatan 64 yang mengikuti KK Juang ini terdiri dari 84 perwira AU, 4 perwira Angkatan Laut, 2 perwira Angkatan Darat, dan 3 perwira Polri. Selain itu, ada 7 perwira militer mancanegara yang masing-masing berasal dari India, Malaysia, Singapura, Filipina, Australia, China, dan Amerika Serikat.

Baca JugaBersiap Hadapi Perang Masa Depan, Mempelajari Strateginya hingga Berpikir Tingkat Tinggi

Irwan mengatakan, modernitas dalam perang terlihat dari lompatan teknologi alat utama sistem senjata. Perang berlangsung di dunia nyata hingga dunia maya atau siber. Ada adu kekuatan pasukan, alutsista, teknologi jaringan informatika, robotika, digital, komputasi, dan akal imitasi (AI).

”Namun, prajurit patut memelihara aspek moral kemanusiaan melalui nilai-nilai kepahlawanan dan kejuangan. Untuk itu, modernisasi tidak boleh tercabut dari akar historisnya,” kata Irwan.

Di Surabaya, Pasis Seskoau diajak untuk melihat, menggali, merefleksikan kepahlawanan, nasionalisme, dan keteladanan melalui KK Juang. Mereka mengunjungi Monumen Tugu Pahlawan dan Museum 10 Nopember terkait Pertempuran Surabaya. Mereka juga mengunjungi Gedung Nasional Indonesia sebagai pusat pergerakan nasional dan pendidikan Dr Soetomo, Museum HOS Tjokroaminoto, Rumah Lahir Soekarno, dan Ruslan Abdul Gani.

Dalam sarasehan juga dihadirkan Mbah Amad, saksi hidup Insiden Hotel Yamato dan Pertempuran Surabaya. Kedua peristiwa berdarah itu terjadi dalam konteks mempertahankan kemerdekaan yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Selain itu, turut hadir Ketua Yayasan Perguruan Tinggi 17 Agustus 1945 Bambang Sulistomo, putra pahlawan nasional Soetomo (Bung Tomo).

Nama-nama pahlawan nasional dan saksi hidup itu adalah figur penting dalam pergerakan nasional. Mereka membangun kesadaran sosial, politik, diplomasi, perjuangan memerdekakan, dan mempertahankan kemerdekaan. Nilai-nilai atau sifat-sifat itulah yang bagi Seskoau mencerminkan kedalaman kualitas kepribadian, kepemimpinan, dan kebangsaan prajurit sehingga diharapkan mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab negara.

Selaku pembicara utama, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, mengatakan, provinsi berpopulasi 42 juta jiwa ini sejak era klasik menjadi palagan perjuangan. Perjalanan dan ambisi kerajaan-kerajaan terutama Singhasari dan Majapahit menguasai Nusantara perlu dilihat dari sisi positif untuk memastikan kedaulatan bangsa dan negara secara lahir batin.

”Jawa Timur kami yakini banyak menyumbang tokoh-tokoh sebagai pahlawan nasional, memperlihatkan pentingnya provinsi ini dalam perjalanan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia),” kata Khofifah.

Mengutip pernyataan terkenal pahlawan nasional dan Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid, lanjut Khofifah, kehidupan adalah perjuangan. Perjuangan menuntut pengorbanan, pengorbanan membawa pahala. Setidaknya, pernyataan itu merupakan ikhtiar para pendiri dan pahlawan untuk memastikan keselamatan bangsa dan negara Indonesia.

Baca JugaSiapkan Para Komandan TNI untuk Hadapi Perang Modern

Khofifah mengatakan, dalam pendidikan, Pemprov Jatim mengelola tujuh sekolah menengah atas negeri taruna. Masing-masing SMA Negeri 10 Taruna Nala di Malang, SMA Negeri 3 Taruna Angkasa di Madiun, SMA Negeri 5 Taruna Brawijaya di Kediri, SMA Negeri 2 Taruna Bhayangkara di Banyuwangi, SMA Negeri 1 Taruna Madani di Pasuruan, dan SMA Negeri 2 Taruna Pamong Praja di Bojonegoro.

”Merekalah juru bicara Indonesia, pengawal NKRI lahir batin, di tengah tantangan global serta keinginan mewujudkan Indonesia Emas 2045,” ujar Khofifah. Salah satu tantangan global terkait dengan kedaulatan ialah radikalisme, terorisme, dan disintegrasi yang merupakan antitesis dari kepahlawanan dan kejuangan.

Generasi muda termasuk perwira siswa ialah barisan pemimpin mendatang. Mereka menentukan nasib atau masa depan negeri. Pemajuan dan kemajuan peradaban manusia seolah bergerak linier dan melampaui situasi modern bahkan digital. ”Kesuksesan negeri ini karena bersatu dan bergandengan tangan,” kata Khofifah.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Cuaca Jatim Pagi-Sore Berpeluang Hujan Petir
• 14 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Aditya Zoni Memohon Ammar Zoni Tidak Dikembalikan ke Nusakambangan, Khawatirkan Mental Sang Kakak
• 12 jam lalugrid.id
thumb
Desa Padasari Tegal Jadi Zona Merah Bencana Tanah Bergerak
• 1 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kemenag Jelaskan Potensi Perbedaan Awal Ramadan di Indonesia
• 4 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
10 Ciri-Ciri Kontraksi Asli dan Pembukaan, Bunda Wajib Tahu!
• 11 jam lalutheasianparent.com
Berhasil disimpan.