TANGERANG, KOMPAS.com — Taman Teluknaga di Desa Tanjung Burung, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang, kini hanya menyisakan cerita sepi.
Sejak pandemi Covid-19, taman yang dulunya ramai dikunjungi warga itu kehilangan pengurus resmi dari pemerintah.
Akibatnya, fasilitas rusak, penerangan minim, jalan rusak, dan rumput liar tumbuh tinggi.
Kondisi tersebut membuat taman menjadi sepi dan rawan kejahatan, terutama pada malam hari.
Di tengah taman yang terbengkalai, ada sosok yang tetap setia menjaga.
Baca juga: Polisi Tangkap Pemuda yang Jual Eximer dan Tramadol di Teluk Naga
Biran (53), pedagang warung kopi, menjadi satu-satunya orang yang merawat taman itu.
Selama dua tahun terakhir, ia memotong rumput liar, mengecat patung perahu naga yang menjadi ikon taman, bahkan memasang enam lampu agar tidak terlalu gelap.
Semua itu ia lakukan sendiri, dengan biaya pribadi dari penghasilan warung dan pekerjaan borongan.
“Rumah saya dekat sini, jalan kaki juga sampai. Tapi saya pilih tidur di warung agar bisa jaga taman dan alat-alat yang ada,” kata Biran, Senin (9/2/2026).
Istrinya, kata dia, tetap pulang ke rumah karena ada anak yang dijaga.
Biaya sendiri
Biran mengaku tidak menghitung secara pasti biaya yang ia keluarkan.
“Kadang punya Rp 100.000 saya pakai untuk bensin, bersih-bersih, atau potong rumput. Tergantung rezeki,” ujarnya.
Baca juga: Polisi Tegaskan Kasus Pembubaran Aktivitas Ibadah di Teluk Naga Diselesaikan Secara Damai
Meski demikian, perawatan taman tidak selalu rutin, melainkan menyesuaikan kondisi keuangan.
Selama dua tahun terakhir, Biran belum pernah melihat pihak pemerintah meninjau atau memberikan bantuan untuk Taman Teluknaga.
Semua inisiatif datang dari dirinya sendiri, demi menjaga ruang publik yang seharusnya menjadi milik warga.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang