B-52 Mendarat, F-22 Ditarik, C-17 Membanjir — Apa yang Sebenarnya Disiapkan AS?

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Hanya berselang satu hari setelah perundingan tidak langsung Amerika Serikat–Iran di Muscat, ibu kota Oman, tanda-tanda eskalasi militer AS di Timur Tengah justru meningkat tajam. Data pergerakan militer yang terungkap pada 7–8 Februari menunjukkan bahwa Washington tidak sepenuhnya menggantungkan nasib krisis ini pada jalur diplomasi.

Gelombang Angkut Strategis AS Menuju Timur Tengah

Pada 8 Februari, akun platform X bernama Neutral Strike mengungkap bahwa pada 7 Februari, 11 pesawat angkut strategis C-17 Globemaster milik Angkatan Udara AS lepas landas dari berbagai pangkalan militer di daratan Amerika Serikat dan terbang langsung menuju pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah.

Muatan pesawat-pesawat tersebut bukan bantuan kemanusiaan, melainkan komponen sistem pertahanan udara dan amunisi. Para analis militer menilai konfigurasi ini sebagai postur persiapan perang, bukan persiapan lanjutan perundingan. Pengiriman sistem pertahanan udara dan stok amunisi dalam jumlah besar umumnya hanya dilakukan ketika risiko konflik bersenjata dinilai tinggi dan mendesak.

Pembom B-52 Diperbanyak di Qatar

Pada hari yang sama, sejumlah akun intelijen sumber terbuka di X melaporkan bahwa pembom strategis B-52 Stratofortress milik militer AS telah tiba atau diperbanyak di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar. Beberapa unit B-52 dilaporkan mendarat pada 7 Februari, memperkuat kehadiran udara strategis AS di kawasan Teluk.

Kehadiran B-52—platform pengebom jarak jauh yang mampu membawa senjata konvensional maupun nuklir—merupakan langkah militer konvensional yang bergerak cepat, sekaligus berfungsi sebagai pesan pencegah strategis kepada Iran dan aktor regional lainnya.

Latar Belakang: Perundingan Tidak Langsung di Oman

Sebelumnya, pada 6 Februari, Amerika Serikat dan Iran menggelar perundingan tidak langsung selama beberapa jam di Muscat. Pertemuan tersebut dimediasi oleh Menteri Luar Negeri Oman, Badr bin Hamad Al-Busaidi.

Delegasi AS dinilai sangat tidak lazim karena mencakup:

Kehadiran Panglima CENTCOM dalam forum diplomatik memperkuat kesan bahwa perundingan ini berlangsung di bawah bayang-bayang opsi militer yang nyata.

Usai pertemuan, Donald Trump menyatakan secara terbuka di atas Air Force One bahwa pembicaraan “berjalan baik”, Iran “sangat ingin mencapai kesepakatan”, dan putaran lanjutan akan digelar pada awal pekan berikutnya.

Penolakan Iran atas Penghentian Pengayaan Uranium

Namun, hampir bersamaan dengan pernyataan optimistis tersebut, muncul informasi kunci dari Teheran. Iran menegaskan menolak tuntutan AS untuk menghentikan pengayaan uranium di dalam negeri.

Seorang diplomat regional yang menerima pengarahan langsung dari Teheran pada Jumat, 6 Februari, menyebutkan bahwa:

Diplomat itu menambahkan bahwa delegasi AS tampaknya memahami posisi Iran dan menunjukkan fleksibilitas terbatas, meski belum menyentuh inti perbedaan strategis.

Lima Tuntutan Utama AS vs Dua Garis Merah Iran

Menurut berbagai sumber diplomatik, pemerintahan Trump mengajukan lima tuntutan utama kepada Iran:

  1. Penghapusan total program nuklir Iran
  2. Penghentian penuh pengayaan uranium dan pemindahan seluruh stok uranium yang telah diperkaya
  3. Pembatasan jangkauan rudal hingga maksimal 300 km
  4. Pembubaran jaringan yang disebut “Poros Syiah”
  5. Penerimaan pengawasan internasional yang ketat dan menyeluruh

Sebaliknya, Iran menetapkan dua garis merah yang tidak dapat dinegosiasikan:

Dengan konfigurasi ini, ruang tumpang tindih di meja perundingan nyaris tidak ada.

Pengerahan Udara Skala Besar: Indikasi Pra-Perang

Hingga Sabtu, 8 Februari, tercatat 112 pesawat angkut C-17 AS telah tiba atau sedang dalam perjalanan menuju Timur Tengah, dengan tambahan 17–18 penerbangan masih aktif di udara. Para analis menyebut ini bukan penguatan biasa, melainkan pengerahan pra-perang yang sistematis dan berkelanjutan.

Indikasi lain muncul ketika jet tempur siluman F-22 Raptor tiba-tiba ditarik dari ajang pertunjukan udara Super Night Flight. Penjelasan resmi hanya menyebutkan: tempo operasi meningkat, F-22 dialihkan untuk tugas tempur.

Pola Operasi dan Peran F-22

Mengacu pada pola operasi militer AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025, skema saat ini dinilai telah disiapkan secara matang. Dalam skenario tersebut, F-22 bukan pembom utama, melainkan gelombang pertama yang bertugas:

Dengan kata lain, F-22 berperan sebagai “pembersih langit” sebelum fase serangan terstruktur dimulai.

Armada Laut AS dan Kunjungan ke Kapal Induk

Di laut, kekuatan AS di kawasan mencakup USS Abraham Lincoln, USS Roosevelt, sejumlah destroyer kelas Arleigh Burke, serta berbagai platform peluncur rudal jelajah.

Pada 8 Februari, Witkoff dan Kushner, didampingi Panglima CENTCOM, menaiki USS Abraham Lincoln. Kunjungan ini berlangsung di puncak pengerahan pasca-perundingan, mengirim sinyal keras bahwa opsi militer telah siap jika diplomasi gagal.

Respons Iran: Rudal Balistik dan Penangkalan Aktif

Dari pihak Iran, Kantor Berita Fars melaporkan bahwa Angkatan Udara Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah menempatkan rudal balistik Khorramshahr-4 di pangkalan bawah tanah baru. Rudal tersebut memiliki:

Iran menyebutnya sebagai senjata kunci dalam strategi penangkalan aktif.

Israel Dorong Kesepakatan Lebih Keras

Sementara itu, Israel mendorong kesepakatan nuklir yang jauh lebih ketat. Benjamin Netanyahu dijadwalkan mengunjungi Washington pada 11 Februari untuk bertemu Presiden Trump. Fokus pembahasan adalah perundingan AS–Iran yang kembali dimediasi Oman.

Israel menegaskan bahwa kesepakatan apa pun harus mencakup:

Namun, secara realistis, peluang Iran menerima syarat ini sangat kecil. Bagi Teheran, rudal balistik adalah pilar utama penangkal konvensional, bukan alat tawar-menawar.

Peringatan Evakuasi dan Titik Kritis Kawasan

Menjelang perundingan lanjutan, pemerintah AS kembali mengeluarkan peringatan keamanan, mendesak warganya segera meninggalkan Iran dan tidak mengandalkan evakuasi pemerintah, melainkan menyiapkan jalur darat menuju Armenia atau Turki. Dalam praktik diplomasi, langkah ini dipandang sebagai prosedur standar menjelang konflik bersenjata, bukan sekadar retorika.

Kini, pertanyaannya bukan lagi apakah AS dan Iran akan berunding, melainkan apakah perang akan langsung pecah jika perundingan gagal. Pembom telah siaga, kapal induk sudah berada di posisi, dan rudal telah dikeluarkan dari gudang—Timur Tengah benar-benar mendekati titik kritisnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
PM Jepang Sanae Takamichi Menang Telak Pemilu Sela, Kepopulerannya Disebut Jadi Alasan
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Kebut Pemulihan Pascabencana, Mendagri-BPS Bahas Dashboard Data Tunggal
• 17 jam laludetik.com
thumb
Polda Metro Bongkar Pengiriman 2 Kg Ganja Via Ekspedisi di Depok
• 1 jam laludetik.com
thumb
Pemeriksaan Kasus Ijazah Jokowi, Roy Suryo Hadirkan Saksi Fakta ke Polda Metro
• 5 jam laludisway.id
thumb
Gubernur Sulsel Siapkan Rp7,5 Miliar untuk Rumah Tidak Layak Huni di Takalar
• 3 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.