Bisnis.com, BATAM — PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) resmi memulai pembangunan pipa gas West Natuna Transportation System (WNTS) menuju Pulau Pemping, Kepulauan Riau. Seremoni peletakan batu pertama atau groundbreaking digelar hari ini, Selasa (10/2/2026).
Proyek strategis bernilai investasi sekitar Rp1 triliun ini ditujukan untuk memperkuat pasokan gas dan menjamin keandalan listrik di Batam dan wilayah Kepulauan Riau.
Direktur Utama PLN EPI Rakhmad Dewanto mengatakan, keberadaan pipa gas WNTS–Pemping akan menjadi solusi atas kebutuhan energi Batam yang terus meningkat, seiring pertumbuhan industri dan investasi.
“Ke depan, kebutuhan listrik Batam akan semakin besar dan sumbernya berbasis gas. Selama ini pasokan gas banyak mengalir ke Singapura, dengan pipa ini gas dapat dialirkan terlebih dahulu ke Batam untuk memenuhi kebutuhan domestik,” ujar Rakhmad.
Dia menyebutkan, proyek ini akan dikerjakan secara bertahap. Pada tahap awal, pipa gas ditargetkan mampu menyalurkan sekitar 33 million standard cubic feet per day (MMscfd), yang kemudian meningkat hingga 111 billion British thermal unit per day (BBtud) dan dipertahankan selama 11 tahun.
“Seluruh volume gas tersebut dialokasikan 100% untuk kebutuhan domestik. Ini dapat menjamin pasokan energi Batam setidaknya untuk 10 tahun ke depan,” kata Rakhmad.
Baca Juga
- Mangkrak 1 Dekade, Proyek Pipa Gas West Natuna Kepri Segera Dibangun Bulan Ini
- Arsari Group Milik Hashim Djojohadikusumo Mulai Alirkan Gas West Natuna ke Batam pada 2027
- PLN Target Proyek Pipa Gas West Natuna Kepri Beroperasi Desember 2025
PLN EPI juga telah menyiapkan sejumlah tahapan awal proyek, mulai dari pengadaan long lead items, penunjukan kontraktor engineering, procurement, and construction (EPC), hingga penyelesaian perizinan lingkungan.
Proyek ini terintegrasi dengan pengaliran gas dari Wilayah Kerja Duyung, seiring telah ditandatanganinya Perjanjian Jual Beli Gas Bumi (PJBG) antara PLN EPI dan West Natuna Exploration Limited pada 11 Juli 2025.
Direktur Manajemen Pembangkitan PLN Rizal Calvary Marimbo menegaskan, gas merupakan sumber energi paling realistis bagi Batam. Pasalnya, wilayah ini memiliki keterbatasan sumber energi baru terbarukan.
“Batam tidak memiliki sungai besar untuk PLTA, potensi gelombang juga terbatas. Energi surya bisa dikembangkan di wilayah pesisir. Namun, gas tetap menjadi andalan utama. Apalagi pasokannya tersedia dari Natuna dan Sumatra,” ujarnya.
Rizal menambahkan, proyek Pemping ini sempat tertunda hampir 1 dekade akibat kendala pendanaan dan kepastian harga gas. Namun kini, dengan penugasan langsung kepada PLN EPI, proyek kembali berjalan dan telah mencapai progres sekitar 72%.
Sementara itu, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan, keberadaan pipa WNTS–Pemping akan mengubah arah pemanfaatan gas Natuna yang sebelumnya lebih banyak diekspor ke Singapura.
“Dengan pipa ini, sekitar 111 BBtud gas Natuna akan disalurkan ke PLN selama 11 tahun. Gas dijadwalkan mulai mengalir bertahap, dengan target on stream pada 2027–2028 sehingga ketahanan energi nasional, khususnya di Batam, semakin kuat,” kata Joko.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad menyambut baik dimulainya pembangunan pipa gas tersebut. Menurutnya, proyek ini memberikan nilai tambah besar bagi Batam sebagai kawasan industri dan garda terdepan ekonomi nasional.
“Kebutuhan listrik Batam tumbuh sekitar 15% per tahun, seiring lonjakan investasi yang pada 2025 lalu mencapai Rp69,3 triliun atau tumbuh 11,5%. Karena itu, keandalan pasokan energi menjadi kunci. Proyek ini menjadi terobosan strategis bagi masa depan Batam,” ujar Amsakar.





