Jakarta, ERANASIONAL.COM — Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan dan Manajemen Risiko Badan Pengelolaan Dana Perkebunan (BPDP), Zaid Burhan Ibrahim, mengungkapkan produktivitas kelapa sawit Indonesia pada tahun 2025 lebih rendah dari negara Malaysia.
Zaid merinci total produktivitas tersebut mencapai 3,61 persen, dibandingkan dengan negara tetangga yang mencapai 4,02 metrik ton per hektare per tahun.
Diketahui kedua negara tersebut merupakan dua raksasa produsen kelapa sawit global. Indonesia dan Malaysia bersaing ketat dalam memperebutkan pangsa pasar dunia.
“Nah ini, dari sisi produktivitas Indonesia masih lebih rendah dari Malaysia. Kalau Indonesia itu 2025 secara luasan lahan Indonesia lebih tinggi. Di 2025 produktivitas Indonesia 3,61 metrik ton per hektare per tahun, di Malaysia sudah 4,02,” ujar Zaid dalam diskusi di Movenpick Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026).
Namun, dikatakan dia, data menunjukkan adanya kesenjangan signifikan dalam efisiensi produksi. Padahal, pada tahun yang sama, total produksi sawit Indonesia mencapai 46,5 juta metrik ton. Luasan lahan kelapa sawit di Indonesia mencapai 12,9 juta hektare.
“Sementara itu, Malaysia hanya memproduksi 20,2 juta metrik ton sawit dari lahan seluas 5,04 juta hektare. Perbandingan ini menunjukkan inefisiensi produksi di Indonesia,” tambah Zaid.
Kondisi ini bukan fenomena baru. Sejak tahun 2023, produktivitas kelapa sawit Indonesia terus kalah dari Malaysia.
Berikut perbandingan produktivitas kelapa sawit Indonesia dan Malaysia:
Pada tahun 2023, produktivitas Indonesia mencapai 3,63 metrik ton per hektare per tahun. Angka ini lebih rendah dari Malaysia yang sudah 3,68 metrik ton per hektare per tahun.
Di tahun 2024, produktivitas Malaysia melonjak hingga 3,82 metrik ton per hektare per tahun. Sementara Indonesia hanya mampu mencapai 3,53 metrik ton per hektare per tahun.
“Artinya apa? Artinya ini tantangan dan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan produktivitas. Dengan luasan lahan yang lebih tinggi, seyogyanya Indonesia masih bisa meningkatkan produktivitas,” ujar Zaid.
Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan dan Manajemen Risiko Badan Pengelolaan Dana Perkebunan (BPDP), Zaid (Tengah), dan Direktur Palmoil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung. Dok: Eranasional/Agung NugrohoPenyebab Utama Produktivitas Sawit
Direktur Palmoil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung menjelaskan penyebab utama produktivitas sawit Indonesia kalah dari Malaysia adalah varietas sawit yang ditanam banyak yang belum baik.
“Faktor kedua adalah praktik pertanian di Indonesia yang memang kalah dari Malaysia. Ketiga, komposisi tanaman yang terus berubah memengaruhi produktivitas,” ucap Tungkot.
Produktivitas dapat tinggi apabila proporsi kelompok umur sawit dewasa paling banyak dari total luasan lahan. Ini menjadi kunci penting dalam peningkatan produksi.
Secara historis, Indonesia memang telat dalam mengembangkan komoditas kelapa sawit. Malaysia jauh lebih dulu menjadikan sawit sebagai andalan pertanian negaranya.
Malaysia, menurut Tungkot, sudah menjadi juara dunia dalam memproduksi sawit sejak tahun 2004. Sementara itu, Indonesia baru fokus mengembangkan kelapa sawit pada tahun 2006.
Menurutnya, Malaysia sudah melakukan hilirisasi selangkah lebih jauh dibandingkan Indonesia. Hal ini membuat pertanian sawit di Negeri Jiran jauh lebih baik produktivitasnya.
“Kita harus akui, Malaysia itu lebih dahulu lakukan hilirisasi, kita dulu enak menikmati booming minyak bumi, sampai 2004 kita itu tak peduli sawit kita itu seperti apa. Malaysia tahun 2004 sampai 2006 sudah juara dunia, jadi dia pernah jadi produsen sawit terbesar dunia,” tandas Tungkot.





