jpnn.com, JAKARTA - Hasil survei Indonesian Public Institute (IPI) pada 9 Februari 2025 menghadirkan kejutan yang cukup signifikan dalam lanskap politik Indonesia menjelang Pemilu 2029.
Nama Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin (SS) muncul dalam 10 besar bursa calon presiden, bersanding dengan tokoh-tokoh politik papan atas seperti Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Pramono Anung, Puan Maharani, dan Agus Harimurti Yudhoyono.
BACA JUGA: Hasil Survei Terbaru: Sjafrie Sjamsoeddin Hingga Purbaya Masuk Bursa Bakal Capres 2029
“Posisi Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di puncak survei memang tidak mengejutkan. Namun, kehadiran nama Sjafrie dalam daftar tersebut membuka pertanyaan yang menarik sekaligus mengkhawatirkan bagi stabilitas politik pemerintahan saat ini,” tegas pengamat politik sekaligus Direktur Rumah Politik Indonesia (RPI) Fernando Emas di Jakarta (10/2).
Fernando Emas mengatakan Sjafrie Sjamsoeddin bukanlah nama asing dalam konstelasi politik Indonesia.
BACA JUGA: Wajah Baru Bursa Capres 2029: Selain Sjafrie & Purbaya, Ada Sherly Tjoanda
Sebagai sahabat karib Presiden Prabowo, kata dia, mantan perwira militer ini dikenal memiliki pengaruh yang sangat besar dalam lingkaran kekuasaan.
"Wataknya yang tegas dan latar belakang militernya membuat sosoknya dipandang sebagai menteri paling “powerful” di kabinet. Namun, popularitas dan kekuasaan yang dimilikinya kini justru berpotensi menjadi bumerang bagi Prabowo sendiri. Ketika seorang menteri pertahanan mulai masuk dalam radar calon presiden, alarm politik seharusnya berbunyi keras di Istana," ujar Fernando Emas.
BACA JUGA: Dukungan Gerakan Rakyat kepada Anies untuk Pilpres 2029 Memicu Dinamika di Partai Lain
Fernando menyoroti investigasi salah satu Majalah nasional yang mengungkap adanya ketegangan internal di tubuh pemerintahan yang melibatkan dua tokoh paling dekat dengan Presiden Prabowo dan salah satunya Sjafrie Sjamsoeddin.
Benturan pandangan mereka terkait skenario pembenahan ekonomi nasional menjadi bukti bahwa perpecahan sudah mulai terlihat di permukaan.
"Yang lebih menarik, dan meresahkan adalah fakta bahwa seorang Menteri Pertahanan seperti Sjafrie ternyata begitu intens mengurusi urusan ekonomi, domain yang seharusnya menjadi wilayah kementerian lain," ujarnya.
"Pertanyaan kritis muncul, mengapa SS yang notabene Menteri Pertahanan begitu aktif dalam ranah kebijakan ekonomi? Apakah ini bagian dari strategi untuk membangun kredibilitas sebagai calon pemimpin yang komprehensif? Atau lebih jauh lagi, apakah ini merupakan langkah kalkulatif untuk mematangkan positioning politik menjelang Pilpres 2029? “Jika jawabannya ya, maka Presiden Prabowo sedang menghadapi skenario yang sangat familiar dalam sejarah politik Indonesia: pengkhianatan dari orang terdekat,” ujar Fernando dalam merespons pertanyaan retoris di atas.
Fernando mengatakan ada anteseden untuk itu pada tahun 2004 lalu. Susilo Bambang Yudhoyono, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan di kabinet Megawati Soekarnoputri, memutuskan untuk maju sebagai calon presiden.
Keputusan ini, kata dia, mengejutkan banyak pihak, terutama Presiden Megawati Soekarnoputri, karena SBY adalah bagian dari tim inti pemerintahan.
"SBY berhasil "menikung" Megawati dalam Pilpres 2004 dan kemudian berkuasa selama dua periode, total 10 tahun. Pengkhianatan politik dari orang terdekat menjadi kenyataan pahit yang harus ditelan oleh presiden petahana,” kata dia.
Fernando menandaskan sejarah bisa berpotensi berulang. Sjafrie Sjamsoeddin dengan segala kekuasaan dan pengaruhnya sebagai Menhan sekaligus sahabat Prabowo, kata dia, kini muncul sebagai calon presiden potensial.
Menurut dia, polanya identik, yakni orang dalam yang menjadi ancaman terbesar.
“Sejarah politik Indonesia penuh dengan ironi tentang pengkhianatan dari lingkaran dalam. Kasus SBY dan Megawati adalah pelajaran paling jelas bahwa kedekatan personal tidak menjamin loyalitas politik. Ketika ambisi kekuasaan bertemu dengan peluang, bahkan persahabatan terdekat bisa berubah menjadi persaingan paling sengit. Presiden Prabowo, yang sudah berkali-kali merasakan pahitnya kompetisi politik, seharusnya lebih waspada terhadap dinamika ini," ujar Fernando.
"Namun, pertanyaannya adalah, apakah kesadaran itu sudah datang, atau kita akan menyaksikan pengulangan sejarah yang sama lima tahun lagi? Tentu saja, setiap warga negara, termasuk Sjafrie Sjamsoeddin, memiliki hak konstitusional untuk mencalonkan diri dalam kontestasi politik," ungkap dia.
Namun, kata Fernando, ketika seorang menteri yang masih aktif, apalagi menteri seberkuasa Sjafrie—mulai menunjukkan ambisi kepresidenan, ini bukan lagi soal hak demokratis semata.
Ini adalah ancaman langsung terhadap stabilitas kabinet dan efektivitas pemerintahan. Bagaimana mungkin seorang menteri bisa fokus menjalankan tugasnya ketika pikirannya sudah tertuju pada Pilpres 2029?
Fernando dengan tegas mengingatkan Presiden Prabowo untuk berhati-hati terhadap orang-orang terdekatnya yang berambisi menjadi saingannya.
Peringatan ini bukan tanpa dasar. Sjafrie sebagai lawan politik Prabowo di 2029, kata dia, adalah skenario terburuk yang bisa terjadi.
Ia mengenal seluruh strategi, kelemahan, dan rahasia pemerintahan dari dalam. Ia memiliki akses ke sumber daya negara, jaringan kekuasaan, dan kredibilitas sebagai bagian dari pemerintahan yang sedang berkuasa. Ini adalah kombinasi yang sangat berbahaya.
Presiden Prabowo kini berada di persimpangan yang sulit. Di satu sisi, bertindak terlalu cepat untuk menetralisir Sjafrie bisa dianggap sebagai tindakan otoriter yang akan merusak citra demokratis pemerintahannya.
Di sisi lain, membiarkan situasi ini berkembang tanpa strategi yang jelas bisa berarti mengizinkan ancaman politik tumbuh di dalam istananya sendiri.
Keputusan yang diambil dalam beberapa bulan ke depan akan sangat menentukan dinamika politik menjelang 2029. Yang jelas, Prabowo tidak bisa lagi mengabaikan sinyal-sinyal yang sudah begitu jelas ini.
Sementara itu, aktivis sekaligus Koordinator Front Pemuda Indonesia Raya (FPIR) Fauzan Ohorella merespons dengan nada keras hasil survei IPI.
“Orang terdekat yang menjadi lawan adalah kenyataan pahit yang sudah lumrah dalam politik Indonesia. Pertanyaannya apakah ini akan terjadi, tetapi kapan—dan apakah Presiden Prabowo sudah siap menghadapinya?,” ujar Fauzan dalam keterangan persnya, Selasa (10/2/2026).
Baik Fernando maupun Fauzan menilai bahwa survei IPI mungkin hanya angka hari ini, tetapi itu adalah cermin dari dinamika kekuasaan yang sedang bergeser.
Ketika nama Sjafrie Sjamsudin muncul sebagai calon presiden potensial, itu bukan lagi spekulasi politik biasa—itu adalah tanda bahwa permainan sudah dimulai.
Dalam permainan politik Indonesia, sejarah telah mengajarkan kita bahwa musuh paling berbahaya seringkali adalah mereka yang tidur di kamar sebelah.(fri/jpnn)
Redaktur & Reporter : Friederich Batari




