PENYAKIT Kawasaki merupakan peradangan pembuluh darah sistemik yang terutama menyerang anak usia dini dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius pada jantung. Penyakit ini pertama kali dilaporkan pada 1967 oleh dokter anak asal Jepang, bernama Tomisaku Kawasaki.
Penyakit ini menimbulkan dampak yang sangat besar terhadap kesehatan anak, khususnya karena dapat merusak arteri koroner yang berfungsi menyuplai darah ke jantung.
Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus tokoh yang kerap dijuluki "Bapak Kawasaki Indonesia", dr. Najib Advani menegaskan bahwa kewaspadaan terhadap penyakit ini menjadi penting karena risiko komplikasi jantung yang ditimbulkannya.
Baca juga : Penyakit Kawasaki pada Anak di Bawah lima Tahun Bisa Sebabkan Kerusakan Jantung
"Kalau tidak diobati, sekitar 15–25 persen anak bisa mengalami aneurisma arteri koroner. Ini pelebaran pembuluh darah jantung yang berbahaya. Dengan pengobatan, risiko itu bisa turun drastis hanya sekitar 2–3 persen," kata dr. Najib dalam diskusi secara daring, Selasa (10/2).
Dr. Najib mengatakan, penyebab pasti Kawasaki ini masih belum diketahui. Menurutnya, penyakit ini diduga berkaitan dengan agen infeksi seperti virus atau bakteri yang kemudian memicu peradangan pembuluh darah di seluruh tubuh atau vasculitis sistemik.
Namun, tidak semua anak yang terpapar infeksi akan mengalami Kawasaki. Faktor genetik diduga berperan dalam menentukan siapa yang terkena, tingkat keparahan penyakit, serta kemungkinan terjadinya kerusakan arteri koroner.
Baca juga : Mengenal Penyakit Kawasaki: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan untuk Anak
"Saya bertanya langsung kepada Prof. Tomisaku Kawasaki mengenai penyebabnya, dan jawabannya sederhana, 'I don’t know'. Artinya hingga sekarang memang belum ada kepastian," ujarnya.
Secara global, jumlah kasus Kawasaki sebenarnya tidak sedikit. Lebih dari satu juta kasus telah tercatat di seluruh dunia. Di Indonesia, dr. Najib memperkirakan terdapat sekitar 3.000 hingga 4.000 kasus baru setiap tahun, tetapi hanya sekitar 200 kasus yang berhasil terdiagnosis.
Selama lebih dari 25 tahun melakukan sosialisasi sejak 1999, ia mengaku telah menangani lebih dari 2.000 pasien yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.
"Jadi kalau disebut penyakit langka, sebenarnya tidak juga. Masalahnya lebih pada keterlambatan diagnosis," ungkapnya.
Kesulitan diagnosis terjadi karena gejala Kawasaki sering menyerupai penyakit lain seperti campak, demam berdarah, infeksi saluran kemih, hingga infeksi tenggorokan.
Anak juga biasanya mengalami demam tinggi selama beberapa hari, mata merah tanpa kotoran, bibir pecah-pecah, ruam kulit, kemerahan pada telapak tangan dan kaki, pembesaran kelenjar leher, hingga bekas suntikan BCG yang kembali memerah. Tidak semua gejala muncul bersamaan, sehingga kerap menimbulkan kebingungan klinis.
"Tidak semua gejala muncul bersamaan. Karena itu, setiap anak dengan demam berkepanjangan harus dipertimbangkan kemungkinan Kawasaki," jelas dr. Najib.
Ia mengungkapkan bahwa bahaya terbesar penyakit ini terletak pada kerusakan arteri koroner yang dapat berkembang menjadi aneurisma, penyempitan pembuluh darah jantung, gangguan irama jantung, hingga serangan jantung pada usia muda.
Dalam sejumlah penelitian bahkan disebutkan bahwa sekitar lima persen penyakit jantung koroner pada orang dewasa muda berkaitan dengan riwayat Kawasaki yang tidak terdiagnosis saat masa kanak-kanak.
Penanganan Kawasaki memerlukan terapi utama berupa imunoglobulin intravena (IVIG) yang dikombinasikan dengan aspirin. Namun biaya pengobatan ini sangat tinggi dan dapat mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah per pasien, sementara pembiayaan kesehatan belum sepenuhnya menanggungnya.
Pada kondisi yang lebih berat, pasien bahkan dapat memerlukan tindakan lanjutan seperti kateterisasi jantung, pemasangan stent, hingga operasi bypass koroner di luar negeri.
"Masa depan anak dengan Kawasaki sangat bergantung pada derajat kerusakan koroner. Karena itu, jangan sampai terlambat," tegasnya.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap pasien dan keluarga, dr. Najib turut menggagas pembentukan yayasan orang tua penyintas Kawasaki yang memberikan dukungan edukasi, pendampingan psikologis, serta bantuan pendanaan.
Menurutnya, kunci utama menekan kematian dan kecacatan akibat penyakit ini adalah peningkatan kesadaran masyarakat serta tenaga kesehatan agar diagnosis dapat ditegakkan sedini mungkin.
"Intinya satu, jangan sampai terlambat. Banyak anak sebenarnya sudah ke dokter, tetapi penyakitnya belum dikenali," ucapnya.
Pada akhirnya, Kawasaki merupakan peradangan pembuluh darah pada anak yang dapat berujung pada kerusakan jantung serius bila tidak segera ditangani.
Meski penyebabnya belum pasti, diagnosis dini dan terapi cepat terbukti mampu menurunkan risiko komplikasi secara signifikan. Dengan penanganan yang tepat waktu, sebagian besar anak dapat pulih dan menjalani kehidupan normal.
"Dengan imunoglobulin dan aspirin yang diberikan tepat waktu, sebagian besar anak bisa sembuh. Masa depan mereka sangat ditentukan oleh kondisi arteri koronernya," pungkasnya. (H-2)





