Kemhan dan Mabes TNI masih menyempurnakan persiapan pasukan untuk dikirim sebagai pasukan perdamaian di Gaza, Palestina. Saat ini, pasukan sudah siap dan bisa dikirim kapan saja.
“Terkait dengan pengiriman pasukan yang terkait dengan Gaza, jadi intinya kita sudah siapkan ya. Mabes TNI, Panglima TNI sudah menyiapkan prajurit kita untuk sewaktu-waktu diberangkatkan. Hanya kita tinggal menunggu perintah, koordinasi, kapan kita untuk berangkat. Intinya kita sudah siap ya,” ucap Kata Wakil Menteri Pertahanan Donny di DPR, Selasa (10/2).
Sementara untuk jumlahnya, Presiden Prabowo Subianto yang akan mengambil keputusan final. Wakil Panglima TNI Jenderal Tandyo Budi Revita mengatakan, keputusan akan diambil akhir Februari ini.
“Pada prinsipnya TNI siap ya berapa pun yang dibutuhkan karena kan sekarang masih dalam proses perundingan,” ucap Tandyo.
“Sampai sekarang kita banyak sudah ada beberapa opsi untuk bisa kita berpartisipasi aktif terhadap perdamaian di Gaza. Secara pastinya menunggu keputusan dari, akhir bulan inilah yang nanti akan ditandatangani langsung oleh Bapak Presiden,” tambahnya.
Tandyo memastikan, personel yang dikirim adalah mereka yang sudah berpengalaman, setidaknya, pernah menjadi bagian dari Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL).
“Saya kira kita sudah punya pengalaman ya, ada UNIFIL yang pernah ke sana, satuan-satuan yang pernah dikirim ke sana, inilah nanti yang akan kita rekrut. Jadi bukan satuan-satuan yang belum pernah tugas ke sana,” ucap Tandyo.
“Kita kalau tidak salah sudah mengirimkan dari tahun 2008 ya, dari 2008 itu kita sudah mengirimkan UNIFIL ke sana sudah berkali-kali, dan orang-orang inilah nanti yang akan kita kirim ke sana. Tentunya dia mempunyai pengalaman dari sisi medan dan bagaimana dia berkomunikasi dengan masyarakat di sana walaupun itu di wilayah Lebanon,” tambahnya.
DPR Minta TNI Batasi Personel yang DikirimSementara itu, Ketua Komisi I, Utut Adianto sebagai mitra kerja Kemhan dan TNI berpesan agar jumlah pasukan tak terlampau banyak.
“Intinya hemat saya, tidak perlu terlalu besar seperti yang 20.000 itu. Tentu kan teman-teman di Kemhan sudah punya ukuran,” ucap Utut.
“Kalau jalur Gaza sempat saya pelajari itu luasnya 45 kilometer persegi, itu lebih kecil sedikit dari Jakarta Pusat. Jadi Jakarta Pusat ini Senayan, Tanah Abang, sampai Cempaka Putih itu, Senen, kurang lebih seperti itu,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan catatannya terkait induk operasi dari pasukan ini. Sebab, pasukan ini nanti akan berada di struktur Board of Peace (BOP), yang notabene bentukan Amerika Serikat (AS).
“Jadi ini tentu leader-nya dugaan saya, saya juga belum mendengar, dugaan saya pasti USA. Yang bisa membuat Israel nurut kan USA,” ucap Utut.
Namun, Utut menilai, langkah pengiriman pasukan perdamaian ini merupakan jalan terbaik menuju perdamaian di Gaza.
“Kalau kita selama ini terima kasih sudah mendukung semua termasuk teman-teman berkali-kali kita melakukan rally, pawai, mendukung Palestina. Ini jalannya, ini teknokratisnya, ini the way-nya untuk membuat itu. Tentu tidak bisa sebebas dan semau yang kita inginkan, ini adalah titik kompromi yang paling memungkinkan,” tandasnya.





