Kain kafan menjadi sumber penghidupan bagi sebagian pedagang pasar tradisional di sejumlah wilayah. Kain kafan banyak dibutuhkan bagi umat muslim, khususnya saat ada yang meninggal dunia.
Meski begitu, para pedagang melihat jumlah pembeli tidak menentu karena kebutuhan masyarakat terhadap perlengkapan pemakaman ini tak dapat diprediksi.
kumparan mengunjungi Pasar Jatinegara Mester, Jakarta, pada 27 Januari lalu. Suasana pasar tampak ramai dengan aktivitas pengunjung yang lalu lalang karena lokasinya berada tepat di samping jalan utama.
Asep Jalaludin (62), pedagang kain kafan di pasar Jatinegara, mengatakan permintaan bergantung pada situasi yang tidak pasti.
"Ya kalo orang meninggal itu kan nggak tentu kan [beli] kapan," kata dia ketika ditemui di lapaknya.
Menurut Asep yang telah berjualan puluhan tahun, jumlah pembeli per bulan tidak bisa dipastikan. "10 orang mah lebih," sebut dia.
Kata Asep, pembelian umumnya dilakukan dalam bentuk paket lengkap. Per paketnya dihargai Rp 750 ribu untuk laki-laki dan Rp 800 ribu untuk kafan perempuan. Isi paketnya berupa kain kafan, kapas, tikar, sabun, dan kapur barus.
Ketika ditanya mengenai pendapatan, ia tidak menampik pernah menyentuh sampai Rp 10 juta.
"Ya kadang-kadang ada, kadang enggak ada (Rp 10 juta per bulan)," katanya.
kumparan juga mengunjungi Pasar Anyar, Kota Bogor, pada 5 Februari, menunjukkan kondisi berbeda. Pasar utama di pusat kota itu dipadati pengunjung, dan di lapak kain kafan tampak ada calon pembeli yang menanyakan produk.
Pedagang bernama Kusna (58) menjual kain kafan dalam bentuk meteran dan paket. "Per meter Rp 12.000," ungkap Kusna ketika ditemui di lapaknya.
Dia menawarkan paket perlengkapan jenazah. Per paket seharga Rp 300 ribu untuk laki-laki dan perempuan, yang isinya kain kafan, dan kapas 1 kilogram.
"Bisa, paketan Rp 300.000. Mending satu paket aja murah, dapet kapasnya sekilo. Komplit itu," ucap Kusna.
Kusna mengaku telah berjualan selama 7 tahun di lokasi tersebut. Namun, seperti pedagang lain, Kusna juga menghadapi ketidakpastian penjualan.
"Nggak nentu ini, kadang banyak, kadang dikit," tutur Kusna.





