EtIndonesia. Seorang mahasiswa jurusan musik melangkah masuk ke ruang latihan. Di atas piano tergeletak sebuah partitur baru.
“Sulitnya luar biasa…” gumamnya pelan.
Dia membalik-balik lembaran partitur itu, dan tiba-tiba kepercayaan dirinya dalam bermain piano terasa jatuh ke titik terendah—seakan terkikis habis.
Sudah tiga bulan berlalu sejak dia mengikuti bimbingan profesor barunya. Dia benar-benar tidak mengerti, mengapa sang profesor seolah sengaja “menyiksanya” dengan cara seperti ini.
Dengan susah payah dia menguatkan diri, lalu mulai bertarung menggunakan sepuluh jarinya—berjuang, berjuang, dan terus berjuang—hingga suara piano menenggelamkan langkah kaki sang profesor yang mendekat dari luar ruang latihan.
Profesor pembimbing itu adalah seorang maestro piano yang sangat terkenal.
Pada hari pertama mengajar, dia menyerahkan sebuah partitur kepada murid barunya.
“Coba mainkan,” katanya singkat.
Tingkat kesulitannya cukup tinggi. Sang murid memainkannya dengan kaku, tersendat-sendat, dan penuh kesalahan.
“Masih belum matang. Pulanglah dan berlatih dengan sungguh-sungguh,” pesan profesor itu di akhir kelas.
Murid tersebut berlatih selama seminggu penuh. Saat pertemuan minggu kedua, dia sudah bersiap memainkan tugasnya. Namun tak disangka, profesor justru memberikan partitur baru—yang tingkat kesulitannya lebih tinggi lagi.
“Coba mainkan,” katanya lagi.
Tugas minggu lalu sama sekali tidak dibahas. Murid itu kembali bergulat dengan teknik yang jauh lebih sulit.
Minggu ketiga, partitur yang lebih sulit lagi muncul. Situasinya pun berulang.
Setiap kali masuk kelas, murid itu selalu “dikalahkan” oleh partitur baru. Dia membawanya pulang untuk berlatih, lalu kembali ke kelas hanya untuk menghadapi tantangan yang tingkat kesulitannya berlipat ganda. Dia sama sekali tidak merasakan kemajuan, seolah latihan minggu sebelumnya tak ada gunanya.
Rasa gelisah, frustrasi, dan putus asa semakin menumpuk.
Suatu hari, profesor masuk ke ruang latihan.
Murid itu tak sanggup lagi menahan perasaannya. Dia harus mempertanyakan, mengapa selama tiga bulan ini dia terus-menerus ditekan dan disiksa secara mental.
Profesor tidak langsung berbicara. dia mengambil partitur pertama—yang paling awal—lalu menyerahkannya kepada murid itu.
“Mainkan,” katanya sambil menatap muridnya dengan pandangan tegas.
Sesuatu yang luar biasa pun terjadi.
Bahkan murid itu sendiri terkejut. Dia mampu memainkan karya tersebut dengan begitu indah, begitu matang, dan begitu sempurna.
Profesor lalu memintanya memainkan partitur minggu kedua. Hasilnya tetap sama—penampilan yang sangat tinggi mutunya.
Usai bermain, murid itu terpaku menatap sang maestro, tak mampu berkata apa-apa.
Profesor itu berkata perlahan: “Jika aku membiarkanmu terus bermain pada bagian yang paling kamu kuasai, mungkin sampai sekarang kamu masih berkutat pada partitur pertama itu. Kamu tidak mungkin mencapai kemampuan seperti hari ini.”
Manusia memang cenderung nyaman menampilkan hal-hal yang sudah dikuasai dan dikenal.
Namun jika kita mau menoleh ke belakang dan menelaah dengan saksama, kita akan tersadar: bukankah tantangan pekerjaan yang datang bertubi-tubi, tekanan lingkungan yang terus meningkat, tanpa kita sadari justru telah membentuk berbagai kemampuan yang kita miliki hari ini? Karena sesungguhnya, manusia memiliki potensi yang tak terbatas.
Di Amerika Serikat, perusahaan General Electric pernah memiliki kisah serupa:
Seorang manajer dipromosikan menjadi wakil presiden karena kinerjanya yang luar biasa. Namun setelah dua bulan lebih, dia langsung dicopot dari jabatannya. Dengan marah, dia menemui Jack Welch, sang CEO, untuk mengajukan protes.
Welch dengan tenang berkata: “Kinerjamu memang sama giatnya seperti saat kamu masih menjadi manajer. Tapi kamu lupa, sekarang kamu adalah wakil presiden.”
Orang yang benar-benar sukses adalah mereka yang mampu terus menyesuaikan kebiasaan dan pola pikirnya untuk menghadapi tantangan yang lebih besar dan lebih sulit. Jika hanya terpaku pada bayang-bayang keberhasilan masa lalu, enggan berubah, dan terus menampilkan apa yang dianggap sebagai “keahlian utama”, maka pada akhirnya seseorang bisa tersingkir oleh zaman.
Pemahaman ini membuat kita lebih siap—bahkan lebih rela—menyambut tantangan yang pasti akan terus datang di masa depan.
Semoga kisah ini menyadarkan kita akan pentingnya terus bertumbuh, dan juga memberi semangat bagi siapa pun yang sedang berjuang untuk maju.
Renungan
Manusia cenderung hidup nyaman di wilayah yang sudah dikenalnya. Jika menemukan sesuatu yang disukai, dia bisa menekuninya tanpa kenal lelah.
Setelah membaca kisah ini, saya teringat perkataan seorang teman: “Banyak orang berhasil bukan karena ingin sukses, tetapi karena keadaan memaksa mereka untuk tidak boleh gagal.”
Bahkan tokoh dalam cerita ini pun “dipaksa” sang profesor hingga akhirnya berhasil.
Tentu saja, dorongan dari luar hanyalah pemicu. Kekuatan sejati tetap berasal dari dalam diri—dari rasa tanggung jawab dan kesadaran akan misi hidup. Tanpa tanggung jawab, sekeras apa pun dorongan dari luar, seseorang tetap tidak akan bergerak.
Malas adalah sifat alami manusia. Berjuang dan bertumbuh adalah misinya.





