Di Indonesia sendiri, belum ditemukan kasus virus nipah pada manusia. Namun, kesamaan faktor ekologis dengan negara terdampak mesti menjadi kewaspadaan.
Dosen Departemen Mikrobiologi FK-KMK UGM, Edwin Widyanto Daniwijaya, menjelaskan tingkat kematian akibat virus nipah sangat dipengaruhi oleh kesiapan sistem kesehatan dan kecepatan penanganan klinis. Pada sejumlah wabah, angka kematian tercatat jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah kasus yang terkonfirmasi.
“Case fatality rate virus Nipah diperkirakan berkisar antara 40 hingga 75 persen, bergantung pada sistem kesehatan dan penanganan klinis,” kata Edwin dikutip dari laman ugm.ac.id, Selasa, 10 Februari 2026.
Selain itu, virus Nipah memiliki kemampuan menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan perburukan klinis yang cepat. Infeksi dapat berkembang menjadi ensefalitis atau peradangan serius pada jaringan otak dengan gejala neurologis yang serius.
Kondisi ini sering disertai penurunan kesadaran dan kejang dalam waktu singkat. Kerusakan neurologis yang terjadi berpotensi berujung pada kematian.
“Virus ini bisa menyerang otak dan memicu penurunan kesadaran, kejang, hingga kematian dalam waktu relatif singkat,” ujar Dokter Spesialis Mikrobiologi RSA UGM itu.
Dia menuturkan gejala awal infeksi virus Nipah kerap tidak khas sehingga sulit dikenali sejak awal. Pada fase awal, keluhan yang muncul menyerupai infeksi virus pada umumnya.
Kondisi ini membuat banyak kasus berpotensi terlambat terdiagnosis secara klinis. Keterlambatan pengenalan penyakit berpengaruh terhadap risiko perburukan.
“Pasien biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, dan nyeri tenggorokan,” papar dia.
Baca Juga :
Cegah Virus Nipah, Warga Diimbau Hindari Buah Rusak dan TerbukaSeiring perjalanan penyakit, gejala dapat berkembang menjadi lebih berat dalam hitungan hari. Pasien bisa mengalami disorientasi, penurunan kesadaran, hingga kejang sebagai tanda keterlibatan sistem saraf.
Bahkan pada sebagian kasus, gangguan pernapasan turut menyertai kondisi tersebut. Edwin menekankan perburukan yang cepat menjadi tantangan dalam penanganan klinis.
“Perjalanan penyakitnya bisa cepat memburuk, sehingga kewaspadaan sejak fase awal sangat penting,” tutur Edwin.
Terkait potensi kemunculan virus Nipah di Indonesia, Edwin mengungkapkan hingga kini belum ditemukan laporan kasus pada manusia. Meski demikian, faktor risiko tetap perlu diperhatikan.
Sebab, Indonesia berada di wilayah ekologi yang serupa dengan negara endemis. Keberadaan reservoir alami virus Nipah di kawasan Asia Tenggara menjadi salah satu aspek penting.
Selain itu, wabah masih tercatat terjadi di sejumlah negara tetangga. “Potensi spillover tetap ada meski risikonya saat ini masih dinilai rendah,” kata dia.
Edwin menuturkan apabila ditemukan pasien dengan gejala yang mengarah ke virus Nipah, rumah sakit rujukan akan mengikuti protokol penanganan penyakit infeksi emerging. Langkah awal meliputi identifikasi kasus berdasarkan riwayat paparan dan perjalanan pasien.
Isolasi segera dilakukan dengan penerapan kewaspadaan standar dan transmisi. Tenaga kesehatan juga diwajibkan menggunakan alat pelindung diri secara lengkap.
“Penanganan awal mencakup isolasi, pelaporan cepat, pemeriksaan laboratorium molekuler, serta terapi suportif intensif,” kata dia.
Ia menekankan Indonesia telah memiliki sistem surveilans penyakit infeksi emerging serta jejaring rumah sakit rujukan di berbagai daerah. Pengalaman menghadapi pandemi covid-19 dan flu burung turut memperkuat kesiapan sistem kesehatan nasional.
Namun, penguatan kapasitas ruang isolasi dan sumber daya manusia masih dibutuhkan di sejumlah wilayah. Upaya kewaspadaan tetap perlu dibarengi edukasi publik yang proporsional.
“Masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap waspada dengan menerapkan langkah pencegahan sederhana,” pesan Edwin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)





