Bisnis.com, BANDA ACEH — Kolaborasi pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh mengemuka dalam upaya menjaga keberlangsungan tradisi Meugang menjelang Ramadan 1447 Hijriah, terutama di tengah kondisi Aceh yang masih menghadapi dampak bencana banjir dan longsor.
Sinergi tersebut tercermin dalam kunjungan pimpinan dan anggota MPR RI ke Aceh yang sekaligus menjadi momentum penyaluran bantuan serta pembahasan percepatan program pemulihan sosial dan ekonomi.
Pemerintah pusat dan daerah menilai tradisi Meugang memiliki nilai sosial dan budaya yang harus tetap terjaga agar masyarakat Aceh dapat menyambut Ramadan dengan layak.
“Kami harap dana bantuan dari Kemensos dipercepat, di antaranya jadup bagi yang tinggal di huntara, dana perabotan, dan dana pemulihan ekonomi. Harapan kami bisa secepat mungkin, kalau bisa sebelum meugang puasa,” kata Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah pada media, Selasa (10/2/2026).
Permintaan tersebut disampaikan Fadhlullah saat menerima kunjungan Ketua MPR RI Ahmad Muzani beserta jajaran wakil ketua dan anggota MPR RI di Kantor Gubernur Aceh, Selasa (10/2/2026). Dalam pertemuan itu, Fadhlullah menekankan bahwa bencana di Aceh telah berlangsung lebih dari dua bulan dan hingga kini masih terdapat sekitar 17 ribu kepala keluarga atau 69 ribu jiwa yang mengungsi.
Selain bantuan sosial, Pemerintah Aceh juga meminta percepatan realisasi bantuan 1.455 ekor sapi Meugang yang sebelumnya dijanjikan Presiden. Bantuan tersebut dinilai penting untuk memastikan ketersediaan daging bagi masyarakat, terutama korban bencana, dalam menyambut Ramadan.
Baca Juga
- Jelang Ramadan, Ini Jadwal Kegiatan Tradisi Gebyuran Bustaman 2026 di Semarang
- Mengenal Petang Megang, Tradisi Menyambut Ramadan di Pekanbaru
- 4 Tradisi Masyarakat Yogyakarta untuk Sambut Bulan Ramadhan
Di sisi lain, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian menyampaikan bahwa sejak pembentukan satuan tugas rehabilitasi dan rekonstruksi pada 8 Januari 2026, sejumlah sektor di Aceh mulai pulih, mulai dari pemerintahan, layanan publik, pendidikan, akses darat, hingga aktivitas ekonomi dan sosial. Meski demikian, pemerintah pusat masih mencatat sekitar 74 ribu pengungsi di Aceh sehingga percepatan pemulihan tetap menjadi prioritas.
Tito menegaskan percepatan penyaluran uang pengganti bagi rumah rusak ringan, sedang, dan berat menjadi solusi utama. Ia juga meminta pemerintah daerah segera menyerahkan data penerima yang valid, mengingat ketepatan data menjadi kunci dalam penyaluran bantuan.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyatakan kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut dari pembicaraannya dengan Gubernur Aceh Muzakir Manaf terkait penanganan bencana besar di Aceh. Dia menegaskan bahwa berbagai aspirasi Pemerintah Aceh telah disampaikan kepada Presiden, termasuk keterbatasan keuangan daerah dalam menangani hunian sementara dan keberlanjutan pekerjaan masyarakat terdampak.
Dalam kunjungan itu, MPR RI juga menyerahkan 15 ribu paket sembako serta paket ibadah untuk membantu masyarakat Aceh menyambut bulan puasa. Bantuan tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas kebutuhan pokok di tengah meningkatnya permintaan menjelang Ramadan.
Budayawan Aceh Tarmizi A. Hamid atau Cek Midi menegaskan bahwa Meugang bukan sekadar tradisi makan daging, melainkan identitas sosial masyarakat Aceh yang sarat makna kebersamaan.
Dia menilai kehadiran daging saat Meugang sangat sakral karena berkaitan dengan tradisi berbagi kepada fakir miskin, penyandang disabilitas, dan masyarakat kurang mampu.
“Meugang kalau tidak ada sama sekali sangat-sangat melukai hati masyarakat. Maka pemerintah di sini sebagai pemimpin haruslah memperhatikan hal-hal sosial seperti ini,” ujar Cek Midi ketika wawancara pada Bisnis, Kamis (22/1/2026).
Menurutnya, relevansi nilai sosial Meugang semakin kuat pada tahun ini karena Aceh baru saja dilanda bencana yang berdampak pada kehidupan masyarakat dan sektor peternakan lokal.
Dalam kondisi tersebut, kolaborasi pemerintah pusat dan daerah dinilai menjadi kunci agar semangat berbagi dan kebersamaan dalam tradisi Meugang tetap terjaga, sehingga seluruh lapisan masyarakat Aceh dapat menyambut Ramadan 1447 Hijriah dengan penuh kegembiraan dan harapan.





